Warga Aceh Dapat Huntara, Wamendagri Minta Pemda Tak Lepas Tangan

bisnis.com
14 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MEDAN - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang tak lepas tangan terhadap warga terdampak bencana yang resmi menghuni hunian sementara (huntara) per Kamis (8/1/2026).

Sebelumnya, Pemerintah melalui Danantara telah menyelesaikan 600 unit huntara bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh Tamiang. Prosesi serah terima huntara dilakukan oleh Wamendagri bersama Managing Director Stakeholder Management Danantara, Rohan Hafas, kepada Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi pada Kamis petang.

"Kami titip kepada Pak Bupati, karena huntara ini sudah diserahterimakan, Pemerintah Daerah yang memastikan kebutuhan masyarakat seperti air, listrik, hingga transportasi terlayani dengan baik," kata Bima, Kamis (8/1/2026).

Pembangunan huntara merupakan dukungan percepatan pemulihan pascabencana melalui penyediaan hunian yang layak dan aman bagi masyarakat terdampak.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Berlokasi di pinggir jalan lintas Banda Aceh-Medan Desa Tanjung Seumantoh Kecamatan Karang Baru, hunian berjumlah 600 unit ini menjadi huntara pertama yang didirikan pemerintah melalui Danantara dan BUMN Karya.

Bima mengatakan Pemda perlu mendesain rencana tata ruang wilayah (RTRW) di kawasan permukiman baru ini. Termasuk memastikan kebutuhan harian masyarakat seperti listrik dan air tetap terlayani dengan baik.

Baca Juga

  • Danantara Serahkan 600 Unit Huntara untuk Warga Aceh Tamiang
  • PU Kebut Konstruksi Huntara Usai Bencana Sumatra, Begini Progresnya
  • Adhi Karya Rampungkan Huntara Tahap 1 di Aceh Tamiang

"Jadi, kepala desanya nanti tetap memonitor di sini, tidak lepas tangan," pesan Bima.

Managing Director Stakeholder Management Danantara, Rohan Hafas, menyebut area huntara di Aceh Tamiang ini memenuhi syarat untuk menjadi sebuah wilayah baru.

Huntara dilengkapi dengan akses listrik, air bersih, jaringan internet melalui wifi; hingga taman bermain anak dan posko layanan kesehatan.

Selain ruang-ruang utama sebanyak 600 unit, huntara dilengkapi dengan 120 toilet dengan perbandingan penggunaan 1 toilet untuk 5 unit; dapur umum sebanyak 14 unit; tempat cuci 14 unit; dan musola atau ruang komunal lain sebanyak 14 unit.

"Sebetulnya sudah memenuhi syarat untuk sebuah wilayah baru atau pemekaran baru. Kami harap masyarakat mampu beradaptasi, karena lokasi-lokasi seperti misalnya sekolah yang sebelumnya ada di tempat lain sekarang ditempatkan di sini," ujar Rohan.

Terkait batas waktu masyarakat tinggal di huntara, Rohan menyebut hal itu tergantung kebijakan pemerintah daerah. Dia mengatakan masyarakat yang tinggal di huntara hanya dapat menikmati akses gratis ke listrik, wifi, maupun air selama 6 (enam) bulan.

"Batas waktu [tinggal di huntara], tergantung Pak Bupati karena kami membangun ini sebagai hunian Danantara yang sementara. Nanti tergantung keadaan masyarakatnya," tambah Rohan.

Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi mengatakan pemindahan masyarakat dari tenda pengungsian ke huntara dilakukan secara bertahap.

Pada prosesi serah terima perdana, Kamis (8/1/2026), warga yang rumahnya rusak berat di Desa Sukajadi yang menjadi penghuni pertama huntara dari Danantara.

"Kami utamakan masyarakat yang rumahnya hilang dan rusak berat. Datanya sudah ada, jadi yang pertama ini untuk warga Kampung Sukajadi dulu, ada 154 KK. Nanti semua akan diakomodasi bertahap," kata Armia.

Armia menjelaskan potensi huntara menjadi hunian tetap (huntap) masih akan melihat kondisi masyarakat ke depan. Dia menyebut Pemkab akan terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam pemulihan pascabencana.

"Kalau masyarakat sudah betah di sini, saya rasa memang baiknya tidak usah pindah lagi. Nanti kami bantu sediakan aksesnya juga misal transportasi sekolah anak. Tapi itu kami tanya lagi ke masyarakat," jelas Armia.

Misdawati, warga Desa Sukajadi yang rumahnya luluh lantak dihantam banjir mengaku sangat senang dapat tinggal di huntara setelah lebih dari satu bulan dia dan keluarganya tidur di tenda pengungsian.

Dia menceritakan kejadian saat air sungai meluap setelah hujan tak henti-henti di wilayah Aceh Tamiang. Tak biasanya, air bah datang cepat dengan membawa serta batang-batang pohon melewati sungai dan menghantam permukiman di sekitar sungai. Rumah Misdawati dan ratusan warga lainnya yang berjarak tak jauh dari pinggir sungai tak terselamatkan.

"Sudah tidak ada tempat tinggal lagi. Kami sangat bersyukur dan berterima kasih karena telah diberi huntara ini. Sudah satu bulan lebih sejak banjir, saya, suami, dan anak-anak tidur di tenda. Di huntara kan lebih nyaman karena listrik, air, bahkan tersedia," kata Misdawati.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Intip Capaian Kinerja Ekspor Motor Indonesia 5 Tahun Terakhir
• 11 jam lalubisnis.com
thumb
Prediksi Madura United Vs PSIM di BRI Super League: Ambisi Tutup Putaran Pertama dengan Manis
• 2 jam lalubola.com
thumb
Media Internasional Berbicara Venezuela, Suriah, dan Palestina yang Saling Berkaitan
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hakim Tolak Penangguhan Penahanan Delpedro Marhaen dkk, Sidang Kasus Dugaan Penghasutan Tetap Lanjut
• 23 jam lalumerahputih.com
thumb
Wapres AS JD Vance Respons Demo Buntut Penembakan Wanita oleh Petugas Imigrasi
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.