Jakarta: PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat langkah transisi energi nasional melalui kolaborasi internasional di sektor bioenergi dan biomassa. Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung program cofiring PLTU, penguatan rantai pasok biomassa berkelanjutan, serta pengembangan riset karbon rendah.
PLN EPI menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan perusahaan konsultan asal Korea Selatan, Greenery Inc. Keduanya sepakat membangun kerangka kerja sama pengembangan biomassa, riset teknis, peningkatan kualitas bahan bakar, hingga eksplorasi kerja sama internasional penurunan emisi, termasuk mekanisme karbon lintas negara.
Direktur Bioenergi PLN EPI Hokkop Situngkir menegaskan, biomassa memiliki peran strategis sebagai solusi transisi energi karena dapat langsung diimplementasikan menggunakan infrastruktur pembangkit eksisting. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kepastian pasokan dan tata kelola yang kuat.
"Bioenergi, khususnya biomassa, bukan sekadar bahan bakar pengganti, tetapi bagian dari strategi besar transisi energi. Karena itu, pasokan harus berkelanjutan, bernilai tambah, dan dikelola dengan tata kelola yang kuat," ujar Hokkop dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 11 Januari 2026.
Ia menambahkan, bahwa kerja sama dengan Greenery membuka ruang percepatan transfer teknologi dan pengembangan produk biomassa bernilai ekonomi. Menurutnya, residu pertanian dan produk antara tidak boleh diperlakukan sebagai limbah semata.
"Produk seperti biomassa dan turunannya harus dikapitalisasi menjadi produk bernilai tambah, tidak hanya untuk energi, tetapi juga untuk pangan dan industri bioenergi. Ini sejalan dengan kebutuhan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional," kata Hokkop.
Baca Juga :
Perkuat Bioenergi, PLN EPI Gandeng BBSP KEBTKE Kementerian ESDM
(Ilustrasi. Foto: Dok istimewa)
Dari sisi riset, Leader of Research Group for Industrial Sustainability & Product Optimization BRIN Dudi Iskandar, menekankan pentingnya kolaborasi agar riset karbon rendah tidak berhenti di laboratorium. Menurutnya, tanpa kolaborasi dengan PLN EPI, mitra internasional, dan universitas, riset tidak akan memberi dampak nyata.
"Sebagai organisasi riset, tugas utama kami adalah menghasilkan inovasi yang bisa diimplementasikan. Riset ini diharapkan membantu pemerintah memahami strategi pengurangan emisi yang terukur, sekaligus membuka peluang nilai tambah ekonomi dari pengelolaan karbon," katanya.
Company Representative of Greenery Inc Seijin Kim mengatakan, proyek pengembangan bioenergi di Indonesia merupakan proyek pertama Greenery di Tanah Air, di tengah portofolio proyek serupa yang telah dijalankan di negara lain. Ia menilai, Indonesia memiliki momentum untuk menjadi model kolaborasi bioenergi dan transisi energi.
"Proyek ini tidak hanya soal energi, tetapi juga kesehatan, pembangunan komunitas, dan pencapaian target iklim global. Kami melihat Indonesia sudah siap, dan kami optimistis kolaborasi ini dapat menjadi model kerja sama Indonesia- Korea di sektor bioenergi," kata Kim.
Sementara itu, Chairman of PT Internasional Digital Sustainability Consulting Laode M. Kamaluddin menilai, integrasi lintas sektor menjadi kekuatan utama dari model yang dikembangkan melalui kerja sama ini. Laode menyebut, Indonesia berpeluang menjadi salah satu model pengembangan bioenergi dan ekonomi karbon dunia.
"Pendekatan ini menggabungkan sektor energi, industri, dan pembangunan wilayah. Dengan skala dan potensi yang dimiliki, Indonesia berpeluang menjadi salah satu model pengembangan bioenergi dan ekonomi karbon di tingkat global," ujarnya.
Melalui MoU ini, PLN EPI dan Greenery mendorong pengembangan biomassa dan residu pertanian, riset teknis bersama, penguatan rantai pasok berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas dan transfer pengetahuan. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat pencapaian target cofiring PLN sekaligus memberikan manfaat lingkungan dan sosial ekonomi.



