Rak-rak kaca berderet rapi, memajang mug, kaus, jaket, tumbler, gantungan kunci, hingga set cangkir. Di salah satu sudut, jam dinding berlogo Istana Kepresidenan Republik Indonesia tergantung sejajar. Di rak lain, stiker-stiker kecil bergambar Istana tersusun dalam kemasan bening.
Benda-benda itu tampak sederhana, tetapi satu penanda membuatnya berbeda dari suvenir pada umumnya. Logo Istana Kepresidenan Republik Indonesia tertera jelas, sebagian lainnya bergambar Garuda.
Di toko suvenir yang berada di dalam kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, kenangan dari jantung negara diperjualbelikan dan bisa dibawa pulang. Harganya pun beragam dan tidak menguras kantong.
Stiker menjadi suvenir paling terjangkau yang dibanderol mulai dari Rp 15.000. Kalender tahunan dijual seharga Rp 50.000. Jam dinding berlogo Istana Kepresidenan dilepas dengan harga sekitar Rp 350.000. Sementara maket miniatur Istana menjadi produk bernilai paling tinggi yang dibanderol hingga Rp 1.000.000.
Bagi sebagian orang, berkunjung ke kawasan Istana Kepresidenan rasanya belum lengkap tanpa membawa suvenir. Sebuah penanda pernah singgah di pusat kekuasaan meski hanya berupa stiker atau kaus. Menariknya, pengalaman membawa pulang cendera mata dari Istana tidak hanya menjadi hak tamu negara atau mereka yang memiliki agenda resmi. Masyarakat umum pun dapat membelinya.
Di kawasan Istana Kepresidenan, terdapat dua toko suvenir yang dapat diakses publik. Dua ruangan yang kerap luput dari perhatian diam-diam menjadi tujuan banyak pengunjung, terutama mereka yang datang dari luar daerah dan ingin membawa oleh-oleh yang berbeda dari biasanya.
Toko suvenir pertama berada persis setelah pos masuk pemeriksaan pengunjung di Pintu Majapahit Kementerian Sekretariat Negara. Di tepi jalan, sebuah penanda arah bertuliskan toko suvenir terpasang di sisi kiri, bersebelahan dengan bangunan toko. Penanda sederhana itu menjadi petunjuk bagi pengunjung yang baru pertama kali memasuki kawasan Istana.
Pintu kacanya tampak biasa, tanpa papan nama mencolok. Namun, begitu melangkah masuk, pengunjung langsung disambut etalase berisi cendera mata bernuansa kepresidenan, mulai dari stiker, kaus, tumbler, jam dinding, hingga payung yang tertata rapi di balik rak kaca. Toko ini dikelola oleh Dharma Wanita Kementerian Sekretariat Negara dan hanya melayani pembayaran nontunai melalui QRIS.
Satu toko lainnya berada lebih ke dalam kompleks, persisnya di sebelah kanan pintu kaca yang menjadi akses menuju Istana Negara dan Istana Merdeka. Toko suvenir ini dikelola oleh Dharma Wanita Sekretariat Presiden dengan metode pembayaran lebih fleksibel, bisa tunai dan nontunai. Barang-barang yang dijual di kedua toko tidak selalu sama dan cenderung saling melengkapi.
Kedua toko suvenir tersebut buka pada hari kerja, Senin hingga Jumat, pukul 08.00-15.30 WIB, serta tutup pada akhir pekan dan hari libur nasional. Semua penjualan dilakukan secara langsung di lokasi, tidak ada layanan penjualan daring atau lokapasar.
Bagi masyarakat yang belum pernah menerima undangan resmi ke Istana, tak perlu berkecil hati. Akses ke toko-toko suvenir Istana Kepresidenan tetap terbuka bagi publik sepanjang mengikuti prosedur keamanan yang berlaku.
Pengunjung masuk melalui Pintu Majapahit Kementerian Sekretariat Negara lalu melewati pos pengamanan yang dijaga oleh Pasukan Pengamanan Presiden. Identitas, barang bawaan, dan pakaian bakal diperiksa dan dipastikan sesuai ketentuan. Setelah itu, pengunjung diminta menukar KTP elektronik dengan kartu tamu.
Prosedur berlapis itu menjadi bagian dari pengalaman tersendiri bagi pengunjung. Untuk membeli selembar stiker atau sebuah kaus, seseorang perlu lebih dulu melewati gerbang dan aturan yang sama dengan para tamu negara.
Bagi Tommy Zakaria, karyawan swasta di Jakarta, toko suvenir Istana adalah tujuan yang nyaris selalu didatangi menjelang mudik Lebaran. Ia pertama kali mengetahui keberadaan toko tersebut dari cerita seorang teman kantor. Awalnya, Tommy mengira cendera mata bernuansa kepresidenan hanya bisa dibeli oleh tamu negara atau mereka yang memiliki undangan resmi.
