Surabaya, tvOnenews.com - Rencana relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian Surabaya ke kawasan pergudangan Tambak Oso Wilangon (TOW) menuai penolakan keras dari para jagal. Mereka menilai pemindahan lokasi tersebut berpotensi mengganggu distribusi daging dan membahayakan keselamatan pekerja.
Penolakan ini kembali mencuat dalam rapat ketiga bersama DPRD Surabaya yang digelar pada 9 Desember 2025. Namun hingga rapat berakhir, tidak tercapai kesepakatan. Para jagal memilih walk out karena merasa aspirasi mereka tidak mendapat kejelasan dari pihak pemerintah.
Pedagang menilai jarak tempuh dari RPH Pegirian ke TOW yang mencapai 14 kilometer dengan waktu perjalanan sekitar 45 menit dapat menghambat distribusi daging ke pasar-pasar tradisional di Surabaya.
Selain itu, faktor keamanan juga menjadi perhatian. Jalur Kalianak–Osowilangun menuju TOW disebut sebagai “jalur tengkorak” karena rawan kecelakaan, sehingga dianggap tidak aman dan berbahaya bagi jalur distribusi maupun operasional harian RPH.
Sebagai bentuk penolakan, para jagal menggalang tanda tangan petisi terbuka yang akan disampaikan langsung kepada Wali Kota Surabaya. Mereka juga berencana menggelar aksi mogok kerja massal pada 12 hingga 15 Januari 2026.
“Kami para jagal, pekerja, dan pedagang di RPH akan membawa 20 ekor sapi sebagai simbol penolakan pemindahan RPH Pegirian ke Tambak Oso Wilangon,” tegas Abdullah Mansyur, aktivis muda sekaligus koordinator aksi.
Para jagal berharap Pemerintah Kota Surabaya dapat membuka ruang dialog yang lebih terbuka dan mempertimbangkan dampak distribusi pangan sebelum mengambil keputusan final terkait relokasi. Mereka menilai keputusan strategis seperti pemindahan RPH seharusnya melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk para pelaku usaha dan pekerja yang terdampak langsung.
“RPH masih nyaman buat kami bekerja, ruang dialog adalah jembatan sekaligus titik temu antara pejagal pedagang dan pemerintah kota Surabaya,” pungkas Abdullah. (zaz/gol)


