Penulis: Fityan
TVRINews- Aleppo
Pasukan pemerintah meluncurkan operasi militer di Sheikh Maqsoud setelah pejuang Kurdi menolak instruksi penarikan mundur.
Eskalasi kekerasan kembali mengguncang Suriah utara setelah Komando Operasi Angkatan Darat Suriah resmi mengumumkan dimulainya operasi militer di lingkungan Sheikh Maqsoud, Aleppo, pada Jumat 9 Januari 2026 malam waktu setempat.
Langkah ini diambil menyusul berakhirnya tenggat waktu bagi pejuang Kurdi untuk mengevakuasi wilayah tersebut.
Serangan udara dan artileri kembali menghantam kantong-kantong pertahanan Kurdi setelah upaya gencatan senjata sementara gagal membuahkan kesepakatan.
Kementerian Pertahanan Suriah sebelumnya sempat menyatakan gencatan senjata pada Jumat pagi, menyusul bentrokan sengit selama tiga hari antara pemerintah pusat dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF).
Ketegangan ini berakar pada kegagalan implementasi kesepakatan integrasi SDF ke dalam struktur militer negara.
Pemerintah di Damaskus memberikan waktu enam jam bagi pejuang Kurdi untuk mundur ke wilayah semi-otonom di timur laut, namun tuntutan tersebut ditolak mentah-mentah.
"Kami menolak segala bentuk 'penyerahan' dan berjanji akan mempertahankan wilayah yang telah kami kelola sejak awal perang tahun 2011," tegas perwakilan dewan Kurdi yang mengelola distrik Sheikh Maqsoud dan Ashrafieh. Dikutip Al Jazeera.
Dampak Kemanusiaan dan Saling Tuding
Seiring meningkatnya intensitas serangan, SDF merilis dokumentasi yang menunjukkan kerusakan pada Rumah Sakit Khaled Fajr di Sheikh Maqsoud, yang mereka sebut sebagai "kejahatan perang nyata." Sebaliknya, melalui kantor berita negara SANA, Kementerian Pertahanan Suriah mengeklaim fasilitas medis tersebut digunakan sebagai gudang senjata.
Data terbaru menunjukkan dampak destruktif dari konflik ini:
- Korban Jiwa: Sedikitnya 22 orang tewas dan 173 lainnya luka-luka sejak Selasa.
- Pengungsian: Direktur pertahanan sipil Suriah melaporkan 159.000 warga telah meninggalkan rumah mereka.
Pihak militer juga mengeklaim bahwa tiga tentara pemerintah tewas dan 12 lainnya luka-luka akibat serangan balik SDF.
Selain itu, muncul tuduhan dari pihak Damaskus mengenai eksekusi warga sipil oleh kelompok Kurdi, yang langsung dibantah oleh SDF sebagai "kebijakan kebohongan dan disinformasi."
Ketidakpercayaan yang Mendalam
Analis politik senior, Marwan Bishara, menyoroti adanya jurang komunikasi yang lebar antara kedua pihak. Fokus utama keretakan ini adalah teknis integrasi ribuan pejuang, termasuk pejuang perempuan Kurdi, ke dalam militer nasional.
"Pihak Kurdi skeptis terhadap niat pemerintah pusat, sementara Damaskus meragukan komitmen Kurdi untuk bergabung sebagai bagian dari Suriah yang bersatu," ujar Bishara.
Reaksi Internasional dan Regional…
Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, menegaskan tekadnya untuk mengakhiri "kehadiran senjata ilegal" di Aleppo.
Dukungan datang dari Menteri Pertahanan Turkiye, Yasar Guler, yang menyatakan bahwa keamanan Suriah berkaitan langsung dengan keamanan negaranya.
Di sisi lain, Elham Ahmad, pejabat senior administrasi Kurdi, menuduh Damaskus "memilih jalur perang" dan merusak kesepakatan yang telah dibangun.
Dunia internasional mulai menyatakan kekhawatiran. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menyerukan semua pihak untuk kembali ke meja perundingan. Sementara itu, Prancis dan Amerika Serikat dilaporkan tengah berupaya melakukan de-eskalasi guna mencegah Suriah kembali terperosok ke dalam konflik berkepanjangan pasca-jatuhnya rezim Bashar al-Assad setahun lalu.
Editor: Redaktur TVRINews





