Surabaya (beritajatim.com)- Di tengah rutinitas ekonomi masyarakat Indonesia, terdapat fakta menarik yang jarang disadari. Sejumlah barang yang sehari-hari mudah ditemukan dan dibeli dengan harga terjangkau di dalam negeri, ternyata memiliki nilai jual tinggi ketika berada di luar negeri. Perbedaan kondisi geografis, iklim, serta kebiasaan konsumsi membuat barang-barang tersebut menjadi sesuatu yang langka dan bernilai lebih di negara lain.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan persepsi nilai antara pasar lokal dan global. Apa yang dianggap biasa, bahkan kerap diabaikan di Indonesia, justru dipandang unik dan eksklusif oleh masyarakat luar negeri. Situasi tersebut membuka mata bahwa kekayaan alam dan produk lokal Indonesia memiliki potensi besar di kancah internasional. Tak hanya mencerminkan peluang ekonomi, hal ini juga menjadi gambaran bagaimana identitas dan sumber daya lokal dapat memperoleh pengakuan lebih luas ketika dilihat dari sudut pandang global.
Daun pisang
Daun pisang di Indonesia mudah ditemukan dan harganya relatif murah karena tumbuh melimpah di berbagai daerah. Bahan ini sering dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan tradisional dan alas hidangan sehari-hari. Berbeda di luar negeri, daun pisang tergolong langka karena tanaman pisang tidak tumbuh di semua wilayah. Kondisi tersebut membuat daun pisang harus diimpor dan dijual dengan harga lebih mahal. Permintaannya tinggi, terutama untuk kebutuhan kuliner dan tren penggunaan bahan alami yang ramah lingkungan.
Batang kayu
Batang kayu di Indonesia masih mudah diperoleh dan kerap dianggap sebagai bahan bakar tradisional dengan harga terjangkau. Di sejumlah daerah, kayu bakar bahkan digunakan secara turun-temurun untuk memasak atau kebutuhan rumah tangga. Namun, di luar negeri batang kayu justru menjadi komoditas penting untuk sistem pemanas ruangan. Negara-negara beriklim dingin sangat bergantung pada kayu bakar saat musim dingin tiba. Karena kebutuhan tinggi dan ketersediaan terbatas, batang kayu pemanas dijual dengan harga mahal dan banyak dicari.
Arang Kelapa
Arang kelapa di Indonesia mudah didapat karena bahan bakunya melimpah dari hasil perkebunan. Produk ini sering digunakan untuk memasak atau keperluan rumahan dengan harga terjangkau. Di luar negeri, arang kelapa sangat diminati karena menghasilkan panas stabil dan minim asap. Banyak digunakan untuk barbeque dan shisha. Tingginya permintaan membuat harganya jauh lebih mahal dibanding di dalam negeri.
Rempah-rempah Tradisional
Indonesia dikenal sebagai penghasil berbagai rempah seperti cengkeh, pala, dan kayu manis. Di pasar lokal, rempah-rempah ini masih bisa dibeli dengan harga relatif murah. Berbeda di luar negeri, rempah asli Indonesia dianggap premium karena aroma dan kualitasnya. Rempah tersebut banyak digunakan dalam industri kuliner dan kesehatan. Nilai jualnya pun meningkat tajam di pasar internasional.
Serat Kelapa
Serat kelapa di Indonesia sering dianggap limbah dan bernilai rendah. Padahal, bahan ini dapat diolah menjadi media tanam, keset, hingga bahan industri. Di luar negeri, coco fiber sangat diminati karena ramah lingkungan. Produk ini digunakan dalam pertanian modern dan hortikultura. Akibatnya, serat kelapa memiliki harga jual yang cukup tinggi.
Kerang dan Cangkang Laut
Di wilayah pesisir Indonesia, kerang dan cangkang laut mudah ditemukan dengan harga murah. Banyak masyarakat menganggapnya hanya sebagai hiasan sederhana. Di luar negeri, kerang laut tropis dinilai eksotis dan langka. Cangkang ini digunakan untuk dekorasi, kerajinan, hingga koleksi. Nilainya pun bisa berlipat ganda dibanding harga lokal.
Fenomena barang murah di Indonesia namun mahal di luar negeri menunjukkan besarnya potensi sumber daya lokal yang belum sepenuhnya disadari. Perbedaan iklim, budaya, dan kebutuhan membuat barang-barang sederhana memiliki nilai tinggi di pasar global. Hal ini menjadi peluang besar bagi pelaku usaha dan masyarakat untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan dan pemasaran yang tepat. Dengan pengelolaan yang baik, produk lokal tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga membawa identitas Indonesia ke kancah internasional. [Erlina Damayanti]



