JAKARTA - Amerika Serikat dan pasukan sekutu melancarkan serangan skala besar terhadap target kelompok ISIS di Suriah, Sabtu (10/1/2026).
Hal ini sebagaimana diumumkan Komando Pusat AS (Centcom).
1. Serang ISIS di Suriah
Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan tersebut pada hari Sabtu, yang merupakan bagian dari Operasi Hawkeye Strike, sebagai balasan atas serangan mematikan ISIS terhadap pasukan AS di Suriah pada 13 Desember, tulis Centcom di X.
Serangan tersebut dilakukan dalam upaya memerangi terorisme dan melindungi pasukan AS dan sekutunya di wilayah tersebut, menurut Centcom, melansir BBC, Minggu (11/1/2026).
"Pesan kami tetap tegas: jika Anda melukai prajurit kami, kami akan menemukan dan membunuh Anda di mana pun di dunia, tidak peduli seberapa keras Anda mencoba menghindari keadilan," kata Centcom.
AS dan pasukan sekutunya menembakkan lebih dari 90 amunisi presisi ke lebih dari 35 target dalam operasi yang melibatkan lebih dari 20 pesawat, kata seorang pejabat kepada CBS News, mitra BBC di AS.
Pejabat tersebut menambahkan, pesawat-pesawat termasuk F-15E, A-10, AC-130J, MQ-9, dan F-16 Yordania telah ikut serta dalam serangan tersebut.
Lokasi serangan dan jumlah korban belum jelas.
"Kami tidak akan pernah lupa, dan tidak akan pernah menyerah," tulis Menteri Pertahanan Pete Hegseth di X pada Sabtu, merujuk pada aksi militer tersebut.
Pemerintahan Trump pertama kali mengumumkan Operasi Hawkeye Strike pada Desember setelah seorang anggota ISIS membunuh dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil AS dalam penyergapan di Palmyra, yang terletak di pusat Suriah.
"Ini bukan awal dari perang - ini adalah deklarasi pembalasan," kata Hegseth ketika mengumumkan operasi tersebut pada bulan Desember.
"Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Presiden Trump, tidak akan pernah ragu dan tidak akan pernah menyerah untuk membela rakyat kami."

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461740/original/090215100_1767436894-1.jpg)