Pantau - Sekitar 100 warga Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang menggelar aksi damai menolak aktivitas tambang pasir hitam di kaki Gunung Slamet, tepatnya di wilayah Desa Gandatapa.
Aksi dilakukan pada Minggu, 11 Januari 2026, di area tambang yang berada di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus.
Tidak ada orasi dalam aksi tersebut, melainkan pengecekan langsung terhadap kondisi lahan yang rusak akibat tambang dan pemasangan spanduk penolakan di pagar serta pintu masuk area tambang.
Warga Kritik Dampak Lingkungan dan InfrastrukturKoordinator aliansi, Eka Wisnu, menyebut aksi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Gandatapa yang terdampak langsung oleh aktivitas pertambangan.
“Kita sifatnya bersolidaritas dengan warga Gandatapa pada khususnya untuk memasang spanduk yang pada intinya adalah menolak tambang, karena dampaknya sangat dirasakan, apalagi untuk generasi kita ke depan. Anak cucu kita semua bisa diwarisi bencana,” ujarnya.
Salah satu dampak yang paling dirasakan warga adalah kerusakan infrastruktur jalan dalam waktu singkat akibat lalu lalang kendaraan berat dari aktivitas tambang.
Eka menyebut bahwa jalan yang sebelumnya baru diperbaiki kini kembali rusak di sejumlah titik.
Ia menilai pihak tambang tidak pernah bertanggung jawab atas perbaikan, sementara anggaran selalu ditanggung pemerintah.
Selain itu, warga juga mengeluhkan penurunan debit air yang memengaruhi kebutuhan rumah tangga dan pertanian.
Kondisi ini dinilai akan semakin memburuk jika aktivitas tambang terus berlangsung tanpa pengawasan yang ketat.
Warga Minta Tambang Ditutup PermanenEka menyebutkan bahwa di lokasi tambang sudah terdapat papan peringatan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH Republik Indonesia.
Tanda tersebut menunjukkan bahwa lokasi tambang berada dalam pengawasan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup.
Namun, ia menyayangkan aktivitas tambang tetap berjalan seperti biasa meski ada pengawasan dari KLH.
“Pengawasan dari KLH ada, tapi aktivitas penambangan tetap berjalan seperti biasa. Kita ini bukan alergi aturan, tapi yang kita pertimbangkan justru efek dan dampak jangka panjangnya,” ungkapnya.
Aliansi menyatakan harapan utama warga adalah penutupan total terhadap tambang, bukan hanya penundaan atau penutupan sementara.
“Harapan dari warga, tambang ini ditutup total. Sampai sekarang belum ada tindakan penutupan, masih dalam tahap-tahap berikut dan aktivitas masih jalan,” pungkas Eka.




