Dari Guru untuk Murid yang Butuh Dukungan

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Dalam dunia pendidikan, kita sering mendengar cerita tentang murid-murid berprestasi yang mendapat penghargaan, diundang mengikuti lomba, dan menjadi kebanggaan sekolah. Tidak ada yang salah dengan itu. Murid yang pintar patut diapresiasi dan diberi ruang untuk berkembang lebih jauh. Namun di balik cerahnya sorotan terhadap siswa berprestasi, ada kelompok lain yang sering luput dari perhatian, yaitu murid-murid yang lemah dalam akademik, kurang percaya diri, canggung memahami pelajaran, atau bahkan menghadapi masalah sosial di rumah dan lingkungan mereka.

Padahal jika diperhatikan lebih dekat, kelompok inilah yang justru paling membutuhkan dukungan. Mereka bukan tidak mampu, tetapi membutuhkan pendekatan berbeda. Mereka bukan malas, tetapi sering tidak menemukan pegangan yang tepat. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pendamping dan pembimbing.

Setiap kelas selalu heterogen. Ada murid yang cepat menangkap pelajaran, ada yang sedang, dan ada pula yang benar-benar kesulitan memahami konsep dasar. Dalam proses belajar, murid-murid yang kuat biasanya dapat mengikuti alur pembelajaran dengan baik. Mereka jarang memerlukan pengulangan materi berkali-kali, dan sering kali mampu belajar mandiri. Namun murid yang lemah tidak demikian. Mereka membutuhkan bantuan lebih intensif, waktu tambahan, serta cara pengajaran yang lebih personal. Tanpa itu semua, mereka akan semakin tertinggal dibanding teman-temannya.

Masalahnya, banyak dari mereka yang tertinggal ini justru memilih diam. Mereka malu bertanya karena takut ditertawakan. Mereka tidak mengerti, tetapi juga tidak ingin terlihat tidak mengerti. Sering kali, mereka duduk di barisan paling belakang, membiarkan guru menjelaskan tanpa betul-betul memahami apa yang sedang dibahas. Mereka hadir di kelas secara fisik, tetapi secara mental tersisih. Jika kondisi ini dibiarkan terus berlanjut, bukan hanya prestasi mereka yang menurun, tetapi juga semangat belajar mereka perlahan padam.

Selain faktor akademik, ada pula murid-murid yang menghadapi tantangan sosial atau emosional. Mereka mungkin datang dari keluarga yang kurang harmonis, mengalami tekanan ekonomi, atau hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif. Tidak sedikit murid yang kesulitan fokus bukan karena pelajaran terlalu sulit, tetapi karena pikiran mereka terpaku pada masalah yang terjadi di rumah. Ada yang menanggung beban lebih besar daripada usianya, ada pula yang berjuang menjadi dewasa sebelum waktunya. Situasi seperti ini membuat proses belajar mereka semakin berat.

Di titik inilah perhatian guru menjadi krusial. Sebuah kalimat sederhana seperti “Kamu sudah paham atau belum?” atau “Ayo kita ulang pelan-pelan” bisa membuat perbedaan besar bagi murid yang struggling. Ketika guru mau menengok ke arah anak yang duduk diam di ujung kelas dan memberi perhatian ekstra, itu bisa menjadi dorongan yang luar biasa. Murid merasa dihargai, merasa dilihat, dan merasa tidak sendirian.

Guru tidak perlu melakukan hal besar untuk membantu murid yang tertinggal. Terkadang, strategi sederhana sudah cukup. Misalnya dengan membuat kelompok belajar kecil, memberi contoh lebih konkret, menggunakan metode pembelajaran visual, atau mengulang materi dengan cara yang lebih menyenangkan. Guru juga bisa memberikan waktu tambahan setelah kelas untuk menjawab pertanyaan atau memberi bimbingan singkat. Hal kecil seperti ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat menutup celah pemahaman yang selama ini membuat murid tertinggal.

