Memaknai Bencana Aceh dari Manuskrip Klasik Bustan al Salatin

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BANDA ACEH — Aceh kembali dihadapkan pada rangkaian bencana alam yang berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari banjir, longsor, hingga cuaca ekstrem. Di tengah situasi tersebut, manuskrip Bustan al Salatin karya Nuruddin ar-Raniry menawarkan cara pandang historis dan filosofis dalam memaknai kebencanaan di Tanah Rencong.

Karya yang ditulis pada abad ke-17 ini tidak hanya dikenal sebagai kitab sejarah dan nasihat politik Kesultanan Aceh, tetapi juga memuat pemahaman tentang hubungan manusia, alam, dan kekuasaan Tuhan.

Dalam konteks kebencanaan, Bustan al Salatin merekam bagaimana peristiwa alam dipahami sebagai bagian dari tatanan moral dan sosial masyarakat Aceh masa lalu.

Dikutip dari situs Museum Aceh (11/01/2026), bencana seperti gempa bumi, angin besar, dan kerusakan negeri dipandang sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Ilahi. Peristiwa alam tidak dianggap sebagai kejadian acak semata, melainkan peringatan agar manusia kembali kepada nilai keimanan dan ketaatan.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Ar-Raniry juga mengaitkan musibah dengan etika sosial dan kepemimpinan. Kerusakan alam dan kehancuran suatu negeri digambarkan sebagai konsekuensi dari ketidakadilan sosial, kelalaian manusia, serta kegagalan pemimpin dalam mengelola wilayah dan menyejahterakan rakyat.

Dalam Bustan al Salatin, musibah menjadi sarana pembentukan kesabaran, keteguhan, dan tawakal, sekaligus fondasi ketahanan sosial. Nilai-nilai tersebut membentuk kesadaran masyarakat dalam menghadapi musibah dan bangkit kembali setelahnya.

Baca Juga

  • Mitigasi Banjir, Pemkab Aceh Tamiang Minta Bantuan Pemerintah Keruk Sungai
  • Purbaya Sebut Kepastian Anggaran untuk Aceh Butuh Restu Prabowo, Dasco Langsung Telepon
  • Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Pendataan Rumah Rusak Dibuka hingga 15 Januari 2026

Dalam konteks kebencanaan modern, pandangan dalam manuskrip ini sejalan dengan konsep yang dikembangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). BNPB memandang kebencanaan sebagai hasil interaksi antara ancaman, kerentanan, dan kemampuan penanggulangan, termasuk kesiapsiagaan, tata kelola, serta ketahanan sosial.

Kondisi Aceh saat ini yang masih sering dilanda bencana hidrometeorologi, menunjukkan pentingnya pendekatan kebencanaan.

Pendekatan ilmiah juga perlu dilengkapi dengan pemahaman sosial, budaya, dan nilai lokal yang telah hidup lama dalam masyarakat Aceh.

Bustan al Salatin tidak hanya bernilai sebagai warisan sastra dan sejarah, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan lokal untuk memperkaya perspektif kebencanaan Aceh masa kini.

(Arief Budi Mulia)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kemenhub Alokasikan 150 Bus Sekolah di 2025, Dukung Pemerataan Akses Pendidikan dan Sekolah Rakyat
• 1 jam lalupantau.com
thumb
OJK Hentikan 2.263 Entitas Pinjol Ilegal Sepanjang 2025
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Marak Tren Love Scam, OJK Terima 3.494 Aduan dengan Total Kerugian Rp49,19 miliar
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pramono Akan Pindahkan Patung MH Thamrin dari Merdeka Selatan, Ternyata Ini Alasannya
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Polda Jatim Proses Hukum Tersangka Pelecehan Santriwati di Bangkalan
• 18 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.