Balas Ultimatum Trump, Presiden Kuba: Tidak Ada yang Bisa Mendikte Kami!

mediaindonesia.com
15 jam lalu
Cover Berita

PRESIDEN Kuba, Miguel Díaz-Canel, memberikan jawaban menohok atas tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendesak Havana untuk segera melakukan kesepakatan dengan Washington. Díaz-Canel menegaskan Kuba adalah negara merdeka dan berdaulat yang tidak akan tunduk pada perintah pihak asing.

"Tidak ada yang bisa mendikte apa yang kami lakukan," tegas pemimpin Kuba tersebut melalui unggahannya di media sosial X pada Minggu waktu setempat.

Pernyataan ini muncul tak lama setelah Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap negara komunis tersebut. Trump memberikan "saran kuat" agar Kuba segera membuat kesepakatan dengan AS, sembari memberikan ancaman bahwa Kuba tidak akan lagi menerima aliran dana maupun minyak dari industri energi Venezuela.

Kuba Tegaskan Hak Kedaulatan 

Díaz-Canel menuduh Amerika Serikat telah melakukan agresi terhadap negaranya selama puluhan tahun. Ia menyatakan mereka yang memandang segala sesuatu sebagai urusan bisnis, termasuk nyawa manusia, tidak memiliki otoritas moral untuk menghakimi Kuba.

"Kuba tidak melakukan agresi; ia telah diagresi oleh Amerika Serikat selama 66 tahun, dan ia tidak mengancam; ia bersiap, siap membela Tanah Air hingga tetes darah terakhir," tulis Díaz-Canel.

Senada dengan sang presiden, Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez Parrilla, juga bersuara keras. Ia menyatakan negara Karibia tersebut memiliki "hak mutlak" untuk mengimpor bahan bakar dari mitra ekonomi manapun tanpa adanya tekanan dari pihak Amerika Serikat.

Tuduhan dan Balasan Diplomatik

Ketegangan ini semakin meruncing setelah Trump menuding Kuba menyediakan "layanan keamanan" bagi rezim Venezuela sebagai imbalan atas pasokan minyak dan uang. Tuduhan tersebut dibantah keras oleh Rodriguez, yang justru berbalik menyerang perilaku politik luar negeri AS di bawah kepemimpinan Trump.

"AS berperilaku seperti hegemon kriminal dan tidak terkendali yang mengancam perdamaian dan keamanan, tidak hanya bagi Kuba dan belahan bumi ini, tetapi bagi seluruh dunia," ujar Rodriguez.

Langkah Trump yang mencoba memutus jalur pasokan minyak dari Venezuela ke Kuba menandai babak baru dalam konfrontasi diplomatik kedua negara. Dengan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan AS baru-baru ini, Washington kini berada dalam posisi yang lebih agresif dalam menekan sekutu-sekutu dekat Venezuela di kawasan Amerika Latin, termasuk Kuba.

Hingga saat ini, pihak Havana menunjukkan sikap tidak akan mundur, meskipun ancaman penghentian total pasokan energi dari Venezuela dapat memicu krisis ekonomi yang lebih mendalam di pulau tersebut. (CNN/Z-2)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BMKG: Samudra Hindia Selatan Jawa Timur Berpotensi Gelombang Tinggi Hingga 15 Januari 2025
• 5 jam laluberitajatim.com
thumb
Hujan Deras, Banjir Setinggi 30 Cm Rendam Jalan Letjen Suprapto Cempaka Putih
• 9 jam lalukompas.com
thumb
KPK Bidik Direksi PT Wanatiara Persada, Telusuri Dalang di Balik Suap Pajak Rp4 Miliar
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Penindakan Brutal Rezim Iran: Dokter Mengungkapkan “Peluru Menembus Bagian Belakang Kepala, 40 Butir Peluru Timah Bersarang di Kaki”
• 4 jam laluerabaru.net
thumb
Tiga gol Gabriel Martinelli antar Arsenal tekuk Portsmouth 4-1
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.