Cangkruk: Cara Orang Kediri Menjaga Ritme Hidup

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Dua sales kanvas duduk santai di bangku kayu panjang, membiarkan motor bebek mereka yang penuh kardus berteduh di bawah pohon kersen. Jaket parasit yang berdebu mereka buka ritsletingnya agar hawa dingin es teh plastik bisa meredam gerah. Di meja, piring berisi gorengan hangat menjadi rebutan saat mereka mulai berkelakar.

“Targetmu kurang piro, Le?” tanya yang lebih tua sambil mencocol tahu ke sambal petis. “Kacek titik, Mas. Penting dicipoti sithik-sithik, sing penting kumpul,” jawab rekannya sambil tertawa renyah.

Meski peluh bercucuran, suasana jadi cair saat pemilik warung ikut menyahut guyonan dari balik rombong. Mereka tidak lagi bicara omzet, hanya saling lempar tawa, seolah beban target toko hilang tertiup angin pematang.

Di warung itu, orang-orang duduk bukan untuk menyelesaikan apa pun, tidak juga benar-benar sedang melarikan diri. Mereka hanya memberi ruang pada jeda; pada tubuh yang panas, pikiran yang penuh, dan hari yang masih panjang. Kota, di luar warung kecil itu, terus bergerak. Namun di sini, ia menurunkan kecepatannya sebentar agar bisa berjalan lagi dengan lebih utuh.

Pemandangan semacam itu bisa ditemui di banyak sudut Kediri, muncul begitu saja di bawah rindang pohon atau di tepi gang yang dilalui orang setiap hari. Tidak ada yang merasa aneh melihat orang berhenti sejenak dan duduk berlama-lama. Seolah kota ini memang menyediakan ruang bagi siapa pun untuk melepas penat, bahkan di jam-jam yang biasanya dianggap sibuk.

Di Kediri, kebiasaan duduk semacam itu punya nama sendiri. Orang-orang menyebutnya cangkruk. Kata yang tidak pernah dijelaskan panjang-panjang karena semua sudah tahu rasanya. Ia diucapkan santai, sering kali sambil tersenyum, seolah tidak sedang menyebut sesuatu yang penting, padahal justru sebaliknya.

Ajakan cangkruk jarang terdengar resmi. Tidak ada kalimat pembuka yang rapi. Kadang hanya anggukan kepala, sapaan singkat, atau kalimat pendek, “Mampir sek,” yang artinya lebih dekat pada berbagi waktu daripada membuat janji. Tidak ada kepastian berapa lama, tidak ada agenda apa yang harus dibicarakan. Datang ya datang, pergi ya pergi.

Istilah ini terasa berbeda dengan “nongkrong” yang belakangan lebih sering dipakai. Bukan karena salah satu lebih baik, melainkan karena logika di baliknya tidak sama. Cangkruk tidak menuntut alasan kenapa orang duduk lama. Ia tidak memerlukan tempat tertentu untuk sah disebut terjadi. Selama ada orang dan ada waktu yang dilonggarkan, cangkruk sudah berjalan.

"Oh, jadi ini yang disebut cangkruk."

Di banyak tempat, nongkrong biasanya dimulai dengan satu pertanyaan: Di mana? Tempat menjadi titik awal. Orang memilih lokasi, menimbang suasana, lalu menyesuaikan diri dengan ruang yang sudah ditentukan. Duduk mengikuti meja, obrolan mengikuti durasi, dan pulang sering kali diputuskan oleh jam.

Cangkruk bekerja dari arah sebaliknya. Ia dimulai dari siapa. Kalau sudah bertemu orangnya, tempat menjadi urusan belakangan. Bangku kayu, tikar, teras rumah, atau warung kecil di tengah sawah sama-sama sah. Ruang tidak memimpin perilaku, melainkan orang-orang lah yang mengisi dan mengaturnya sendiri.

Dalam nongkrong, waktu kerap terasa seperti sesuatu yang harus dikelola. Ada kesadaran halus tentang durasi: terlalu sebentar terasa kurang, terlalu lama terasa berlebihan. Dalam cangkruk, waktu tidak diberi tekanan semacam itu. Duduk bisa sebentar, bisa lama, tanpa perlu alasan. Kalau cukup, orang bangkit. Kalau belum, tinggal.

Nongkrong sering membawa serta kebutuhan untuk hadir dengan sesuatu; cerita menarik, rencana, atau setidaknya ekspresi yang pantas dibagi. Cangkruk lebih longgar. Orang boleh datang dengan kepala penuh atau kosong. Boleh bicara, boleh diam. Kehadiran tidak ditimbang dari seberapa banyak yang disumbangkan ke obrolan.

Perbedaan ini tidak membuat yang satu lebih unggul dari yang lain. Keduanya lahir dari kebutuhan yang berbeda. Namun di Kediri, kebiasaan lama itu masih bertahan karena ia memberi ruang pada jeda, sesuatu yang semakin jarang ditemui di kota-kota yang bergerak cepat.

Terkadang seseorang mengeluh pelan tentang panas, tentang jalan yang memutar, ataupun tentang hari yang terasa berat tanpa sebab yang jelas. Tidak ada respons panjang. Paling hanya tawa kecil, atau kalimat pendek yang menggantung, "Yo ngono kuwi." Aneh rasanya, keluhan itu tidak benar-benar selesai, tapi juga tidak terasa menumpuk lagi.

