PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Cianjur, Jawa Barat, memutakhirkan data luas lahan sawah sebagai upaya memperkuat basis perencanaan pertanian dan mengejar target produksi gabah tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan lahan sebagai daya dukung ketahanan dan swasembada pangan di daerah tersebut.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Kabupaten Cianjur, Dandan Hendrayana, mengatakan pemutakhiran data dilakukan berdasarkan hasil verifikasi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Dari hasil verifikasi tersebut, luas lahan sawah di Kabupaten Cianjur tercatat mencapai 66.086 hektare.
“Data lahan sawah ini kemudian kami breakdown per kecamatan hingga desa atau kelurahan,” kata Dandan, Minggu (11/1).
Menurut Dandan, data tersebut selanjutnya diidentifikasi untuk mengetahui klasifikasi indeks panen (IP) lahan sawah, baik yang dapat ditanami tiga kali, dua kali, maupun satu kali dalam setahun. Hasil identifikasi ini menjadi dasar perhitungan estimasi luas tanam tahun berjalan.
“Identifikasi ini bertujuan mengetahui lahan sawah dengan IP satu, dua, atau tiga kali. Dari situ, kami estimasikan luas tanam tahun ini yang diproyeksikan mencapai sekitar 140 ribu hektare,” ujarnya.
Ia menambahkan, untuk mendukung perencanaan luas tanam tersebut, diperlukan kepastian ketersediaan pupuk bersubsidi. Pemkab Cianjur menggunakan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) sebagai acuan utama untuk menghitung kebutuhan pupuk.
“Dari target luas tanam itu, kami bisa menghitung berapa kebutuhan pupuk bersubsidi yang diperlukan. Acuannya adalah RDKK karena di dalamnya sudah tercantum angka kebutuhan secara rinci,” jelas Dandan.
Selain pupuk, Pemkab Cianjur juga mengidentifikasi kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk menunjang pengolahan lahan dan panen. Beberapa alsintan yang menjadi perhatian antara lain traktor roda dua, traktor roda empat, mesin perontok padi atau power thresher, serta peralatan pendukung lainnya.
“Identifikasi alsintan ini penting untuk mendukung proses pengolahan lahan agar target produksi bisa tercapai,” katanya.
Dandan menyebutkan, Pemkab Cianjur juga telah mengajukan bantuan benih padi unggul ke Kementerian Pertanian. Bantuan benih tersebut direncanakan untuk mendukung penanaman pada lahan seluas sekitar 20 ribu hektare.
“Pengajuan bantuan benih ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas,” ujarnya.
Menurut Dandan, seluruh upaya tersebut harus dibarengi dengan penerapan teknologi tepat guna melalui pendampingan dan penyuluhan kepada petani. Dengan dukungan data yang akurat, sarana produksi yang memadai, serta pendampingan berkelanjutan, Pemkab Cianjur optimistis target produksi gabah tahun ini dapat tercapai.
“Target produksi gabah kering giling tahun ini sebesar 630.402 ton. Dengan berbagai langkah yang kami persiapkan, kami berharap produksi bisa melampaui target, seperti pada 2025 ketika Cianjur mengalami surplus,” pungkasnya. (E-2)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469570/original/097074700_1768131248-IMG_3104.jpeg)