Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengimbau warga untuk mewaspadai letusan sekunder Gunung Semeru saat hujan deras mengguyur lereng Gunung Semeru pada Minggu sore.
"Letusan sekunder terjadi di sepanjang Kali Wedok Daerah Aliran Sungai (DAS) Besuk Kobokan, sedangkan yang di hilir tidak berdampak pada aktivitas warga," kata Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho saat dikonfirmasi per telepon di kabupaten setempat, Minggu.
Letusan sekunder merupakan semburan asap putih tebal yang terjadi saat air hujan bertemu material vulkanik panas sisa erupsi yang berada di sepanjang aliran Sungai Besuk Kobokan, sehingga menyebabkan jarak pandang terbatas.
Menurutnya, letusan sekunder di selatan pos pantau mengarah ke timur Jembatan Gladak Perak, sehingga pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi letusan sekunder saat terjadi banjir lahar dingin Gunung Semeru.
Letusan sekunder biasanya terjadi di luar pusat aktivitas gunung api yakni aliran Sungai Kobokan yang kini menampung tumpukan material awan panas yang suhunya sedang tinggi.
Baca juga: Minggu, Gunung Semeru 30 kali gempa letusan & 1 kali getaran banjir
Berdasarkan catatan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, getaran banjir lahar terekam di seismograf sebanyak satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 35 milimeter dan lama gempa 6120 detik.
"Kami juga mengimbau masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan saat terjadi banjir lahar hujan, serta para penambang pasir harus menghentikan aktivitas," tuturnya.
Banjir lahar hujan Gunung Semeru dari hulu mengalir ke Sungai Besuk Kobokan dan Kali Lanang yang berada di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Isnugroho mengatakan status Gunung Semeru dalam masih siaga, sehingga masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," katanya.
Baca juga: Warga Lumajang sempat panik akibat letusan sekunder Semeru
Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Masyarakat juga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Sementara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini di kawasan Gunung Semeru dan sekitarnya yang menyebutkan bahwa terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada pukul 17.10 WIB.
"Hujan tersebut terjadi di wilayah Pronojiwo di Kabupaten Lumajang dan Ampelgading di Kabupaten Malang yang merupakan lereng Gunung Semeru hingga pukul 19.10 WIB," kata Kepala Stasiun BMKG Juanda, Taufiq Hermawan dalam laporan tertulisnya.
Ia menjelaskan potensi dampak yang harus diwaspadai banjir lahar hujan, banjir bandang, banjir dan longsor di wilayah Kabupaten Lumajang yang meliputi Kecamatan Pronojiwo, Pasrujambe, dan Candipuro, sedangkan wilayah Kabupaten Malang terjadi di Kecamatan Ampelgading.
"Letusan sekunder terjadi di sepanjang Kali Wedok Daerah Aliran Sungai (DAS) Besuk Kobokan, sedangkan yang di hilir tidak berdampak pada aktivitas warga," kata Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho saat dikonfirmasi per telepon di kabupaten setempat, Minggu.
Letusan sekunder merupakan semburan asap putih tebal yang terjadi saat air hujan bertemu material vulkanik panas sisa erupsi yang berada di sepanjang aliran Sungai Besuk Kobokan, sehingga menyebabkan jarak pandang terbatas.
Menurutnya, letusan sekunder di selatan pos pantau mengarah ke timur Jembatan Gladak Perak, sehingga pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi letusan sekunder saat terjadi banjir lahar dingin Gunung Semeru.
Letusan sekunder biasanya terjadi di luar pusat aktivitas gunung api yakni aliran Sungai Kobokan yang kini menampung tumpukan material awan panas yang suhunya sedang tinggi.
Baca juga: Minggu, Gunung Semeru 30 kali gempa letusan & 1 kali getaran banjir
Berdasarkan catatan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, getaran banjir lahar terekam di seismograf sebanyak satu kali gempa getaran banjir dengan amplitudo 35 milimeter dan lama gempa 6120 detik.
"Kami juga mengimbau masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan saat terjadi banjir lahar hujan, serta para penambang pasir harus menghentikan aktivitas," tuturnya.
Banjir lahar hujan Gunung Semeru dari hulu mengalir ke Sungai Besuk Kobokan dan Kali Lanang yang berada di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Isnugroho mengatakan status Gunung Semeru dalam masih siaga, sehingga masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," katanya.
Baca juga: Warga Lumajang sempat panik akibat letusan sekunder Semeru
Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Masyarakat juga harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Sementara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini di kawasan Gunung Semeru dan sekitarnya yang menyebutkan bahwa terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada pukul 17.10 WIB.
"Hujan tersebut terjadi di wilayah Pronojiwo di Kabupaten Lumajang dan Ampelgading di Kabupaten Malang yang merupakan lereng Gunung Semeru hingga pukul 19.10 WIB," kata Kepala Stasiun BMKG Juanda, Taufiq Hermawan dalam laporan tertulisnya.
Ia menjelaskan potensi dampak yang harus diwaspadai banjir lahar hujan, banjir bandang, banjir dan longsor di wilayah Kabupaten Lumajang yang meliputi Kecamatan Pronojiwo, Pasrujambe, dan Candipuro, sedangkan wilayah Kabupaten Malang terjadi di Kecamatan Ampelgading.





