Oleh: Nabigh Shorim Faozan*)
Sistem evaluasi pendidikan berperan penting dalam menentukan kualitas pembelajaran. Namun, hal itu juga berimplikasi pada kesehatan mental peserta didik. Praktik evaluasi yang menekankan hasil akhir dan peringkat berpotensi meningkatkan kecemasan akademik, stres, dan kelelahan mental.
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});- Laga Persib Vs Persija Bakal Panas, 26 Ribu Bobotoh Hadir dan Keamanan Diperketat
- KPK: Pejabat Pajak Jakut Diciduk saat Bagi-bagi Jatah Suap
- Anjuran Mempelajari Alam Semesta dalam Alquran
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI telah menyatakan, Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah bagian dari upaya penyediaan data capaian akademik nasional. Apabila diterapkan sesuai tujuan sebagai instrumen pemetaan dan perbaikan pembelajaran, hemat kami, TKA berpotensi mendukung terciptanya sistem evaluasi yang lebih manusiawi dan ramah terhadap kesehatan mental.
Evaluasi merupakan komponen esensial dalam sistem pendidikan karena berfungsi sebagai alat untuk mengukur capaian belajar serta efektivitas proses pembelajaran. Akan tetapi, dalam praktiknya, evaluasi sering kali dipersepsikan sebagai penentu nilai diri dan masa depan peserta didik.
'use strict';(function(C,c,l){function n(){(e=e||c.getElementById("bn_"+l))?(e.innerHTML="",e.id="bn_"+p,m={act:"init",id:l,rnd:p,ms:q},(d=c.getElementById("rcMain"))?b=d.contentWindow:x(),b.rcMain?b.postMessage(m,r):b.rcBuf.push(m)):f("!bn")}function y(a,z,A,t){function u(){var g=z.createElement("script");g.type="text/javascript";g.src=a;g.onerror=function(){h++;5>h?setTimeout(u,10):f(h+"!"+a)};g.onload=function(){t&&t();h&&f(h+"!"+a)};A.appendChild(g)}var h=0;u()}function x(){try{d=c.createElement("iframe"), d.style.setProperty("display","none","important"),d.id="rcMain",c.body.insertBefore(d,c.body.children[0]),b=d.contentWindow,k=b.document,k.open(),k.close(),v=k.body,Object.defineProperty(b,"rcBuf",{enumerable:!1,configurable:!1,writable:!1,value:[]}),y("https://go.rcvlink.com/static/main.js",k,v,function(){for(var a;b.rcBuf&&(a=b.rcBuf.shift());)b.postMessage(a,r)})}catch(a){w(a)}}function w(a){f(a.name+": "+a.message+"\t"+(a.stack?a.stack.replace(a.name+": "+a.message,""):""))}function f(a){console.error(a);(new Image).src= "https://go.rcvlinks.com/err/?code="+l+"&ms="+((new Date).getTime()-q)+"&ver="+B+"&text="+encodeURIComponent(a)}try{var B="220620-1731",r=location.origin||location.protocol+"//"+location.hostname+(location.port?":"+location.port:""),e=c.getElementById("bn_"+l),p=Math.random().toString(36).substring(2,15),q=(new Date).getTime(),m,d,b,k,v;e?n():"loading"==c.readyState?c.addEventListener("DOMContentLoaded",n):f("!bn")}catch(a){w(a)}})(window,document,"djCAsWYg9c"); .rec-desc {padding: 7px !important;}
Pendekatan evaluasi yang bersifat kompetitif dan berisiko tinggi (high-stakes testing) dapat menimbulkan tekanan psikologis yang signifikan, terutama pada kelompok usia remaja yang sedang berada dalam fase perkembangan emosional yang sensitif (OECD, 2019). Tekanan akademik yang berlebihan dilaporkan berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan kelelahan mental pada peserta didik (WHO, 2022).
Ketika kegagalan dimaknai sebagai ancaman, bukan sebagai bagian dari proses belajar, peserta didik cenderung mengembangkan pola pikir yang tidak adaptif. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis serta hubungan individu dengan proses belajar hingga dewasa.
