Jakarta, CNBC Indonesia - Stasiun LRT Jabodebek Pancoran kini tak lagi mencantumkan nama Bank BJB di stasiunnya. Hal ini karena kontrak penamaan stasiun (naming rights) sudah berakhir.
Manager Public Relations LRT Jabodebek Radhitya Mardika Putra mengatakan perubahan nama Stasiun Pancoran dilakukan secara bertahap dan sudah dimulai Jumat (9/1/2026) hari ini.
"Terkait hak penamaan Stasiun Pancoran, saat ini perjanjian dengan pihak bersangkutan sudah selesai. Seiring berakhirnya masa kerja sama tersebut, penamaan Stasiun Pancoran kembali diberlakukan," kata Radhitya saat dihubungi CNBC Indonesia, Jumat (9/1/2026).
Ketika ditanya apakah sudah ada perusahaan lain, Radhitya belum bisa membocorkan nama perusahaan pengganti di Stasiun Pancoran. Hal ini dikarenakan masih dalam tahap administrasi.
"Terkait hal tersebut, akan diinfokan lebih lanjut karena masih dalam tahap administrasi," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penyesuaian penamaan stasiun ini tidak berdampak pada operasional maupun kualitas layanan LRT Jabodebek.
"Penyesuaian penamaan ini merupakan bagian dari mekanisme kontraktual yang berlaku dan tidak memengaruhi operasional maupun kualitas layanan kepada pengguna LRT Jabodebek," jelasnya.
Sebelumnya pada 29 Desember lalu, naming rights di Stasiun LRT Dukuh Atas juga resmi berganti, dari sebelumnya ada tulisan Stasiun Dukuh Atas BNI, kini kembali menjadi Stasiun Dukuh Atas.
Stasiun LRT Pancoran. (Dok. Detikcom/Andhika Prasetia)
Radhitya menjelaskan LRT Jabodebek membuka peluang kerja sama bagi perusahaan dan pelaku usaha, di mana salah satunya yakni melalui naming rights stasiun.
Program kerja sama komersial ini dirancang tidak semata untuk tujuan promosi, tetapi juga sebagai bagian dari strategi bersama dalam meningkatkan kualitas layanan transportasi publik di Indonesia.
"Melalui pendekatan kolaboratif, LRT Jabodebek mengajak mitra bisnis untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat, menjadikan stasiun dan kereta tidak hanya sebagai ruang transit, tetapi juga sebagai titik layanan yang nyaman, informatif, dan bernilai tambah," ucapnya.
Sementara itu terkait harga, pihaknya tidak menyebut harga pembelian hak penamaan tersebut.
Namun, LRT Jabodebek pernah mengungkapkan harga tertinggi yang ditawarkan ke perusahaan lain mencapai Rp 12 miliar. Nilai ini masih bisa berubah tergantung kesepakatan antar kedua belah pihak.
Terkait dengan potensi stasiun lainnya yang bakal mendapatkan naming rights, pihaknya sudah menjajaki kerja sama dengan pihak tertentu. Adapun potensinya yakni di Stasiun Kuningan dengan Visa.
Namun, KAI saat ini sedang melakukan penyesuaian terkait informasi perjalanan, peta layanan, dan sistem secara bertahap.
"Hal ini dilakukan untuk memastikan kejelasan informasi bagi pengguna LRT Jabodebek," terangnya.
(dce)



