Harga minyak naik sekitar 2 persen pada Jumat (9/1/2026), didorong meningkatnya kekhawatiran pasokan seiring memanasnya aksi protes di Iran.
IDXChannel - Harga minyak naik sekitar 2 persen pada Jumat (9/1/2026), didorong meningkatnya kekhawatiran pasokan seiring memanasnya aksi protes di Iran, negara produsen minyak, serta eskalasi serangan dalam perang Rusia-Ukraina.
Kontrak berjangka (futures) Brent ditutup naik 2,18 persen ke USD63,34 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat USD1,36 atau 2,35 persen ke USD59,12 per barel.
Kedua acuan tersebut telah melonjak lebih dari 3 persen pada Kamis, setelah dua hari berturut-turut melemah. Secara mingguan, Brent naik sekitar 4 persen, sedangkan WTI bertambah sekitar 3 persen.
“Pemberontakan di Iran membuat pasar tetap waspada,” kata Analis Senior Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.
Kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi minyak Iran meningkat seiring memburuknya kerusuhan sipil di negara Timur Tengah tersebut.
“Protes di Iran tampak semakin menguat, sehingga pasar khawatir akan gangguan pasokan,” ujar Kepala Analisis Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.
Pada Kamis, dilaporkan terjadi pemadaman internet secara nasional di Iran, di tengah berlanjutnya protes atas kesulitan ekonomi di Teheran, kota-kota besar seperti Mashhad dan Isfahan, serta wilayah lain di seluruh negeri.
Survei menunjukkan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memompa 28,40 juta barel per hari pada bulan lalu, turun 100.000 barel per hari dari total November yang telah direvisi. Iran dan Venezuela mencatat penurunan terbesar.
Kekhawatiran meluasnya perang Rusia-Ukraina turut menambah tekanan pada sisi pasokan. Militer Rusia menyatakan pada Jumat telah meluncurkan rudal hipersonik Oreshnik ke sejumlah target di Ukraina.
Target tersebut mencakup infrastruktur energi yang mendukung kompleks industri militer Ukraina, demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia.
Meski demikian, persediaan minyak global dilaporkan meningkat dan risiko kelebihan pasokan tetap menjadi faktor utama yang berpotensi menahan kenaikan harga, menurut Haitong Futures.
Selama risiko di Iran tidak meningkat lebih jauh, pemulihan harga diperkirakan terbatas dan sulit bertahan.
Di sisi lain, Gedung Putih dijadwalkan bertemu dengan perusahaan minyak dan rumah dagang pada Jumat sore untuk membahas kesepakatan ekspor Venezuela.
Presiden AS Donald Trump menuntut agar Venezuela memberikan akses penuh kepada AS atas sektor minyaknya, menyusul penangkapan pemimpin negara tersebut, Nicolas Maduro, oleh Washington pada Sabtu. Pejabat pemerintahan Trump menyatakan AS akan mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak Venezuela tanpa batas waktu.
Raksasa minyak Chevron Corp, bersama rumah dagang global Vitol dan Trafigura, serta perusahaan lain, bersaing mendapatkan kesepakatan dengan pemerintah AS untuk memasarkan hingga 50 juta barel minyak yang terakumulasi dalam persediaan perusahaan minyak milik negara PDVSA, di tengah embargo minyak yang ketat.
“Pasar akan mencermati hasilnya dalam beberapa hari ke depan, terkait bagaimana minyak Venezuela yang tersimpan akan dijual dan dikirimkan,” kata Strategis Pasar Moomoo ANZ Tina Teng.
Sementara itu, jumlah rig minyak dan gas AS, indikator awal produksi di masa depan, turun dua unit menjadi 544 pekan ini, level terendah sejak pertengahan Desember, menurut laporan mingguan perusahaan jasa energi Baker Hughes. (Aldo Fernando)



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F11%2Ff55d57bea7791cf0261455b97ca89382-Screenshot_2026_01_11_112503.png)
