Di Tengah Isu Ijazah Palsu Jokowi, Ridho Rahmadi: Jangan Sampai Ilmu Pengetahuan Tak Berarti di Negeri Ini

fajar.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ilmuwan komputer, dan akademikus Indonesia, Ridho Rahmadi bicara terkait polemik dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Jokowi).

Ia mengungkapkan perannya saat diminta menjadi saksi ahli dalam gelar perkara khusus yang digelar di Polda Metro Jaya.

“Saya bukan ahli apa-apa, hanya orang yang bersyukur karena mendapat kesempatan studi Informatika, khususnya dalam bidang AI, hingga S3,” ujar Ridho di X @RidhoRahmadi85 (10/1/2026).

Ia mengungkapkan bahwa pada 15 Desember 2025 lalu, dirinya hadir sebagai saksi ahli atas undangan Dokter Tifauzia Tyassuma dalam gelar perkara khusus dugaan ijazah palsu.

“15 Desember 2025 lalu, atas undangan Dr. Tifa, saya menjadi saksi ahli dalam gelar perkara khusus dugaan ijazah palsu, di Polda Metro Jaya,” sebutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ridho bersama Prof. Tono Saksono memaparkan perspektif ilmiah terkait analisis yang telah dilakukan oleh RRT (Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan Tifa).

Ridho menjelaskan, sebelum gelar perkara, ia melakukan persiapan intensif dengan menelaah metode yang digunakan dalam analisis otentisitas ijazah. Salah satunya dengan mengkaji baris-baris kode program yang dibuat Dr. Rismon.

“Semalam sebelumnya, dibantu mantan mahasiswa saya yang sekarang jadi Kaprodi, kami menganotasi baris-baris kode program Dr. Rismon di dalam menganalis otentisitas ijazah dengan pendekatan image processing,” ungkapnya.

Langkah tersebut dilakukan agar analisis teknis dapat dipahami oleh publik awam.

“Tujuannya untuk menjelaskan dalam bahasa manusia awam, apa maksud dari setiap baris kode program yang dibuat oleh Dr. Rismon,” lanjut Ridho.

Tidak hanya itu, ia juga menyiapkan kajian lintas disiplin ilmu. Ridho menyebut, ia dibantu seorang Kepala Biro Akademik dari salah satu politeknik di Yogyakarta untuk menyusun tabel studi literatur.

“Malam sebelumnya, dibantu seorang Kepala Biro Akademik di sebuah Politeknik di Jogja, membuat semacam tabel studi literatur yang berisi 30 studi Neuroscience (dan Neuropolitika), terdahulu hingga terkini, untuk memberikan perspektif fundamen dari studi yang dilakukan Dr. Tifa,” jelasnya.

Ia juga menambahkan rujukan ilmiah dari pakar ekspresi wajah dunia.

“Saya tambahkan beberapa referensi dari Paul Ekman yg rumuskan Facial Action Coding System, yg mengizinkan kita scr saintifik menerjemahkan ekspresi wajah; yg digunakan Dr. Tifa menjelaskan fenomena sosial politik yg gejalanya dpt dibaca melalui respon biologi dan pola kognitif,” paparnya.

Sebagai pelengkap, Ridho turut membawa dokumen terkait capaian riset berbasis kecerdasan buatan di tingkat global.

“Sebagai pelengkap, saya cetak laman website Nobel Prize, khususnya tentang dua penerima Nobel Prize tahun 2024 dalam bidang Fisika, yang berjasa karena membangun fundamen terpenting dari salahsatu model AI (jaringan syaraf tiruan),” Ridho menuturkan.

“Saya juga cetak laman tentang dua (dari tiga) penerima Nobel Prize 2024 dalam bidang Kimia, yang menggunakan AI untuk memprediksi struktur protein, sebuah permasalahan yang telah berumur 50 tahun,” tambahnya.

Dari contoh tersebut, Ridho menekankan bahwa pengakuan ilmiah di negara maju tidak semata didasarkan pada formalitas gelar.

“Dari dua contoh penerima prize ini, saya ingin mengatakan, di negara maju, pengakuan saintifik diberikan atas kontribusi nyata, bukan atas label atau sertifikat linearitas gelar akademik,” tegasnya.

Ia bahkan mencontohkan bahwa lintas disiplin ilmu merupakan hal lumrah dalam dunia akademik.

“Seorang lulusan musik, bahkan, boleh saja dan bisa melakukan penelitian tentang filosofi matematika dalam pemodelan hubungan kausalitas,” imbuhnya.

Setelah memaparkan seluruh materi, Ridho menyerahkannya kepada pihak penyidik. Terkait dampak kesaksian tersebut, Ridho mengaku tidak mengetahui hasil akhirnya.

“Apakah kesaksian-ahli kami ada dampaknya? Kami tidak tahu, yang jelas status RRT masih sama setelah gelar perkara khusus tersebut,” ucapnya.

Namun ia memastikan bahwa standar akademik yang ia terapkan tidak main-main.

“Tapi paling tidak, dalam sedikit pengalaman akademis saya, yang saya siapkan untuk gelar perkara khusus tersebut sama standarnya dengan apa yang saya siapkan untuk presentasi atau kuliah, ketika saya studi di luar negeri dulu,” terang dia.

Ridho kemudian mengenang pengalamannya mempresentasikan riset di berbagai negara.

“Dalam pendek ingatan saya, saya pernah presentasi di Glasgow (Skotlandia), Hamburg (Jerman), Nijmegen (Belanda), Pittsburgh (Amerika Serikat), dan Reykjavik (Islandia), di hadapan banyak profesor dan ilmuwan dari berbagai bidang keilmuan,” ungkapnya.

Tidak berhenti di situ, Ridho menyampaikan harapan besar terhadap masa depan ilmu pengetahuan di Indonesia.

“Saya berharap, jangan sampai ilmu pengetahuan dianggap tidak berarti di negeri ini,” tandasnya.

Ketua Umum Partai Ummat ini mengingatkan pada pernyataan Imam Syafi’i tentang pentingnya ilmu dalam kehidupan.

“Barang siapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka hendaknya dengan ilmu,” kuncinya.

(Muhsin/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pria WNA umbar alat kelamin di Blok M, ini respon Gubernur Pram
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Lamongan Kembali Dikepung Banjir
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Militer Myanmar Kembali Gelar Pemilu Tahap Kedua
• 5 jam laluidntimes.com
thumb
Na Daehoon Bantah Tuduhan KDRT: Fitnah!
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Bawang Bombay Ilegal 133 Ton di Semarang Disidak Mentan, Polisi Periksa 6 Sopir
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.