VIVA – Hai para pria pernahkah kalian dengar istilah blue balls? Jika belum pernah dengar mungkin ini saatnya kamu cari tau sebab ini ada kaitannya dengan kehidupan ranjangmu dan organ intimmu.
Blue balls adalah istilah yang sudah lama dipakai pria untuk menggambarkan rasa tidak nyaman akibat hasrat yang tertahan. Kalau kamu pernah terangsang cukup lama tapi tidak sampai klimaks, mungkin kamu tahu sendiri rasanya bisa tidak enak. Jadi, ini bukan cuma perasaan atau sugesti. Blue balls itu nyata, dan dalam dunia medis dikenal dengan nama epididymal hypertension.
Melansir laman Mens Health, Senin 12 Januari 2026, ahli urologi, dr. James Elist menjelaskan bahwa kondisi ini terjadi karena penumpukan darah di testis dan area sekitarnya saat seseorang terangsang, tetapi tidak mengalami ejakulasi. Darah yang seharusnya kembali mengalir malah tertahan, sehingga menimbulkan rasa penuh, nyeri, atau tidak nyaman.
Fakta menariknya, kondisi serupa juga bisa dialami orang yang memiliki vagina. Saat aliran darah meningkat ke area vulva dan klitoris tanpa diakhiri orgasme, bisa muncul kondisi yang sering disebut blue vulva, dengan gejala mirip seperti pegal, nyeri, dan sensasi tidak nyaman.
Apa sebenarnya penyebab blue balls?
Saat terangsang, pembuluh darah yang menuju penis melebar agar aliran darah meningkat dan ereksi terjadi. Jika orgasme tidak terjadi, darah tersebut bisa ‘tertahan’ lebih lama dan menimbulkan tekanan yang terasa sakit.
Ada juga teori yang menyebutkan bahwa ereksi yang terlalu lama bisa membuat sebagian oksigen dalam darah terserap jaringan genital, sehingga darah tampak agak kebiruan. Namun menurut dr. Richard K. Lee, hal ini jarang terjadi secara alami dan biasanya berhubungan dengan kondisi tertentu, seperti penggunaan obat disfungsi ereksi atau alat pembatas aliran darah. Jadi, pada kebanyakan kasus, testis tidak benar-benar berubah warna hanya terasa tidak nyaman saja.
Apakah blue balls berbahaya?
Jawabannya tidak berbahaya. Blue balls memang umum terjadi, tapi tidak menyebabkan kerusakan jangka panjang. Rasa nyeri biasanya hanya berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam, lalu hilang dengan sendirinya.