Sejak itu, menjelang libur Lebaran, Tommy hampir selalu menyempatkan diri singgah ke toko suvenir Istana. ”Biasanya saya ke sini sebelum pulang mudik,” katanya, Kamis (8/1/2026).
Suvenir dari Istana telah menjadi bagian dari ritual pulang kampungnya. Keluarga di kampung halaman sudah terbiasa menunggu oleh-oleh khas tersebut. Bahkan, Tommy kerap sengaja membelikan cendera mata bagi ketua RT, ketua RW, hingga lurah di kampungnya. Menurut dia, para pemangku jabatan di tingkat paling bawah itu selalu tampak bangga ketika mengenakan kaus atau topi berlogo Istana Kepresidenan.
Bagi Tommy, atribut sederhana itu memiliki makna simbolik. Ia mewakili kedekatan dengan negara meski hanya dalam bentuk stiker atau pakaian sehari-hari. Kebanggaan itu muncul bukan karena nilai barangnya, melainkan karena simbol yang melekat padanya.
Jika Tommy memaknai suvenir Istana sebagai bagian dari ritual pulang kampung dan relasi sosial di daerah, pengalaman berbeda datang dari Intan, seorang aparatur sipil negara yang bekerja di sekitar kawasan Istana Kenegaraan. Intan singgah ke toko suvenir setelah menyeruput secangkir kopi di Merdeka Lounge.
Seusai ngopi dan berbincang singkat dengan rekan-rekannya, ia berjalan menuju toko suvenir di dekat gerbang Jalan Majapahit. Di dalam toko, Intan memilih sebuah kaus berlogo Istana Kepresidenan, tumbler, dan kalender tahunan.
Barang-barang tersebut sengaja ia beli sebagai buah tangan bagi temannya dari daerah yang sedang berkunjung ke Jakarta dan akan datang ke kantor pusat tempat Intan bekerja. Bagi Intan, suvenir dari Istana terasa unik, terbatas, dan memberi kesan tersendiri bagi orang daerah yang datang ke Jakarta.
Ia menilai, keterbatasan akses justru menjadi nilai tambah. Suvenir Istana tidak dijual bebas dan mengharuskan pembelinya datang langsung, melewati prosedur yang berlaku. Oleh karena itu, hadiah tersebut terasa lebih personal dan berkesan.
Sebagai ASN yang sehari-hari bekerja di sekitar Istana, Intan mengaku tidak selalu membeli suvenir untuk dirinya sendiri. Namun, setiap kali ada rekan atau tamu dari daerah yang datang ke Jakarta, toko suvenir Istana hampir selalu terlintas sebagai pilihan. ”Suvenir dari Istana ini sangat khas sehingga menjadi berkesan bagi teman-teman dari daerah,” ucapnya.
Sementara itu, Hasna, anggota staf Dharma Wanita Kementerian Sekretariat Negara, mengatakan, denyut toko suvenir sangat bergantung pada agenda yang berlangsung di lingkungan Istana Kepresidenan. ”Biasanya ramai kalau ada rombongan pejabat daerah datang ke Istana,” ujarnya.
Dalam kunjungan resmi, rombongan kerap datang menggunakan beberapa bus yang terparkir di sekitar toko suvenir dekat gerbang. Para anggota rombongan, baik pejabat maupun pendamping, hampir selalu menyempatkan diri membeli cendera mata sebagai penanda kunjungan
”Mereka hampir pasti beli. Kadang rombongannya satu bus, bahkan bisa lebih,” kata Hasna.
Keramaian serupa juga terjadi setiap 17 Agustus. Pada peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan, toko suvenir membuka stan khusus di depan halaman Istana Merdeka. Meski para peserta upacara telah menerima goodie bag resmi, banyak di antara mereka tetap membeli pernik khas Istana.
”Kalau suvenir bisa dipilih sendiri, jadi lebih personal,” ujar Hasna.
Menurut Hasna, setiap desain suvenir harus melalui persetujuan pihak Istana agar penggunaan simbol negara tetap sesuai etika dan tidak disalahgunakan. Penjualan yang dibatasi hanya di lingkungan Istana justru memberi nilai lebih bagi pengunjung. Bukan sekadar soal eksklusivitas, melainkan juga kehati-hatian menjaga simbol negara.
Ia menuturkan, pengunjung toko suvenir Istana datang dari beragam latar belakang, mulai dari pegawai swasta, aparatur sipil negara, hingga rombongan pejabat daerah yang sedang berkunjung ke Jakarta. Tidak ada pembatasan jumlah pembelian selama stok tersedia sehingga pengunjung bebas memilih suvenir sesuai kebutuhan.
