FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, yang sesumbar partainya akan menguasa Jawa Tengah kini jadi pembahasan publik.
Bahkan, Peneliti ISEAS Yosuf-Ishak Institute, Made Supriatma, turut mengulas pernyataan putra bungsu Jokowi itu. Dia bahkan mengaku telah beberapa tahun lalu mengamati partai tersebut.
“Saya ingat sebuah lelucon lama yang pernah diceritakan karib saya.
Gajah kakinya berapa?
Empat!
Kalau Gajrah?
… diam … tik tok tik tok …
(nyerah ga bisa jawab)
Emprat, katanya kalem,” tulis Made Supriatma, mengawali ulasannya.
Made kemudian membahas pernyataan Kaesang dan mengaitkan pada candaan tersebut.
“Entah kenapa. Dari sejak awal, saya sudah berfirasat bahwa partai ini, PSI, tidak punya prospek dalam politik Indonesia. Ia salah desain. Salah kedaden,” sambung Made dikutip dari akun media sosialnya, Sabtu (10/1/2026).
Ketika awalnya berdiri, dia menganggapnya hanya sekedar eksperimen. Kala itu Made mengaku menghargai eksperimen yang berani itu.
Beberapa orang yang dekat dengan pendiri partai ini mengatakan pada saya, “Kita coba.” Ketuanya seorang perempuan dari golongan minoritas. Mereka juga berbisik tentang siapa yang duitin (hey, saya peneliti! jadi harus tahu yang gituan).
Kemudian, captive marketnya adalah golongan muda. Gen Z, kata mereka. Dengan segera ia menarik perhatian anak-anak muda.
Pada 2019, saya ada keliling di Sumatera untuk melihat pemilu. Saya terkesan dengan partai ini. Karena isinya anak-anak muda yang tidak tahu politik, tidak pernah berpolitik, dan sebenarnya tidak tertarik politik. Dan sebagian besar dari mereka, ya, dari golongan minoritas.
Saya ketemu ketua-ketua DPC dan DPD lokal mereka. Karena mereka bukan pejabat mereka relatif mudah ditemui dan tidak jual mahal. Beberapa dari mereka menjadi caleg untuk lokal maupun nasional.
Saya ingat mewawancarai seorang kader lokal. Dia maju sebagai caleg DPRD Kota. Jelas, dari penampilannya dari minoritas miskin. Golongan yang tidak punya toko, demikian istilah yang saya dengar dulu. Dia berkampanye secara simpatik. Menambal panci dan sol sepatu gratis.
Saya terharu dengan kampanyenya. Bukan apa-apa. It ai’nt work! Gak akan berhasil. Dan benar, dia hanya mendapat ratusan suara. Itupun dari RT-nya plus babe, nyak, engkong, pak cik dan mak cik-nya. Impian duduk di DPRD Kota kandas.
Tahun 2024, ketika pemilu saya kontak dia lagi. Nyalon lagi? Ah, kapok masuk partai! Motorku ilang buat modal kampanye. Sampai sekarang ga punya motor lagi. Ketua DPD, seorang pengusaha muda yang punya dealer, juga keluar dari partai.
Politik itu kejam. Darwinisme sangat ketat diterapkan disana. Survival the fhe fittest. Siapa kuat, dia menang. Ini lebih-lebih berlaku di Republik ini. Jadi kaya saja tidak cukup. Anda harus jadi bagian dari oligarki — kaya dan punya kekuasaan. Itu dua hal yang tak terpisahkan. Kekuasaan menciptakan kekayaan dan kekayaan untuk membeli kekuasaan.
Dan kemudian setelah kalah, partai ini seperti kehilangan arah. Para elitnya kemudian memilih satu pilihan yang masuk akal: mencari oligark. Dan kemudian, masuklah keluarga Sumber ini. Si Bapak cukup pintar. Dia memberi harapan akan menjadi ketua partai. Kemudian menjadi pembina. Dan kemudian tidak menjadi apa-apa. Seperti biasa, Bapak ini sangat pintar memainkan peran sebagai PHP.
Sebelumnya dia sudah taruh anaknya menjadi ketua. Hanya dua hari setelah menjadi anggota! Luar biasa? Tidak juga. Itu hal yang biasa dalam politik negeri ini, dimana kutu loncat adalah spesies yang paling kuat.
Mengapa si Bapak tidak mau memegang partai ini? Sepatu ini terlalu kecil untuk dia. Dan dia sudah terlanjur besar. Untuknya, mengapung lebih baik. Dia lebih bisa memakai pengaruhnya dengan mengapung-apung. Kemana air mengalir, kemana angin berembus, ada dia disana. Maksudnya begitu.
Nah, partai ini pun berubah. Ia menjadi partai dinasti yang dikendalikan satu keluarga yang sangat berpengaruh. Ia pun menyesuaikan diri. Dulu, agenda-agendanya sangat progresif. Bahkan beberapa kolega saya pun sempat terkesima. Muda, berani, progresif. Kini ideologinya berubah menjadi satu saja: Jokowisme. Apapun artinya itu. Seperti gajah patah, ia tidak nyambung.
Saya ingat satu diskusi sambil ngopi dengan beberapa kolega sebelum pemilu 2019 tentang partai ini. Salah satu kolega sangat bersemangat dan memprediksi bahwa partai ini akan lolos threshold dan akan ada di DPR. Saya cuman bilang, bagus kalau mimpi itu bisa terwujud. Why? Tanyanya.
Captive marketnya sangat terbatas, kata saya. Ia tidak punya organisasi yang solid. Bahkan organisasi seperti Ansor itu lebih terorganisir dari partai ini. Kedua, dia hanya populer di kalangan sedikit urban middle class. Lebih kecil lagi, dari kalangan minoritas. Dan, godam terakhir saya keluarkan, dapat 1 persen suara saja sudah untung. Sayangnya ramalan saya itu mendekati kebenaran.
Penampilan 2024 itu lebih baik. Namun bukan berarti karena lebih terorganisir tapi karena dapat sokongan dana dan pengaruh dari keluarga oligarkh yang sudah melakukan take over atas partai ini. Dan, jangan lupa, ada spanduk dan baliho yang bermunculan di seluruh Indonesia yang bergambar anak di bawah ini — bersama bapaknya tentu saja.
Apakah 2029 nanti partai ini akan benar menguasai Jawa Tengah? Tentu saya tidak berhak membuat prognosis.
“Tapi lagi-lagi pertanyaanya adalah: Kalau Gajrah kakinya berapa? Emprat!,” tutup Made Supriatma. (sam/fajar)





