Libur Nataru Dongkrak Ekonomi Kreatif Rp 24,46 T, Kuliner Jadi Penopang Utama

katadata.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 memberikan dorongan signifikan bagi sektor ekonomi kreatif nasional. Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mencatat nilai kontribusi ekonomi kreatif mencapai Rp 24,46 triliun selama periode tersebut, menjadikannya salah satu motor utama tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

Direktorat Kajian Manajemen Strategis Kementerian Ekraf menilai lonjakan ini menunjukkan peran ekonomi kreatif yang semakin dominan dalam pola belanja masyarakat selama libur panjang. Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menjelaskan capaian tersebut tidak bersifat sementara dan mencerminkan potensi strategis yang dapat dikelola secara berkelanjutan.

“Data ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya ikut terdorong oleh momentum libur panjang, tetapi mampu menjadi tulang punggung perputaran ekonomi jika dirancang sebagai strategi tahunan yang terintegrasi,” ujar Menteri Ekraf dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Minggu (11/1)

Kajian Kementerian Ekraf menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah pada produk kreatif, seperti kuliner lokal, fesyen, kriya, serta pengalaman hiburan dan seni. Pergeseran minat ini memperkuat posisi subsektor ekraf sebagai pengisi utama belanja masyarakat selama periode liburan, sekaligus membuka ruang perluasan pasar bagi jenama lokal di berbagai daerah.

Berdasarkan jejak digital konsumen melalui Google Trends, minat terhadap kuliner meningkat tajam pada 28 Desember 2025, sementara pencarian terkait hotel kembali melonjak pada 31 Desember 2025 saat puncak perayaan.

Pada 25–26 Desember 2025, minat terhadap hiburan keluarga, termasuk bioskop, berada di titik tertinggi. Pola ini menunjukkan bahwa konsumsi ekraf mengikuti ritme liburan dan dapat dipetakan untuk mendukung perencanaan distribusi serta promosi produk kreatif.

Hasil survei kinerja usaha juga mencerminkan dampak positif terhadap pelaku. Sebanyak 76,93% responden melaporkan peningkatan penjualan, dan 73,08% mencatat kenaikan keuntungan selama Nataru. Mayoritas pelaku berada pada skala mikro, dengan subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menjadi penyumbang terbesar terhadap lonjakan transaksi.

Dari sisi belanja wisatawan, pengeluaran terbesar masih dialokasikan untuk transportasi dan akomodasi, namun belanja produk kreatif seperti makanan, cinderamata, dan belanja ritel mencapai rata-rata Rp858 ribu per orang.

Angka ini memperlihatkan bahwa produk ekraf memiliki ruang besar untuk terus diperkuat dalam rantai konsumsi wisata dan kegiatan liburan masyarakat.

Kontribusi langsung terbesar terhadap PDB ekraf selama Nataru berasal dari subsektor kuliner sebesar Rp 19,9 triliun, diikuti fesyen Rp 3,9 triliun, dan kriya Rp 0,24 triliun. Data ini menegaskan pentingnya penguatan rantai pasok, kapasitas produksi, serta akses pembiayaan bagi pelaku agar dapat merespons lonjakan permintaan secara optimal.

“Jika momentum seperti Nataru dikelola secara sistematis melalui Pasar Ekraf dan integrasi ekosistem, maka dampaknya tidak hanya mendorong PDB, tetapi juga memperkuat daya saing jenama lokal secara berkelanjutan,” tutup Menteri Ekraf Teuku Riefky.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bukan Hapus Proyek Gagal, Bongkar Tiang Monorel untuk Tata Wajah Jakarta
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Akhirnya! Kemnaker Buka Suara soal Update BSU Rp600.000 Januari 2026
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Kontainer Jeblos di Joglo Dievakuasi Tengah Malam, Lalin Minggu Pagi Normal
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Kenapa Pelatih Padel Jadi Pilihan Karier yang Menggiurkan? Ini Alasannya
• 15 jam lalugrid.id
thumb
Ammar Zoni Berharap Bebas dan Bertemu Anak-anak Lagi
• 9 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.