GenPI.co - Thailand menuduh Kamboja melanggar gencatan senjata yang telah berlangsung selama lebih dari 10 hari.
Tembakan mortir lintas perbatasan disebut melukai seorang tentara Thailand.
Kementerian Luar Negeri Thailand mengatakan pasukannya tidak membalas serangan.
Thailand segera menghubungi Phnom Penh untuk memverifikasi kejadian dan pihak Kamboja menyebut insiden tersebut hanyalah sebuah kecelakaan.
Thailand pun mendesak Kamboja menyampaikan permintaan maaf.
Thailand memperingatkan jika insiden serupa terjadi lagi, mereka mungkin akan melakukan pembalasan.
Menurut militer Thailand, seorang tentara terluka pada lengan kanannya setelah pasukan Kamboja menembakkan mortir ke Provinsi Ubon Ratchathani.
Di sisi Kamboja, juru bicara Kementerian Pertahanan Maly Socheata mengatakan dua tentaranya terluka.
"Tim koordinasi perbatasan kedua negara telah berkonsultasi mengenai insiden tersebut," kata Socheata, dilansir AFP, Jumat (9/1).
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan pihaknya telah menyampaikan protes kepada Phnom Penh.
"Kami memiliki kemampuan untuk merespons, meski persenjataan Kamboja lebih lemah," ujar Anutin.
Konflik panjang ini berakar dari perselisihan mengenai penetapan batas wilayah sepanjang 800 kilometer pada era kolonial, termasuk klaim atas reruntuhan kuil berusia ratusan tahun.
Kementerian Pertahanan Kamboja akan mengusulkan pertemuan komite perbatasan bilateral dengan Thailand di Provinsi Siem Reap bulan ini.
Sementara itu, Thailand menyebut pertemuan tersebut mungkin baru bisa dilaksanakan pemerintahan berikutnya setelah pemilihan umum pada 8 Februari. (*)
Jangan sampai ketinggalan! Kamu sudah lihat video ini ?