Selain itu, guru perlu peka terhadap tanda-tanda non-akademik. Murid yang biasanya ceria namun mendadak pendiam, murid yang sering izin tanpa alasan jelas, atau murid yang mulai menunjukkan perubahan perilaku bisa jadi sedang mengalami masalah. Guru yang sensitif terhadap perubahan ini dapat memberikan ruang aman bagi murid untuk bercerita atau sekadar didengarkan. Tidak semua masalah harus diselesaikan guru, tetapi empati dan perhatian dapat membantu murid merasa lebih kuat menghadapi situasi mereka.

Penting juga bagi sekolah untuk menyediakan sistem dukungan yang komprehensif. Guru tidak bekerja sendiri. Ada konselor, wali kelas, serta pihak sekolah yang bisa diajak bekerja sama. Komunikasi dengan orang tua juga menjadi kunci, karena mereka sering kali tidak menyadari bahwa anaknya menghadapi kesulitan tertentu. Dengan kerja sama ini, murid mendapatkan dukungan yang lebih utuh, bukan hanya dari satu pihak.

Memang, memberikan perhatian ekstra kepada murid yang lemah membutuhkan waktu dan energi. Beban kerja guru sudah cukup berat. Namun jika dilihat dari dampaknya, upaya ini sangat berarti. Murid yang awalnya kesulitan bisa perlahan mengejar ketertinggalan. Mereka mulai berani bertanya, mulai percaya diri, dan perlahan menemukan ritme belajar mereka sendiri. Dan ketika mereka berhasil memahami sesuatu yang sebelumnya membingungkan, rasa bangga yang mereka rasakan bisa menjadi motivasi besar untuk terus belajar.

Perhatian kepada murid yang lemah bukan hanya soal akademik, tetapi juga soal membangun kepercayaan diri. Banyak murid yang sebenarnya mampu, tetapi terjebak dalam persepsi negatif terhadap diri mereka sendiri. Mereka menganggap diri mereka tidak pintar, tidak berbakat, atau tidak layak bersaing. Ketika guru memberikan dukungan, mereka belajar untuk melihat bahwa mereka sebenarnya punya potensi. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang percaya bahwa mereka bisa.

Dalam konteks yang lebih luas, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak murid yang cerdas, tetapi juga murid yang berkarakter dan memiliki kesempatan yang setara. Keadilan dalam pendidikan bukan hanya tentang memberikan fasilitas yang sama kepada semua murid, tetapi memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Murid yang kuat butuh tantangan tambahan. Murid yang lemah butuh perhatian lebih. Kedua-duanya sama penting.

Jika kita ingin menciptakan generasi yang kompeten dan percaya diri, maka perhatian kepada murid yang berisiko tertinggal adalah investasi jangka panjang. Mereka mungkin tidak menonjol hari ini, namun dengan pendampingan yang tepat, mereka bisa berkembang dan menemukan jalan mereka sendiri. Dan di masa depan, mereka mungkin menjadi individu yang tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga berkontribusi bagi masyarakat.

Pada akhirnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak meninggalkan siapa pun. Guru yang baik bukan hanya mengajar, tetapi juga melihat. Melihat siapa yang diam, siapa yang bingung, siapa yang butuh dibimbing. Dalam setiap kelas selalu ada anak yang membutuhkan sedikit lebih banyak perhatian. Dan ketika perhatian itu diberikan, perubahan besar sering kali dimulai dari sana.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
AS dan Sekutu Luncurkan Serangan Besar ke Target ISIS di Suriah
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Desainer vs Prompt Engineer: Pergeseran Peran DKV di Era Gen-AI Tahun 2026
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Bojan Hodak Tersenyum, Persib Terbang Tinggi Setelah Tekuk Persija di BRI Super League
• 8 jam lalubola.com
thumb
Saham BUMN 2026 Pilihan BRI Danareksa: BMRI, JSMR hingga TLKM Masuk Pertimbangan
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Link Live Streaming BRI Super League: Persib Bandung Vs Persija Jakarta
• 14 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.