Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Sistem Talent DNA Diharapkan Bisa Ungkap Bakat Terpendam Siswa di Seluruh Indonesia.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mendorong pemetaan talenta seni yang lebih terukur, objektif, dan berbasis data untuk menjadi dasar pengembangan kebijakan kebudayaan nasional.
Menurut Menbud, pendekatan ini penting agar pembinaan talenta tidak lagi bergantung pada asumsi semata, sekaligus membuka peluang kerja sama lebih luas di masa depan.
“Kalau ini menjadi program nasional, kita bisa mengetahui bakat terpendam siswa di seluruh Indonesia,” ujar Fadli Zon dalam keterangan resmi yang diterima, Sabtu, 10 Januari 2026.
Pemetaan Talenta Berbasis Talent DNA
Dalam rapat pembahasan SDM kebudayaan dan manajemen talenta di Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Fadli Zon menekankan pentingnya menempatkan seni setara dengan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics), sehingga menjadi STEAM dengan menambahkan Arts.
Pemetaan talenta dilakukan ESQ Group melalui pengisian Talent DNA oleh siswa SMA, Labschool Kebayoran, SMPN 1 Megamendung, dan SMAN 31 Jakarta.
Founder ESQ Group, Ary Ginanjar, menjelaskan bahwa tujuan pemetaan adalah mengidentifikasi potensi seni siswa secara objektif, mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, desain, kriya, sastra, hingga seni media, film, dan animasi.
“Talent DNA melihat Drive Network Action setiap individu. Dari situ kita bisa mengetahui kecenderungan potensi, baik di seni, matematika, fisika, riset, maupun bidang lain,” ujar Ary.
Hasil Pemetaan dan Pola Pembinaan
Sementara itu, Vice President ESQ Group, Dwitya Agustina, memaparkan bahwa dari 870 siswa yang dipetakan, potensi seni tersebar merata di berbagai bidang. Setiap sekolah menunjukkan pola keunggulan berbeda, sehingga pembinaan harus berbasis data dan tidak diseragamkan.
Mayoritas siswa memiliki gaya belajar kinestetik dan auditori, sehingga proses pembinaan seni perlu lebih banyak praktik dan simulasi, dengan peran guru yang memahami potensi murid melalui Talent DNA.
Pengakuan Kompetensi Non-Akademik
Menbud Fadli Zon menekankan pentingnya menghargai kompetensi non-akademik. Ia mencontohkan banyak maestro atau pelaku budaya yang menguasai keahlian melalui pengalaman, bukan pendidikan formal.
“Kita harus menghargai orang yang sekolahnya tidak tinggi, tapi sangat mahir di bidangnya,” jelas Fadli Zon.
Arah Kebijakan Kebudayaan ke Depan
Kementerian Kebudayaan berupaya membangun sistem manajemen talenta berbasis data berorientasi pada potensi, dan mendukung pembinaan seni yang berkelanjutan.
Hasil pemetaan ini diharapkan menjadi dasar formulasi kebijakan dan program pembinaan kebudayaan yang lebih tepat sasaran, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Editor: Redaktur TVRINews





