Pada awalnya, nampak tidak ada yang istimewa sama sekali di perkuliahan yang saya bawakan, mengingat perkuliahan yang saya ampu merupakan kuliah yang mengandung unsur angka, grafik, formulasi, dan analisis yang terlihat sangat membosankan, seperti yang anda bisa tebak, Mahasiswa yang hadir hanya mendengarkan, menguap, mencatat sepertlunya, menjawab ketika diminta, dan bahkan sesekali mengobrol dengan teman di sampingnya. Tidak banyak pertanyaan atau statement kritis yang dilontarkan oleh Mahasiswa yang saya ampu, diskusi pun seringkali terasa datar, meskipun saya berusaha membawa perkuliahan senyaman mungkin dengan harapan agar Mahasiswa mampu lebih dekat dengan Dosennya dan mampu menyerap segala bentuk informasi perkuliahan yang saya sampaikan di dalam kelas.
Selain itu di banyak banyak kesempatan, ruang kelas sering kali menjadi tempat pertama dan kadang satu-satunya tolak ukur bagi Dosen untuk dapat menilai minat dan daya kritis dari para Mahasiswa. Cara mereka duduk, intensitas bertanya, keberanian berpendapat, hingga ekspresi wajah saat diskusi berlangsung, sering secara tidak sadar kita jadikan indikator keberhasilan pembelajaran. Ketika kelas terasa sunyi, respons minim, dan diskusi berjalan sekadarnya, mudah bagi seorang Dosen untuk menarik kesimpulan dengan cepat yaitu Mahasiswa kurang antusias, kurang tertarik, atau bahkan kurang kritis. Entah itu karena pembawaan sang Dosen atau memang mata kuliahnya betul-betul bukan passion dari Mahasiswa yang bersangkutan.
Namun entah mengapa, kesan tersebut justru perlahan luntur ketika perkuliahan telah usai dibawakan. Setiap kali, kelas saya berakhir, Mahasiswa langsung mengkerumuni meja saya, lalu bertanya ini itu, dan bahkan tidak jarang juga bertanya tentang isu atau topik-topik terkini tentang fenomena ekonomi dan kebijakan publik yang sedang menarik untuk diangkat dan dibahas di ruang publik. Lalu saya menilai, oh ternyata Mahasiswa peka juga dengan isu-isu demikian.
Bentuk Kekaguman yang Tak TerdugaSetelah kelas berakhir, percakapan dan diskusi dengan Mahasiswa berubah 180 derajat. Mereka mulai mendiskusikan isu-isu ekonomi, politik, maupun kebijakan publik aktual, kebijakan Fiskal dari Pemerintah Pusat, bagaimana merespon pertumbuhan ekonomi di tahun depan, polemik subsidi dan pajak, dan bahkan perilaku pejabat-pejabat yang makin tidak masuk akal. Diskusi tidak lagi bersifat normatif dan kaku seperti kurikulum yang telah diatur di ranah akademik seperti layaknya materi perkuliahan, melainkan diskusi yang dibawakan penuh dengan argumen, perbandingan, bahkan mengkritik pandangan saya terhadap sebuah isu. Di titik ini, saya betul-betul terkejut bahkan terkagum, bahwa ternyata nalar kritis itu ada hanya saja tidak selalu muncul di ruang yang dianggap “resmi” seperti di perkuliahan, hanya karena, khawatir pendapat yang dikemukakan di muka umum dianggap pendapat konyol yang salah dan tidak sefrekuensi dengan Mahasiswa lainnya.
Saya tiba-tiba teringat dengan pandangan dari John Dewey dalam bukunya yang berjudul Democracy and Education (1916) yang menekankan bahwa, pembelajar sejati berangkat dari pengalaman maupun refleksi hidup terhadap realitas sosial yang sedang terjadi, sehingga terhadap pengalaman Mahasiswa yang lebih banyak terbentuk dari dinamikan dan merasakan fenomena di luar kelas yang dianggap “lebih menarik”, maka dengan wajar bila ekspresi intelektual mereka akan tebentuk lebih hidup di luar ruang akademik formal. Terlebih lagi, saat ini, perkembangan dan pertumbuah sosial media memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembentukan daya fikir dan kritis dalam menanggapi sebuah isu maupun fenomena yang terjadi. Sehingga, kekaguman yang saya berikan kepada para Mahasiswa ini, tidak hanya merupakan bentuk kecerdasan secara reflektif seperti yang disampaikan oleh John Dewey (1961), melainkan tentang perubahan cara mereka membangun sebuah pengetahuan yang didasarkan dari fenomena terjadi dan bagaimana menanggapi dan merespon fenomena tersebut secara kritis.
