Pantau - Negara-negara Eropa mendorong penguatan kehadiran NATO di kawasan Arktik untuk meyakinkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Washington tidak perlu menguasai Greenland demi alasan keamanan.
Dorongan tersebut disampaikan dalam pertemuan tertutup para duta besar NATO di Brussel pada Kamis lalu, sebagaimana diungkapkan oleh tiga diplomat NATO kepada Politico.
Pertemuan tersebut membahas berbagai opsi, termasuk peningkatan belanja pertahanan Arktik, pengerahan peralatan militer tambahan, serta penambahan latihan militer dan pemanfaatan kemampuan intelijen untuk meningkatkan pengawasan kawasan.
Salah satu diplomat menyebutkan bahwa pertemuan yang dihadiri oleh 32 utusan aliansi itu berlangsung dalam suasana "produktif" dan "konstruktif".
Ambisi Trump Kuasai Greenland Tuai KecamanPada 3 Januari, Presiden Trump mengatakan kepada The Atlantic bahwa Amerika Serikat "mutlak" membutuhkan Greenland, dengan alasan pulau tersebut "dikepung kapal Rusia dan China".
Trump juga secara berulang kali menyatakan bahwa Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat, dengan menekankan pentingnya pulau itu bagi keamanan nasional dan pertahanan dunia bebas dari pengaruh China dan Rusia.
Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Denmark dan Greenland.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, meminta Trump menghentikan ancaman aneksasi terhadap Greenland, yang merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark.
“Greenland tidak dijual,” ungkap Mute Egede, mantan Perdana Menteri Greenland.
Duta Besar Denmark untuk AS, Jesper Moller Sorensen, juga merespons unggahan Katie Miller—istri Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller—yang menampilkan peta Greenland bercorak bendera Amerika dengan keterangan "SEGERA" di platform X pada 4 Januari.
“Kami mengharapkan penghormatan terhadap keutuhan wilayah Kerajaan Denmark,” ungkap Sorensen.
Perdana Menteri Greenland saat ini, Jens-Frederik Nielsen, menyebut gambar tersebut "tidak sopan".
Denmark Peringatkan AS: Hormati Wilayah KamiPenunjukan Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk Greenland oleh Trump pada Desember lalu semakin memperuncing ketegangan.
Landry kemudian menegaskan kembali keinginan Amerika Serikat untuk menjadikan Greenland bagian dari wilayahnya.
Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menyatakan keterkejutannya dan mengecam pernyataan Landry tersebut.
Perdana Menteri Frederiksen bersama Nielsen memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengambilalih Greenland, sambil menuntut penghormatan terhadap keutuhan wilayah antara Denmark dan Greenland.
Greenland, yang merupakan bekas koloni Denmark hingga tahun 1953, memperoleh status otonomi pada tahun 2009.
Pulau terbesar di dunia ini tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark, namun memiliki kewenangan untuk mengatur pemerintahan sendiri dan menetapkan kebijakan domestik.




