Pantau - Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), Simon Stiell, menyatakan bahwa keputusan Amerika Serikat untuk keluar dari perjanjian iklim global akan menurunkan keamanan dan kemakmuran negara tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani memorandum pada 7 Januari yang berisi rencana penarikan diri dari 66 organisasi internasional, termasuk UNFCCC.
Langkah tersebut dipandang sebagai bentuk penarikan diri dari kepemimpinan global, kerja sama iklim, dan ilmu pengetahuan yang selama ini menjadi bagian penting dalam agenda dunia menghadapi perubahan iklim.
Dampak Langsung bagi Ekonomi dan Kehidupan Warga ASSimon Stiell mengingatkan bahwa keputusan mundur dari UNFCCC dapat menimbulkan beban ekonomi yang besar bagi rumah tangga dan bisnis di Amerika Serikat.
"Ini berarti energi, makanan, transportasi, dan asuransi yang semakin tidak terjangkau bagi rumah tangga dan bisnis Amerika, seiring energi terbarukan menjadi semakin murah dibanding bahan bakar fosil, seiring bencana yang dipicu iklim menghantam tanaman, bisnis, dan infrastruktur Amerika dengan lebih keras setiap tahunnya, dan seiring volatilitas minyak, batu bara, dan gas memicu lebih banyak konflik, ketidakstabilan regional, dan migrasi paksa," ungkapnya.
Ia juga menyoroti bahwa kondisi iklim ekstrem seperti kebakaran hutan, banjir, badai, dan kekeringan akan semakin sering dan parah, yang akan memperburuk standar hidup warga AS.
"Di saat semua negara lain melangkah maju bersama, langkah mundur terbaru dari kepemimpinan global, kerja sama iklim, dan ilmu pengetahuan ini hanya akan merugikan ekonomi, pekerjaan, dan standar hidup AS, seiring kebakaran hutan, banjir, badai dahsyat, dan kekeringan menjadi semakin parah," ia mengungkapkan.
Risiko Kehilangan Lapangan Kerja dan Ketertinggalan InvestasiSelain itu, Stiell juga memperingatkan bahwa keputusan tersebut berisiko mengurangi lapangan pekerjaan, khususnya di sektor manufaktur dan energi bersih.
"Setiap perekonomian besar lainnya meningkatkan investasi energi bersihnya, yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan keamanan energi," ungkapnya.
Dengan tidak ikut serta dalam kolaborasi global, AS terancam tertinggal dalam transisi energi dan teknologi bersih yang tengah berkembang pesat di berbagai negara.
Langkah tersebut dinilai bertentangan dengan tren global yang sedang mengarah pada pembangunan berkelanjutan dan pengurangan emisi karbon secara signifikan.



