Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) disebut mencatatkanmarketing sales sebesar Rp5,52 triliun sepanjang 2025, atau mencerminkan kenaikan sebesar 27% secara tahunan.
Capaian itu sekaligus melampaui target tahunan yang dipatok SMRA di level Rp5 triliun. Dengan total penjualan Rp5,52 triliun, perseroan mencatatkan realisasi sekitar 11% lebih tinggi dari target yang ditetapkan untuk tahun buku 2025.
Berdasarkan riset Stockbit, performa Summarecon didorong oleh lonjakan penjualan pada kuartal IV/2025 yang mencapai Rp1,96 triliun. Angka ini tumbuh 15% YoY dan melesat 41% dibandingkan kuartal sebelumnya (QoQ)
“Summarecon Agung mencatat marketing sales Rp1,96 triliun pada kuartal IV/2025. Hasil ini membuat marketing sales selama 2025 mencapai Rp5,52 triliun,” tulis laporan Stockbit dikutip pada Sabtu (10/1/2026).
Produk residensial masih menjadi motor utama pertumbuhan SMRA di tengah dinamika sektor properti. Segmen rumah tapak menjadi penopang utama dengan porsi mencapai 74% dari total marketing sales sepanjang tahun lalu.
Selanjutnya, segmen ruko menyumbang sekitar 17% dari total penjualan, diikuti oleh kavling tanah sebesar 7%. Adapun kontribusi dari apartemen tercatat relatif sekitar 2%, sedangkan segmen perkantoran dan komersial hanya berkontribusi sekitar 0,1% terhadap total capaian tersebut.
Baca Juga
- Summarecon (SMRA) Emisi Obligasi Rp500 Miliar, Tawarkan Kupon 5,85%-6,50%
- Tambah Kepemilikan, Bos Summarecon (SMRA) Borong 13,06 Juta Lembar Saham
- Summarecon (SMRA) Terbitkan Obligasi Rp500 Miliar, Suntik 2 Entitas Anak
Sebelumnya, President Director Summarecon Agung, Adrianto P. Adhi, mengaku optimistis terhadap prospek kinerja 2026. Keyakinan tersebut seiring dengan kebijakan terbaru pemerintah terkait insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang diperpanjang hingga 2027.
Sebelumnya, insentif PPN DTP selalu diberikan secara periodik enam bulanan, sehingga membuat pengembang sulit menyusun rencana jangka panjang.
Adrianto menyebut dengan kepastian hingga 2027, pengembang bisa menyusun pipeline proyek secara strategis, mulai dari perencanaan, peluncuran produk, hingga penyelesaian konstruksi yang menjadi syarat utama PPN DTP. Dia menekankan bahwa insentif ini 100% menguntungkan konsumen.
“Konsumen langsung dapat diskon 11%. Tapi dari sisi industri, insentif ini akan membuat pengembang membangun rumah secara masif,” tuturya.
Di sisi lain, SMRA baru saja menyelesaikan penjualan saham anak usahanya, yakni PT Bukit Permai Properti kepada emiten milik Happy Hapsoro, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) dengan nilai mencapai Rp536,28 miliar.
Berdasarkan keterbukaan informasi, transaksi tersebut dilakukan melalui dua anak usaha SMRA yaitu PT Bali Indah Development (BLID) dan PT Summarecon Bali Indah (SMBI) selaku pemegang saham Bukit Permai Properti (BKPP).
SMBI melepas 335,27 juta saham kepada BUVA senilai Rp375,45 miliar dan BLID melepas 143,56 juta saham sebesar Rp160,77 miliar. Selain itu, BLID juga melego 50.000 saham kepada PT Nusantara Bali Realti senilai Rp53,63 juta.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



