Soft Saving Jadi Tren Keuangan Baru di Kalangan Gen Z, Ini Manfaat dan Risikonya

viva.co.id
14 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Dalam beberapa tahun terakhir, cara generasi muda memandang uang dan masa depan mengalami pergeseran signifikan. Jika generasi sebelumnya identik dengan menabung agresif, membeli rumah sedini mungkin, dan mempersiapkan uang pensiun sejak dini, Gen Z justru berbeda. 

Di tengah tekanan ekonomi global, biaya hidup yang melonjak, serta ketidakpastian karier, Gen Z justru berpegang pada "soft saving". Apa itu? 

Baca Juga :
Gen Z Panen Cuan, Harta Deretan Miliarder Ini Bikin Minder!
OJK: Laporan Penipuan Jasa Keuangan Turun di Periode Nataru 2025-2026

Ya, alih-alih mengejar kebebasan finansial ekstrem seperti tren FIRE (financial independence, retire early), banyak Gen Z memilih fokus pada kesejahteraan mental, pengalaman hidup, dan kenyamanan saat ini. Itulah yang membuat mereka pada akhirnya memilih soft saving. 

Mengenal Soft Saving

Ilustrasi menyisihakan uang untuk menabung dan dana darurat
Photo :
  • freepik.com/freepik

Soft saving adalah pendekatan keuangan yang menempatkan kualitas hidup dan kesejahteraan saat ini di atas kebiasaan menabung agresif untuk jangka panjang. Bagi pelakunya, menabung tetap penting, tetapi hanya dilakukan dari sisa penghasilan setelah kebutuhan hidup, kesehatan mental, dan kebahagiaan terpenuhi. 

Konsep ini sangat kontras dengan FIRE yang menuntut pengorbanan besar di masa muda demi pensiun lebih awal. 

Tren ini tidak muncul tanpa alasan. Kenaikan harga rumah, beban utang pendidikan, serta pasar kerja yang tidak stabil memaksa banyak anak muda mendefinisikan ulang arti “sukses secara finansial”. Dalam kondisi tersebut, menikmati hidup hari ini terasa lebih masuk akal dibanding menabung ketat untuk masa depan yang belum tentu terjangkau.

Melansir dari Investopedia, Minggu, 11 Januari 2026, survei Intuit 2023 menunjukkan hampir tiga perempat Gen Z lebih memilih kualitas hidup yang lebih baik dibanding tambahan uang di tabungan. Jumlah yang sama menyebut kondisi ekonomi saat ini membuat mereka ragu menetapkan tujuan jangka panjang, bahkan 66 persen mengaku tidak yakin akan pernah memiliki cukup uang untuk pensiun.

Ketidakpastian global juga berperan besar. Survei TIAA tahun 2024 mencatat 48 persen Gen Z terdorong untuk menikmati hidup saat ini akibat tantangan global, lebih tinggi dibanding mereka yang justru termotivasi merencanakan masa depan.

Meski kerap dicap boros, data menunjukkan Gen Z tidak sepenuhnya abai pada keuangan. Sebanyak 84 persen mengaku tetap menyisihkan sebagian gaji setiap bulan, dan 57 persen berusaha mematuhi anggaran. 

Baca Juga :
Cari Kerja Kantoran Makin Sulit, Sarjana Gen Z Disarankan Pelajari Skill Tukang hingga Barista
Profesi Akuntan Dinilai Kian Menarik bagi Gen Z di Era Digital, Kenapa?
Bank bjb Gandeng Duluin Perluas Layanan Keuangan Digital bagi Dunia Kerja Indonesia

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Diincar Trump, Greenland Dinilai Kaya Emas hingga Logam Tanah Jarang
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
4 Orang Tewas di Lokasi Tambang Afghanistan, Diduga Keracunan Asap
• 13 jam laludetik.com
thumb
SBMR Apresiasi Umbul Square, Mulai Bayar Kekurangan Upah 14 Eks Karyawan
• 23 jam lalurealita.co
thumb
Pemulihan Infrastruktur Pascabencana Sumatra Dikebut Jelang Ramadan
• 21 jam lalubisnis.com
thumb
Hasnur Group Salurkan Ratusan Paket Bantuan untuk Korban Banjir di Desa Sungai Batang
• 13 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.