Ada momen ketika obrolan terputus oleh gorengan yang habis, atau oleh pembeli lain yang datang dan disapa sebentar. Setelah itu, duduk berlanjut begitu saja. Tidak perlu mengulang topik. Tidak ada yang merasa pembicaraan harus utuh dari awal sampai akhir.

Di situ, orang tidak datang untuk diperbaiki. Tidak ada yang berusaha memberi solusi, apalagi menilai. Yang terjadi hanyalah berbagi ruang: ruang untuk lelah, untuk diam, untuk tertawa kecil tanpa harus menjelaskan kenapa lucu. Sesuatu yang ringan berpindah dari satu orang ke yang lain, tanpa pernah disebut namanya.

Ketika akhirnya satu per satu bangkit, tidak ada penutup resmi. Tidak ada kesimpulan. Orang pergi membawa hal yang sama samarannya dengan saat datang, hanya sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya hilang, melainkan karena tadi tidak ditanggung sendirian.

Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah kota ini membentuk ritmenya sendiri. Kediri tidak terasa sibuk dengan cara yang menekan. Lalu lintas memang padat di jam-jam tertentu, pekerjaan berjalan seperti biasa, target tetap ada. Namun, di sela-selanya selalu ada jeda yang dimaklumi. Berhenti sebentar tidak dianggap mengganggu. Duduk lama tidak langsung dicurigai sebagai malas.

Kota ini seolah memahami bahwa warganya bukan mesin yang harus terus bergerak. Ada waktu-waktu ketika orang perlu melambat agar bisa kembali menyatu dengan harinya. Dan karena jeda itu diterima secara sosial, orang tidak perlu mencurinya diam-diam. Ia tersedia, terbuka, dan wajar.

Itulah sebabnya ruang-ruang duduk tumbuh tanpa pernah direncanakan secara resmi. Bangku kayu, warung kecil, sampai kafe yang lebih modern, semuanya bekerja dengan logika yang sama: memberi tempat bagi orang untuk hadir tanpa tekanan. Bukan sekadar ruang fisik, melainkan juga ruang sosial yang mengizinkan orang berhenti tanpa harus merasa bersalah.

Pelan-pelan, dari cara duduk inilah kota menjaga dirinya. Bukan dengan mempercepat segalanya, melainkan dengan memastikan ada cukup ruang bagi warganya untuk tetap utuh saat bergerak.

Jika ditarik sedikit lebih jauh, kebiasaan berhenti bersama ini bukan sekadar soal kenyamanan sosial, melainkan juga cara sebuah kota merawat daya tahannya. Peradaban tidak selalu runtuh karena kekurangan ide atau tenaga, tetapi karena warganya kehabisan ruang untuk menurunkan ketegangan hidup sehari-hari. Di banyak tempat, kelelahan dibiarkan menumpuk sampai berubah menjadi jarak, kecurigaan, bahkan kemarahan.

Di Kediri, jeda-jeda kecil seperti cangkruk bekerja sebagai katup pelepas yang nyaris tak terlihat. Orang belajar menunggu giliran bicara, membiarkan cerita orang lain selesai, dan menerima bahwa tidak semua hal perlu diselesaikan saat itu juga.

Dari situ tumbuh kesabaran kolektif. Kemampuan untuk tidak tergesa menarik kesimpulan, tidak cepat membenturkan perbedaan, dan tidak memaksa hari berjalan lebih cepat dari yang sanggup dijalani manusia.

Peradaban yang bertahan lama bukanlah yang terus berlari, melainkan yang tahu kapan harus melambat bersama. Bukan karena menolak kemajuan, melainkan karena paham bahwa hidup yang dipercepat tanpa jeda hanya akan memendekkan napasnya sendiri.

Pada akhirnya, cangkruk bukan soal kopi, bangku kayu, atau warung pinggir sawah. Ia adalah cara orang Kediri memastikan bahwa hidup tidak dijalani sendirian dan tidak dipaksa terus berlari. Di sela panas siang, target yang belum tercapai, dan jalan yang harus ditempuh lagi, selalu ada ruang untuk duduk sebentar tanpa harus menjelaskan apa pun.

Kota ini bergerak, tapi tidak tergesa. Ia memberi waktu bagi warganya untuk menurunkan napas, membiarkan lelah mengendap, lalu melanjutkan hari dengan kepala yang lebih ringan. Seperti kopi tubruk yang diaduk perlahan, ia tidak perlu disaring dan tidak perlu dipercepat. Ampasnya dibiarkan turun sendiri. Pahit dan hangatnya bertemu di dasar gelas.

Mungkin itulah sebabnya Kediri bisa terus berjalan tanpa banyak gaduh. Bukan karena tidak punya ambisi, melainkan karena tahu, bahwa yang ingin bertahan lama harus memberi ruang untuk berhenti bersama.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tren Rumah Americana 2026: Desain Klasik Bernilai Mahal dan Investasi Tinggi
• 3 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Presiden Prabowo Akan Resmikan Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Wujud Komitmen Atasi Kemiskinan Melalui Pendidikan
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Rocky Gerung Ngaku Girang Hadir di HUT ke-53 PDIP, Puji Pidato Megawati: Jernih, Tulus, dan Berani
• 19 jam lalusuara.com
thumb
Jumpa Pers Kasus Suap Pegawai Pajak Jakut, KPK Tak Tampilkan Tersangka
• 6 jam lalurealita.co
thumb
Megawati Minta Kader PDIP Gotong Royong Pulihkan Sumatra Pascabencana
• 22 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.