Anomali Akademik di Kampus: Diam di Kelas, Vokal di Ruang PublikJujur saja, setiap saya akan memasuki ruang kelas, terdapat kegelisahan yang jarang saya akui secara terbuka. Lebih tepatnya, mungkin saya merasakan insecure yang terlebih, dan mungkin barangkali dialami oleh banyak Dosen lain, tetapi jarang diungkapkan di ruang publik. Saya terus merefleksikan diri dan bertanya kepada diri saya sendiri, Apakah saya cukup membaca ? Apakah saya cukup mendalami fenomena-fenomena yang terjadi di dalam mata kuliah yang saya ampu ? Bagaimana jika Mahasiswa bertanya tentang hal itu, sementara saya tidak memiliki jawaban yang memuaskan mereka ?
Bentuk kekhawatiran itu memang terlihat wajar, karena dunia bergerak terlalu cepat, sementara perkuliahan hanya terbatas pada silabus, RPS, dan materi yang telah ditentukan oleh pihak akademik Kampus, sehingga menciptakan jarak antara dinamika di ruang publik dan struktur akademik yang ada di Kampus. Di titik itulah muncul kekhawatiran tersendiri bagi saya sebagai seorang pengajar, bahwa saya takut tertinggal dari Mahasiswanya itu sendiri yang terkadang lebih cepat menyesuaikan dengan keadaan dan memahami fenomena secara cepat.
Namun realitas yang terjadi di kelas dan ruang akademik, bergerak ke arah yang tidak dapat saya bayangkan. Kekhawatiran bahwa nanti Mahasiswa akan “menguji” dosennya dengan pertanyaan-pertanyaan teknis di luar kesiapan saya sebagai seorang pengajar, tidak pernah dan bahkan jarang benar-benar terjadi. Mahasiswa jarang mempertanyakan detail dan materi pada perkuliahan, sebaliknya mereka justru membawa diskusi ke arah isu-isu di luar konteks perkuliahan formal, yang bahkan tidak sama sekali berkaitan dengan materi yang saya bawakan pada saat di kelas. Mereka lebih tertarik untuk membicarakan ranah kebijakan ekonomi Pemerintah, polemik Fiskal, keputusan politik yang berdampak secara langsung dengan ekonomi, hingga isu maupun narasi yang berkembang di ruang publik yang mengaitkan langsung dengan pejabat yang bersangkutan dan tidak jarang narasi tersebut merupakan narasi negatif.
Di titik ini, saya merasa anomali akademik di kampus itu menjadi nyata, di ruang kelas akademik, mereka relatif diam, tidak banyak bicara, mencatat sewajarnya, berjalan secara normatif. Namun begitu di ruang publik atau di luar kelas, percakapan dan diskusi jauh lebih menarik dan lebih vokal. Ini menciptakan pertanyaan bagi diri saya sendiri, mengapa mereka tidak terlalu tertarik memperdebatkan definisi atau klasifikasi teori di perkuliahan ? Mengapa mereka justru lebih antusias dan membahas tentang fenomena yang terjadi dan yang berkaitan secara langsung kepada masyarakat yang justru bukan tugas utama mereka ?
