Trump Desak Raksasa Minyak AS Benahi Industri Energi Venezuela

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak para petinggi perusahaan minyak terbesar di dunia untuk berinvestasi di industri minyak Venezuela.

Mengutip Reuters, Trump mengundang petinggi perusahaan-perusahaan raksasa itu ke Gedung Putih pada Jumat (9/1). Pada pertemuan tersebut Trump meminta perusahaan-perusahaan itu menanamkan investasi sebesar USD 100 miliar di Venezuela untuk meningkatkan produksi minyak secara besar-besaran.

Trump menjadikan minyak sebagai fokus utama strateginya untuk Venezuela, setelah pasukan AS menangkap pemimpin negara itu, Nicolas Maduro, dalam serangan semalam di ibu kota pada 3 Januari.

“Perusahaan-perusahaan Amerika akan punya kesempatan untuk membangun kembali infrastruktur energi Venezuela yang sudah rusak dan pada akhirnya meningkatkan produksi minyak ke tingkat yang belum pernah ada sebelumnya,” kata Trump saat membuka pertemuan, dikutip dari Reuters, Sabtu (10/1).

Dalam pertemuan itu hadir para eksekutif puncak dari Exxon Mobil, ConocoPhillips, Chevron, dan perusahaan lainnya. “Kami yang akan memutuskan perusahaan minyak mana yang boleh masuk,” tutur Trump.

Trump juga memuji kesepakatan dengan pemimpin sementara Venezuela untuk memasok 50 juta barel minyak mentah ke AS. Banyak kilang minyak di AS memang dirancang khusus untuk mengolah minyak Venezuela. Trump mengatakan pengiriman minyak ini akan terus berlanjut tanpa batas waktu.

“Salah satu keuntungan bagi Amerika Serikat adalah harga energi yang akan menjadi lebih murah,” ujarnya.

Pasukan AS juga terus menyita kapal tanker minyak Venezuela di laut untuk menegakkan embargo. Penyitaan kelima diumumkan pada Jumat (9/1).

Pejabat pemerintahan Trump mengatakan, AS perlu mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak Venezuela dalam jangka panjang agar negara itu bertindak sesuai kepentingan AS, termasuk mengurangi korupsi dan perdagangan narkoba.

Namun, beberapa anggota parlemen dari Partai Demokrat mengkritik kebijakan ini dan menyebutnya sebagai pemerasan. Para analis industri juga memperingatkan adanya risiko ketidakstabilan politik di Venezuela.

Perusahaan seperti Chevron, Vitol, dan Trafigura sedang bersaing untuk mendapatkan izin dari AS agar bisa menjual minyak Venezuela. Namun, perusahaan minyak besar masih ragu untuk berinvestasi jangka panjang karena biaya tinggi dan situasi politik yang tidak stabil.

CEO Exxon, Darren Woods, mengatakan saat ini Venezuela dianggap tidak layak untuk investasi. “Kami pernah dua kali aset kami disita di sana. Jadi, untuk masuk lagi untuk ketiga kalinya, dibutuhkan perubahan yang sangat besar,” katanya.

Meski begitu, dia menyebutkan dengan pemerintahan Trump dan kerja sama dengan pemerintah Venezuela, perubahan itu mungkin bisa terjadi.

Exxon dan ConocoPhillips meninggalkan Venezuela hampir 20 tahun lalu setelah aset mereka diambil alih oleh negara.

Sebaliknya, Wakil Ketua Chevron, Mark Nelson, mengatakan Chevron berkomitmen untuk berinvestasi di Venezuela. Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar AS yang masih beroperasi di negara tersebut.

Beberapa perusahaan minyak kecil dan perusahaan investasi juga diundang ke pertemuan itu. Banyak dari mereka memuji kebijakan Trump soal Venezuela dan mengatakan siap berinvestasi serta menjual minyak Venezuela.

Kurangnya investasi membuat produksi minyak Venezuela menurun drastis selama puluhan tahun. Padahal Venezuela adalah anggota OPEC dan memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi kini hanya menyumbang sekitar 1 persen dari pasokan minyak global.

Pada tahun 1970-an, Venezuela pernah memproduksi hingga 3,5 juta barel per hari, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan produksi saat ini.

Trump mengatakan AS akan menjamin keamanan fisik dan keuangan bagi perusahaan minyak yang berinvestasi di Venezuela, meski tidak menjelaskan caranya secara rinci.

Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan ada kemungkinan pemerintah AS menggunakan Bank Ekspor-Impor AS untuk membantu mendanai proyek minyak besar di Venezuela, sehingga risiko keuangan perusahaan bisa berkurang.

Trump menutup dengan mengatakan bahwa pembicaraan ini bertujuan untuk memastikan perusahaan benar-benar berinvestasi.

“Kita harus membuat mereka berinvestasi, lalu kita harus menarik kembali uang mereka secepat mungkin. Setelah itu, hasilnya bisa dibagi antara Venezuela, Amerika Serikat, dan perusahaan-perusahaan tersebut. Menurut saya ini sederhana. Rumusnya sederhana,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sindir Demokrasi Poco-poco, PDIP Kritik Wacana Pilkada Tak Langsung
• 3 menit laluidntimes.com
thumb
Prihatin dengan Ammar Zoni, Dokter Kamelia Siap Jadi Saksi di Kasus Narkoba Kekasihnya
• 21 jam lalugrid.id
thumb
Mobil Rombongan Gubernur Kaltim Terperosok ke Parit Saat Kunjungan Kerja di Mahakam Ulu
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Klarifikasi Lengkap Google Usai Terseret Kasus Korupsi Chromebook Nadiem Makarim
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Pandji Dilaporkan soal Mens Rea, LBH Jakarta : Kriminalisasi
• 22 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.