Dalil menyentil “Kapitil”

antaranews.com
14 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - “Kata ini mestinya ditulis kapitil,” ujar Tiara Puspanidra, seorang dosen kepada mahasiswa yang tengah bimbingan penyusunan skripsi pada Kamis pagi, 8 Januari 2026.

Suasana ruang sepi, sehingga ujaran itu terdengar jelas. Mahasiswa itu mafhum. Ia memahami makna kapitil, tampak dari anggukan kepalanya. Anggota masyarakat mulai menggunakan kata kapitil untuk menyampaikan pesan dalam komunikasi.

Baru-baru ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (selanjutnya ditulis Badan Bahasa) menambah lema kapitil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Arti kata baru itu adalah kecil, mengacu pada penulisan huruf seperti a, b, dan c, namun, sepekan terakhir banyak akun media sosial yang menyoal keputusan untuk memasukkan lema kapitil ke dalam kamus. Entri baru itu antonim kapital merujuk pada besar (penulisan huruf A, B, C, dan seterusnya).

Sepanjang 2025 Badan Bahasa menambah 3.259 lema baru, sehingga jumlah keseluruhan entri mencapai 210.595. Dari ribuan entri baru, lema kapitil menyedot perhatian publik. Reaksi masyarakat terbelah, ada yang pro, muncul juga kontra terhadap kata kapitil.

Harus diingat, KKBI juga menambahkan kata cak. pada lema itu, menandakan bahwa kapitil itu digunakan dalam bahasa tidak baku atau percakapan sehari-hari. Meski begitu, tetap saja ada yang kontra. “Seminggu ini kami betul-betul disibukkan dengan masalah entri kapitil ini,” ujar Kepala Redaksi KBBI Dewi Puspita.

Badan Bahasa lazimnya menggunakan lima saringan, ketika menetapkan satu lema di KBBI, yakni unik, eufonik, sesuai kaidah bahasa Indonesia, kerap dipakai, dan tidak berkonotasi negatif.

Apakah kapitil unik atau belum memiliki makna dalam bahasa Indonesia? Ya, kapitil memenuhi syarat itu. Meski kita dapat menggunakan bentuk nonkapital untuk menyebut huruf kecil.

Sementara kata onderkas yang bemakna sama, jarang sekali terdengar dalam komunikasi sehari-hari. Kata pinjaman dari bahasa Belanda itu sejatinya lebih bersifat formal.

Kriteria kedua, eufonik, dalam penetapan kapitil masih nisbi. Bagi sebagian orang, kapitil mungkin tidak enak didengar. Mereka menganggap kapitil tidak eufonik.

Bagaimana dengan frekuensi pemakaian kata? Menurut Dewi Puspita, semula kata itu digunakan di kalangan internal Pusat Bahasa, baik pusat maupun daerah, sebagai bentuk seloroh.

Artinya, penggunaan kata itu sebelum ditetapkan sebagai lema dalam KBBI sangat terbatas. Setidaknya jika dibanding dengan kata ambyar (bercerai-berai), bumil (ibu hamil), atau bocil (bocah kecil) yang populer sebelum ditetapkan sebagai entri dalam kamus.



Penerimaan masyarakat

Bagaimana dengan kriteria tidak berkonotasi negatif? Pada umumnya masyarakat menentang kapitil pada aspek itu. Bagi mereka, kata kapitil berkonotasi negatif.

Hal itu menjadi dalil bagi mereka yang kontra untuk menyentil lema kapitil karena dianggap berkaitan dengan organ kewanitaan. Tabu, tidak pantas, itu versi kelompok yang kontra.

Di sisi lain, secara sosiolinguistik masyarakat Ternate, Provinsi Maluku Utara, menyebut telang untuk tanaman merambat berbunga ungu. Dalam bahasa setempat, kata telang bermakna klitoris karena secara morfologi, bentuk bunga mirip organ kewanitaan.

Dian Intan, warga yang puluhan tahun tinggal di Ternate, mengatakan masyarakat lokal biasa saja mengucapkan kata itu, tanpa canggung. KBBI juga menyebut lema telang, antara lain berarti tanaman bernama ilmiah Clitoria ternatea.

Sampai-sampai naturalis dari Gdansk, Polandia, Jacob Breyne (14 Januari 1637 – 25 Januari 1697), menyebut bunga itu flos clitoridis ternatensibus, berarti bunga klitoris ternate.

Breyne yang terpesona pada sosok telang mempertelakan tanaman itu pada 1678. Nama genus tanaman anggota famili Fabaceae itu Clitoria merujuk pada bentuk bunga.

Sementara nama spesies tanaman yang kaya senyawa antioksidan (berupa antosianin) itu ternatea merujuk pada tanah leluhur bunga Clitoria ternatea, yakni Ternate.

Benar, bahasa itu bersifat arbitrer dan konvensional. Sifat arbitrer, kaitan antara bunyi kata dan makna tidak ada hubungan alami juga berlaku untuk kapitil dan maknanya (huruf kecil). Jadi, pemilihan kata dan maknanya itu bersifat manasuka.

Selain itu bahasa juga bersifat konvensional. Kata kapitil menjadi bermakna jika di antara penutur (komunikator dan komunikan) sepakat akan makna kata itu dalam pertukaran pesan.

Jika sebaliknya, tidak ada konvensi, maka komunikasi tidak efektif atau bahkan gagal. Kedua sifat bahasa itu (antara arbitrer dan konvensional) itu komplementer alias saling melengkapi. Pemilihan kapitil bersifat arbitrer, lalu terjadi konvensi atau diakui dan digunakan secara konsisten oleh pelaku komunikasi.

Kasus “kapitil” itu bukti bahwa tidak semua masyarakat menerima begitu saja usulan entri baru. Oleh karena itu, pada masa mendatang, menurut Dewi Puspita, Badan Bahasa juga harus mempertimbangkan pemerimaan masyarakat, ketika menetapkan lema baru. Keruan saja, masyarakat juga harus memahami cara membaca KBBI dengan benar.

Kita akan melihat bersama apakah masyarakat menggunakan lema baru itu dalam komunikasi, seperti percakapan dosen-mahasiswa di atas atau justru terjadi peyorasi makna yang lama dianggap lebih tinggi, tepat nilai rasa, dan konotasinya dibanding dengan kata yang baru.

Apakah kata onderkas lebih tepat nilai rasa dibanding dengan kapitil? Apakah kapitil akan mengikuti jejak mangkus dan sangkil yang “ditinggalkan” oleh para penuturnya? Entahlah, biarkan waktu yang menjawab kelak.



*) Dr Sardi Duryatmo, MSi adalah dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pakuan

​​​​​​​


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wabup Resmikan SPPG Pertama di Kalipare, Fokus pada Gizi Anak dan Kesejahteraan Lokal
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Kronologi Ibu di Kebumen Bunuh Diri Bareng Anaknya Usia 5 Tahun, Disaksikan Putranya yang Masih 7 Tahun, Diduga Depresi Ditinggal Suami
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadi Komisaris BUMN, Tokoh NU Ini Pertanyakan Kasus Ade Armando, Heran dengan Penunjukannya
• 14 jam lalufajar.co.id
thumb
Megawati Pantau Penyaluran Bantuan ke Sumatera, Ungkit Momen saat Jadi Wapres
• 3 jam laludetik.com
thumb
Donald Trump Pertimbangkan Serangan Militer AS ke Iran
• 4 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.