Modus ini dinilai kian meningkat dan menyasar korban lintas negara dengan memanfaatkan emosi serta hubungan personal yang dibangun secara daring.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi menyebutkan love, relationship, dan romance scam saat ini menjadi salah satu tren kejahatan finansial digital yang berkembang secara global.
“Terbukti juga di Indonesia yang baru saja kejadian adalah di Yogyakarta ditemukan satu sindikat yang beroperasi secara internasional,” katanya dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Desember 2025 di Jakarta, seperti dilansir dari Antara, Sabtu, 10 Januari 2026 Sindikat love scam internasional terbongkar di Yogyakarta Peringatan OJK tersebut sejalan dengan pengungkapan kasus dugaan sindikat love scamming jaringan internasional oleh Kepolisian Resor Kota Yogyakarta. Sindikat ini diketahui beroperasi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kasus tersebut terungkap melalui operasi tangkap tangan di kantor PT Altair Trans Service yang berlokasi di Jalan Gito Gati, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Senin, 5 Januari 2026 sekitar pukul 13.00 WIB.
Dalam praktiknya, sindikat ini memanfaatkan aplikasi kencan daring yang merupakan hasil kloning dari aplikasi asal China bernama WOW.
Baca juga: Love Scamming Adalah, Ini Modus Penipuan Cinta Palsu yang Mesti Kamu Hindari Modus manipulasi emosi kewat aplikasi kencan Para pegawai perusahaan tersebut diketahui dipekerjakan sebagai admin percakapan yang berperan sebagai perempuan, disesuaikan dengan negara asal korban atau pengguna aplikasi.
Mereka melakukan bujuk rayu agar pengguna bersedia membeli koin atau melakukan top up untuk mengirim gift yang tersedia di dalam aplikasi.
Setelah pengguna mengirim gift, pelaku kemudian mengirimkan konten secara bertahap berupa foto dan video bermuatan pornografi. Adapun korban penipuan ini merupakan warga negara asing dari sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia.
“Para scammer-scammer ini menargetkan korban di berbagai negara melalui internet dan aplikasi, sehingga kalau kita melihat kejahatan seperti ini adalah risiko lintas batas yang sangat tinggi,” ujar Friderica yang akrab dipanggil Kiki Korban alami kerugian finansial dan trauma psikologis Lebih lanjut, Kiki menjelaskan bahwa modus love scam bekerja dengan cara memanipulasi emosi korban hingga merasa memiliki hubungan spesial dengan pelaku.
“Para korban ini dimanipulasi secara emosinya, merasa memiliki hubungan atau memiliki relationship dan mungkin kemudian dipersuasi dan sebagainya, sehingga para korban secara sukarela men-transfer sejumlah uangnya karena merasa memiliki hubungan yang khusus spesial dengan lawan jenis, sehingga mereka mengalami kehilangan uang dalam jumlah yang sangat besar,” jelasnya.
Selain kerugian materi, korban juga mengalami dampak psikologis yang mendalam akibat manipulasi emosional tersebut, bahkan dinilai sulit untuk disembuhkan dalam jangka panjang. Ribuan laporan masuk, kerugian capai Rp49,19 miliar OJK melalui Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) terus mengintensifkan edukasi dan imbauan kepada masyarakat agar waspada terhadap berbagai bentuk penipuan yang terus berevolusi, termasuk love scam.
“Satgas PASTI memanfaatkan berbagai kanal komunikasi untuk menjangkau masyarakat secara luas dengan memberikan pesan-pesan anti-scam yang disebarkan melalui social media, kemudian media massa, sarana transportasi massal, podcast, serta berbagai media lainnya ditampilkan secara langsung di kanal lainnya, perbankan seperti di ATM, kemudian aplikasi mobile banking, dan sebagainya,” ujar Kiki.
Hingga akhir 2025, Indonesia Anti Scam Center mencatat telah menerima 3.494 laporan masyarakat terkait penipuan love scam dengan total kerugian mencapai Rp49,19 miliar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)




