Mega soal Bencana Sumatera: Bukan Hanya Kehendak Alam, tapi Juga Ulah Manusia

kumparan.com
19 jam lalu
Cover Berita

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, menyebut kondisi lingkungan dan alam di bumi sedang tidak baik-baik saja. Akibat dari kerusakannya semakin terasa setiap tahunnya.

Ia pun menilai bencana banjir-longsor di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh disebabkan oleh kerusakan-kerusakan itu. Megawati menilai, bencana di sana merupakan peringatan sejarah.

“Bagi saya, bencana ini bukan peristiwa alam semata. Ini adalah peringatan sejarah,” ucap Megawati dalam pidatonya di Rakernas I PDIP Tahun 2026, di Jakarta, Sabtu (10/1).

“Ini adalah isyarat keras tentang masa depan yang jauh lebih katastrofik, apabila umat manusia gagal mengubah arah peradabannya—gagal menghentikan pemanasan global, gagal mengubah cara memperlakukan alam, dan gagal menempatkan keselamatan rakyat di atas logika kapitalisme yang eksploitatif,” tambahnya.

Menurut Presiden ke-5 RI ini, generasi muda adalah pihak yang paling khawatir akan kerusakan lingkungan berujung bencana ini. Megawati menilai, mereka khawatirkan masa depan akan semakin membuat gelisah.

“Yang paling merasakan kecemasan ini adalah generasi muda. Mereka hidup dalam ketidakpastian, memandang masa depan dengan kegelisahan. Banyak di antara mereka merasa bahwa generasi sebelumnya telah gagal merawat bumi, dan bahwa hari esok justru tampak lebih menakutkan daripada hari ini,” ucap Megawati.

Megawati menyebut sudah banyak ilmuwan yang memperingati persoalan kerusakan lingkungan ini. Ia menyebut, bumi kini tengah berada di fase keteruraian peradaban terbesar.

“Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah kita akan diam, ataukah kita akan mengubah arah sejarah?” ucap Megawati.

Ia menilai, bencana yang terjadi di Sumatera merupakan ulah tangan manusia. Terlebih, bencana itu juga disebabkan oleh kebijakan.

"Kawasan hulu yang seharusnya menjadi penyangga kehidupan, sebagai spons alam penyerap air, telah berubah menjadi ladang eksploitasi. Hutan alam dan wilayah adat dirampas, dibuka secara masif, lalu digantikan oleh tanaman monokultur berakar dangkal dan miskin daya dukung ekologis,” tutur Megawati.

Ia menambahkan,"kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan. Undang-undang dan regulasi yang memberi karpet merah pada konsesi besar telah membuka jalan bagi deforestasi, perampasan tanah, dan penghancuran ekosistem. Atas nama pembangunan, rakyat disingkirkan dan alam dikorbankan. Ini bukan pembangunan, melainkan pembangunan tanpa keadilan dan tanpa peradaban."

Megawati pun mengingatkan pesan ayahnya yang juga merupakan Presiden pertama RI, Soekarno.

“Bung Karno telah mengingatkan kita sejak awal Republik berdiri. Tahun 1946, beliau berkata dengan sangat sederhana namun mendalam, ‘Hidup minta makan, makan minta padi, padi minta hutan. Tidak ada hutan, tidak ada sumber. Tidak ada sumber, tidak ada air’. Hari ini, kebenaran itu terbukti secara tragis,” tandas Megawati.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Momen Dasco Sambungkan Telepon Purbaya ke Prabowo, TKD Aceh Batal Dipangkas
• 5 jam laludisway.id
thumb
BMKG: Gempa di Sulut Akibat Deformasi Batuan Lempeng Maluku
• 15 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Link Live Streaming BRI Super League: Persib Bandung Vs Persija Jakarta
• 1 jam lalubola.com
thumb
Kumpulan Kata Kata Perpisahan Teman Kerja Paling Berkesan
• 4 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Tak Persoalkan Kritik Pandji, PWNU Jateng Minta Masyarakat Tak Menyikapi Secara Berlebihan
• 16 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.