Bisnis.com, JAKARTA — Harga nikel rontok usai menyentuh level tertinggi dalam 19 bulan di tengah penantian kepastian akan produksi Indonesia.
Dilansir dari Bloomberg Minggu (11/1/2026), harga nikel sempat mencapai US$18.800 per ton pada pertengahan pekan lalu. Posisi itu merupakan level tertinggi sejak Juni 2024.
Kendati demikian, harga nikel dilaporkan justru ditutup melemah 3,4% akhir pekan lalu. Kontrak berjangka nikel 3 bulan di London Metal Exchange (LME) dilaporkan turun hingga 5,9%.
Analis UOB Kay Hian Holdings Ltd. Benyamin Mikael mengatakan keberlanjutan harga nikel masih belum pasti. Kecuali, pengurangan kuota benar-benar diterapkan secara signifikan dan konsisten.
“Dampak dari rencana pemangkasan kuota kemungkinan akan terbatas dalam jangka pendek, mengingat sebagian besar investasi yang telah berkomitmen pada dasarnya dikecualikan selama satu hingga dua tahun ke depan,” jelasnya.
Sebelumnya, Indonesia menyampaikan rencana mengurangi produksi nikel tahun ini dalam rangka menyeimbangkan pasokan dan permintaan. Namun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI tidak memberikan rincian mengenai kuota penambangan nikel tahun ini. Menteri Kementerian ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa angka-angka tersebut masih dalam tahap finalisasi.
Baca Juga
- Harga Nikel Dunia Tembus US$17.703 per Ton, Tertinggi dalam 1 Tahun
- Saham Konglomerasi Ambil Momentum saat Saham Emas & Nikel Dilanda Profit Taking
- Alasan JP Morgan Pilih ANTM saat Prospek Harga Emas dan Nikel Mengilap
Nikel sebagai bahan baku logam yang digunakan untuk baterai dan baja tahan karat telah melambung hampir 30% sejak pertengahan Desember, sejalan dengan reli yang juga mendorong kenaikan harga tembaga dan aluminium.
Sentimen positif yang melingkupi harga logam ini mendapat dukungan dari gelombang pembelian oleh para pedagang China dan kenaikan kekhawatiran geopolitik.