Fenomena ini awalnya terasa membingungkan, namun kenyataannya, Mahasiswa justru mampu memisahkan dua dunia antara dunia akademik formal yang dianggap “membosankan” dan dunia publik yang merespon nalar kritis mereka yang dianggap “menarik”. Jika dilihat dari perspektif teori pendidikan, kondisi ini dapat dibaca dan dijelaskan melalui konsep hidden curriculum oleh Philip W Jackson dalam bukunya berjudul Life in Classroom (1968). Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa, kurikulum tidak hanya dijelaskan secara tertulis tentang pesan-pesan yang dianggap pesan implisit dalam sistem pendidikan, tentang siapa yang berhak bicara, kapan berbicara dianggap tepat, dan bagaimana resiko dari pendapat yang berbeda. Dalam hal ini, Mahasiswa belajar membaca sebuah situasi dan merespon fenomena, lalu menyesuaikan diri. Mereka memilih diam bukan karena tidak berfikir, tetapi karena menganggap bahwa ruang kelas adalah ruang akademik formal bukan untuk merespon isu-isu fenomena publik.
Anomali ini akhirnya secara tidak langsung mengubah cara saya memandang diri di dalam kelas, bukan sebagai pengajar namun sebagai rekan diskusi. Tanda bahwa Mahasiswa lebih tertarik pada isu publik dibandingkan materi normatif, menurut saya bukan sebagai tanda kegagalan dalam pembelajaran, melainkan indikasi bahwa kesadaran kritis mereka dalam merespon fenomena publik, telah tumbuh. Dan mungkin dari dasar itulah, letak pendidikan yang sebenarnya terjadi, dan mereka mencoba untuk menjembatani menuju realitas yang sedang dan akan dihadapi sebagai warga masyarakat.
Refleksi dalam Dunia Pendidikan: Belajar Membaca yang Tak TerucapPengalaman saya sebagai Pengajar, menyaksikan Mahasiswa saya yang relatif diam di kelas, namun vokal dan kritis di ruang publik, pada akhirnya memaksa saya untuk berhenti melihat pendidikan tinggi hanya dari kacamata prosedural yang terbatas pada silabus, RPBS, capaian pembelajaran, dan indikator-indikator lain yang begitu rumit. Seyogyanya, hal tersebut merupakan penting, namun tidak selalu cukup untuk membaca apa yang sesungguhnya sedang terjadi di dalam proses belajar di dunia kampus saat ini.
Refleksi pertama yang harus saya sadari, minimal sebagai seorang pengajar di pendidikan tinggi, perlu lagi mempelajari beberapa hal-hal yang tak terucap. Keheningan di ruang kelas, bukan lagi menandakan ketiadaan nalar, namun merupakan bentuk pemrosesan, kehati-hatian, bahkan resistensi secara halus terhadap formal pembelajaran yang kaku dan takut salah bertanya di kelas yang menimbulkan potensi ejekan dari rekan Mahasiswa lain, yang hal tersebut umum di Indonesia dan tidak terjadi di ruang akademik di negara-negara maju.
Pemikiran ini sejalan dari seorang Filsuf bernama Paulo Freire, yang mengkritik model pendidikan bergaya bank, yang memposisikan Mahasiswa hanya sebagai penerima pasif terhadap sebuah pengetahuan. Freire, menekankan bahwa pendidikan seharusnya membebaskan ruang dialog dan menumbuhkan kesadaran kritis (critical consciousness). Ketika Mahasiswa lebih tertarik membahas isu publik dibandingkan isu normatif perkuliahan di kelas, bisa jadi itu pertanda bahwa kesadaran kritis mereka, bisa jadi sedang bekerja.
Pada akhirnya, refleksi untuk dunia pendidikan ini bermuara pada satu kesadaran penting bagi saya sendiri yaitu belajar tidak selalu berlangsung dalam bentuk yang rapi dan terstruktur. Proses belajar, sering kali tumbuh di ruang-ruang antara di sela perkuliahan, di percakapan santai, di linimasa media sosial, dan di kegelisahan bersama membaca arah kebijakan publik. Jika dunia pendidikan mampu merangkul ruang-ruang itu, maka kelas tidak akan kehilangan relevansinya. Sekali lagi, proses belajar justru harus menjadi titik temu antara nalar akademik dan realitas sosial yang terus bergerak.
Dan bagi saya, saya bukan Dosen atau Pengajar bagi mereka, namun lebih tepat untuk memposisikan diri sebagai rekan diskusi yang bersahabat.




