EtIndonesia. Surat kabar Inggris Financial Times pada Rabu (7 Januari) mengutip sumber yang mengetahui masalah ini dan mengungkapkan bahwa tahun lalu kelompok peretas Partai Komunis Tiongkok (PKT) bernama “Salt Typhoon” (Topan Garam) telah menyusup ke sistem email staf beberapa komite kunci Kongres Amerika Serikat, yang mencakup bidang militer, diplomasi, dan intelijen.
Kementerian Luar Negeri PKT dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Para pengamat menilai bahwa “Salt Typhoon” merupakan unit di bawah Kementerian Keamanan Negara PKT, dan operasinya telah melampaui lingkup spionase tradisional, sehingga menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan energi, transportasi, dan komunikasi Amerika Serikat. Insiden ini menjadi pengingat bagi para legislator Kongres bahwa PKT adalah ancaman terbesar bagi dunia bebas.
Menurut sumber terkait, kelompok peretas PKT “Salt Typhoon” telah membobol sistem email staf dari sejumlah komite penting di Dewan Perwakilan Rakyat AS, termasuk Komite Urusan Tiongkok, Komite Hubungan Luar Negeri, Komite Intelijen, serta Komite Angkatan Bersenjata.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Luar Negeri PKT pada Kamis membantah keras semua tuduhan terkait.
“PKT melakukan ini untuk menunjukkan bahwa mereka sangat memahami cara kerja politik Amerika Serikat… karena pentingnya Kongres, para stafnya memiliki akses ke sejumlah informasi dengan tingkat kerahasiaan yang relatif tinggi. Terlebih lagi, ketiga komite ini—militer, diplomasi, dan intelijen—semuanya berkaitan erat dengan PKT dan kawasan Asia-Pasifik,” ujar pengamat isu terkini dan blogger “Biro Intelijen Militer”, Zhou Ziding.
Disebutkan bahwa insiden peretasan ini ditemukan pada Desember tahun lalu. Hingga kini belum diketahui apakah para peretas berhasil memperoleh isi email anggota Kongres itu sendiri.
Menurut laporan, “Salt Typhoon” adalah kelompok peretas di bawah Kementerian Keamanan Negara PKT, yang didukung oleh pendanaan dan sumber daya manusia dari seluruh mesin negara PKT.
Sebelumnya, “Salt Typhoon” juga pernah menyusup ke jaringan telekomunikasi sejumlah lembaga pemerintah di Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara Asia Tenggara. Bahkan sempat berhasil mencuri komunikasi tidak terenkripsi dari sejumlah pejabat tinggi AS, termasuk panggilan telepon, pesan teks, dan pesan suara.
Kini, “Salt Typhoon” telah menjadi salah satu ancaman utama terhadap keamanan siber Amerika Serikat. Pejabat AS memperingatkan bahwa tindakan kelompok ini telah melampaui aktivitas spionase tradisional. Strategi penempatan awal yang mereka lakukan membuat sistem energi, transportasi, dan komunikasi Amerika Serikat berada dalam risiko tinggi.
“Serangan siber PKT terhadap Amerika Serikat bukanlah yang pertama. Dalam sepuluh tahun terakhir, PKT terus meningkatkan penyadapan terhadap jaringan telekomunikasi AS, termasuk berbagai lembaga pemerintah dan badan legislatif. Ini jelas merupakan masalah keamanan yang sangat serius dan tentu saja harus mendapat perhatian dari komunitas internasional,” tambah Zhou Ziding.
Para analis menilai bahwa insiden ini merupakan peringatan penting bagi Amerika Serikat dan masyarakat bebas Barat.
“Saya pikir ini juga menjadi peringatan bagi lembaga legislatif. Karena beberapa tahun lalu, masih ada sebagian orang di dalam Kongres yang berpikir bahwa kerja sama atau ‘saling menguntungkan’ dengan PKT masih mungkin dilakukan. Namun kita bisa melihat bahwa arah angin telah berubah sangat cepat,” jelasnya.
“Hingga saat ini, baik Partai Republik maupun Partai Demokrat perlahan-lahan menyadari bahwa PKT, bagi Amerika Serikat maupun dunia bebas, adalah ancaman terbesar,” imbuhnya.
Laporan wawancara oleh reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Chang Chun




