Bisnis.com, JAKARTA — Pengalihan kepemilikan sebagian saham Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia kepada Badan Pengaturan (BP) BUMN dinilai menjadi katalis positif bagi prospek emiten pelat merah di pasar modal.
Langkah tersebut dipandang mampu memperbaiki tata kelola sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap BUMN ke depan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai struktur baru ini menciptakan batasan peran yang lebih jelas antara regulator dan operator, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025.
Dalam skema ini, BP BUMN akan mengemban mandat untuk fokus pada pengawasan kinerja dan tata kelola. Sementara itu, Danantara sebagai pengelola investasi yang lebih fleksibel dan berorientasi pada dinamika pasar.
“Kehadiran struktur baru ini memberikan sentimen positif bagi investor karena meningkatkan profesionalisme manajemen serta memberikan perlindungan hukum bagi direksi melalui prinsip business judgment rule yang ditegaskan dalam regulasi terbaru,” ucap Abida saat dihubungi baru-baru ini.
Atas dasar penguatan fundamental dan reformasi tata kelola, BRI Danareksa menjagokan sejumlah saham BUMN sebagai pilihan utama di 2026.
Baca Juga
- Daftar Proyek Danantara Siap Groundbreaking Awal 2026
- Pesta Cuan Saham Grup Bakrie Awal 2026, BNBR Naik Lebih dari 60%
- APBD Jabar Tersisa Rp500.000, Kang Dedi Sebut Kerjakan Layanan Dasar
Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) direkomendasikan dengan target harga Rp5.500 per saham seiring dominasinya di segmen korporasi, sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dipatok pada target Rp4.700 berkat valuasi yang atraktif dan dividen kompetitif.
Untuk sektor infrastruktur dan telekomunikasi, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) masuk dalam daftar pilihan dengan target harga Rp4.750 yang didukung oleh optimalisasi ruas tol baru dan efisiensi beban bunga.
Di sisi lain, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) diproyeksikan menuju level Rp4.000 per saham. Pertumbuhan TLKM diyakini akan ditopang oleh ekspansi masif di bisnis pusat data atau data center serta pengembangan unit infrastruktur digital atau InfraCo yang kian matang.
--
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