Meski memuat logo dan simbol Istana Kepresidenan, semua suvenir tersebut boleh digunakan oleh masyarakat umum dan tidak dibatasi penggunaannya. Jenis dan desain barang pun tidak selalu sama, sebagian diperbarui secara berkala sesuai dengan kekhasan Presiden yang berkuasa.
Keberadaan toko suvenir di kawasan Istana sejatinya berakar dari upaya membuka Istana kepada masyarakat. Menjelang pelaksanaan program Istana untuk Rakyat (Istura) pada Mei 2008, Sekretariat Negara memugar sejumlah fasilitas untuk menyambut masyarakat Indonesia yang ingin mengunjungi Istana Presiden.
Pada 23 Mei 2008, toko cendera mata dan kantin Sekretariat Negara resmi dibuka. Sejak awal, toko tersebut tidak semata dirancang sebagai ruang jual beli, melainkan sebagai ruang singgah bagi pengunjung sebelum memasuki kawasan inti Istana. Di tempat inilah masyarakat mendaftar kunjungan; menitipkan barang pribadi seperti kamera dan tas; sekaligus membeli cendera mata sebagai kenang-kenangan.
Pada masa awal pembukaannya, beragam suvenir yang dijual mencerminkan semangat keterbukaan itu. Kerajinan tangan, selendang batik, tas anyaman, aksesori buatan tangan, kaus, mug, topi, rompi, dan jaket berlogo kepresidenan tersedia bagi masyarakat. Harga pun dibuat terjangkau agar siapa pun bisa membawa pulang simbol negara dalam bentuk yang paling sederhana.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi saat ditemui di Jakarta, akhir Desember 2025, tidak memungkiri bahwa Istana tetap terbuka untuk rakyat kendati tidak diformalkan melalui program seperti Istura. Toko suvenir sengaja dibuka untuk umum agar publik bisa berkunjung, menikmati nuansa tempat Presiden bekerja, serta membawa pulang bagian kecil dari Istana.
Praktik menghadirkan suvenir Istana pun bukan hanya di Indonesia. Di sejumlah negara, produksi benda-benda kecil yang mempertemukan simbol kekuasaan dengan masyarakat juga dilakukan, bahkan menjadi tradisi kenegaraan.
Di Inggris, misalnya Buckingham Palace, Windsor Castle, dan Holyroodhouse, menyediakan toko suvenir resmi kerajaan yang menjual berbagai jenis cendera mata, seperti mug dan replika karya seni. Toko suvenir yang menjual berbagai buku seni, replika artefak, dan perhiasan bertema sejarah juga ada di Istana Versailles, Perancis. Begitu pula di Korea Selatan, toko suvenir hadir di kompleks Istana Gyeongbokgung sebagai salah satu sumber untuk memahami simbol dan sejarah ”Negeri Gingseng” itu.
Di beberapa negara lain, toko suvenir tidak ditempatkan di ring satu pemerintahan atau kantor pemimpin negara. Sekalipun demikian, tempat berbagai suvenir resmi dijual tetap disediakan untuk mengedukasi sekaligus merawat simbol-simbol kepresidenan. Amerika Serikat, misalnya, menjual suvenir resmi melalui White House Historical Association yang berada di luar kawasan inti kantor Presiden Amerika Serikat atau Gedung Putih. Begitu juga Jepang yang menyediakan toko suvenir di taman dan museum di sekitar Istana Kekaisaran.
Kata suvenir yang diserap dari bahasa Inggris pun sejatinya memiliki sejarah panjang. Ia berakar dari bahasa dan budaya Perancis sekitar abad ke-12 atau tahun 1100. Saat itu, kata suvenir digunakan dalam bahasa Perancis sebagai kata benda yang berarti ”berada dalam memori” dan ”untuk mengingatkan pada seseorang atau sesuatu”. Lebih jauh dari itu, dalam bahasa Latin klasik, terdapat pula diksi ”subvenire” yang bermakna ’terlintas di pikiran’.
Makna itu pula yang masih digunakan dan dipraktikkan di sejumlah negara hingga saat ini. Berbagai benda dihadirkan untuk menjadi pengingat, tidak terkecuali mengenai Istana dan simbol kekuasaan. Toko suvenir pun menjadi wadah yang efektif untuk menjajakan benda-benda penjaga memori itu.
Di Indonesia, toko suvenir pun tidak sekadar menjadi bagian dari wisata Istana, tetapi berdiri sebagai ruang kecil tempat negara hadir dalam benda-benda sehari-hari, seperti stiker, kaus, tumbler, dan kalender, yang dibawa pulang oleh pengunjung dari berbagai latar belakang.
Di balik rak-rak kaca itu, suvenir bukan sekadar barang dagangan. Pernak-pernik itu menjadi penanda bahwa seseorang pernah singgah di jantung negara dan membawa pulang sepotong kisah darinya. Lantas, kisah apa yang sudah Anda bawa pulang dari Istana?




