HARIAN FAJAR, PANGKEP – Usai temuan apel busuk dan ribuan apel yang masih berlabel dibagi ke siswa, DPRD Pangkep angkat suara.
Proses pencucian buah jenis apel dinilai tidak dilakukan sesuai prosedur yang ada pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Tumampua, sebab masih ditempeli label produk saat didistribusikan kepada siswa, yang dinilai berpotensi tidak memenuhi standar kebersihan pangan.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi II DPRD Pangkep, Lutfi Hanafi. Ia mengungkapkan sorotan terhadap penemuan label yang masih menempel pada buah tersebut, yang menunjukkan bahwa buah tersebut tidak dicuci dengan benar.
“Jika label masih menempel, itu artinya buah tersebut tidak dicuci dengan baik,” ungkap Politisi Gerindra Pangkep ini.
Lebih lanjut, Lutfi yang komisinya bermitra dengan Dinas Kesehatan ini, menyampaikan bahwa ia yakin buah tersebut berasal dari SPPG 01. Ia juga menegaskan bahwa jika orang tua murid berani bersumpah demi Allah dan Rasul-Nya.
“Maka pihak SPPG juga harus siap untuk melakukan hal yang sama demi membuktikan kebenaran klaim mereka,” jelasnya.
Menurutnya, ketidakpastian terkait asal buah yang dibantah oleh pihak SPPG Tumampua itu harus ada penegasan dan membuktian yang kuat dari pihak SPPG tersebut.
“Ini harus jelas, kalau saya yakin itu buah dari SPPG tersebut,” pungkasnya.
Dengan kejadian ini, Komisi II DPRD Pangkep berharap agar SPPG 01 dan instansi terkait lebih ketat dalam menerapkan SOP untuk pengelolaan makanan demi memastikan kenyamanan dan kesehatan para siswa.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Pangkep, dr. Muhammad Ishak mengaku akan melakukan investigasi lebih lanjut terhadap SPPG Tumampua itu, sebab sudah dua kali ada laporan terkait buah yang didistribusikan. “Perlu dilakukan investigasi lebih lanjut,” jelasnya.
Terpisah, Kepala SPPG Tumampua, Mar’atul Islam, mengungkap bahwa seluruh bahan pangan, termasuk buah apel yang didistribusikan, telah melalui proses penyortiran. Ia pun tetap membantah bahwa buah busuk yang diterima salah seorang siswa berasal dari SPPG-nya.
“Barang yang masuk ke kami itu sudah melalui penyortiran dan kami menjamin tidak ada yang lolos. Namun kami juga tidak bisa memastikan sepenuhnya dari sisi supplier,” ujarnya. (fit)