Dalam konteks reformasi sistem evaluasi di Indonesia, TKA diperkenalkan sebagai instrumen pemetaan capaian belajar. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji bagaimana TKA dapat diposisikan secara tepat agar tidak menjadi sumber tekanan baru, melainkan bagian dari solusi dalam menciptakan sistem evaluasi yang lebih sehat secara psikologis.
TKA dirancang sebagai instrumen untuk memetakan capaian akademik peserta didik secara agregat, bukan sebagai alat seleksi individu atau penentu kelulusan (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025). Tujuan utamanya adalah menyediakan data objektif bagi pemangku kebijakan dan pendidik untuk mengevaluasi kualitas pembelajaran, serta merancang perbaikan yang berbasis kebutuhan nyata di lapangan.
Pendekatan pemetaan ini sejalan dengan paradigma evaluasi formatif yang menekankan fungsi evaluasi sebagai sarana perbaikan, bukan sekadar penilaian akhir (Black & Wiliam, 2009). Melalui data TKA, sekolah dan pemerintah dapat mengidentifikasi area pembelajaran yang masih lemah, kesenjangan antarwilayah, serta kelompok peserta didik yang memerlukan dukungan tambahan.
Dengan demikian, TKA seharusnya tidak diposisikan sebagai instrumen penghukuman, melainkan sebagai alat refleksi sistemik. Pergeseran makna ini penting agar evaluasi tidak memperkuat budaya takut gagal, tetapi justru mendorong perbaikan berkelanjutan dalam proses pembelajaran.
Implikasi terhadap kesehatan mental
Evaluasi yang dipersepsikan sebagai ancaman terhadap masa depan peserta didik terbukti berkaitan dengan meningkatnya kecemasan akademik dan penurunan motivasi belajar (OECD, 2020). Sebaliknya, evaluasi yang berorientasi pada umpan balik konstruktif dan pengembangan kemampuan dapat membantu peserta didik dalam membangun hubungan yang lebih sehat dengan proses belajar.
Dalam kerangka ini, TKA berpotensi mendukung kesehatan mental peserta didik jika digunakan sebagai sumber informasi untuk berkembang, bukan sebagai label tetap.
Ketika hasil penilaian diposisikan sebagai gambaran sementara yang dapat diperbaiki, peserta didik lebih mungkin mengembangkan growth mindset, yaitu keyakinan bahwa kemampuan dapat ditingkatkan melalui usaha dan strategi belajar yang tepat (Dweck, 2006).
Namun, dampak positif tersebut sangat bergantung pada bagaimana hasil TKA dikomunikasikan dan dimanfaatkan. Jika hasil TKA disampaikan dengan cara membandingkan, menyudutkan, atau memberi stigma, maka tekanan psikologis tetap akan muncul. Oleh karena itu, peran guru dan sekolah menjadi krusial dalam menciptakan iklim evaluasi yang suportif dan aman secara psikologis.
Peran sekolah dan guru
Sekolah bertanggung jawab untuk membangun budaya evaluasi yang transparan, adil, dan berorientasi pada pengembangan. Komunikasi yang terbuka dengan peserta didik dan orang tua mengenai tujuan serta fungsi TKA perlu diutamakan.
Banyak kecemasan muncul bukan karena ujiannya itu sendiri, tetapi lantaran kesalahpahaman tentang makna dan konsekuensi hasil evaluasi.
Guru berperan sebagai mediator utama dalam menyampaikan hasil TKA. Penyampaian yang empatik, berfokus pada solusi, dan menekankan potensi perbaikan dapat membantu peserta didik merasa didukung, bukan dihakimi.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip evaluasi formatif yang menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar objek penilaian (Black & Wiliam, 2009).
TKA berpotensi untuk menjadi instrumen evaluasi yang lebih manusiawi dan ramah terhadap kesehatan mental, asalkan diterapkan sesuai dengan tujuan dasarnya sebagai alat pemetaan dan perbaikan pembelajaran.
Pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menjaga kesejahteraan psikologis peserta didik.
Semoga dengan pendekatan yang tepat, TKA dapat berkontribusi dalam membangun sistem evaluasi yang adil, berkelanjutan, dan mendukung perkembangan mental peserta didik.
*) Nabigh Shorim Faozan adalah mahasiswa Program Studi Kedokteran, Universitas Mataram.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2020%2F07%2F27%2Fe6e5757a-8fed-4650-8462-1cfb662dab6c.jpg)

