ADA dua fenomena baru terkuak dalam isu terorisme beberapa minggu terakhir. Pertama terkait pernyataan akhir tahun 2025 BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme).
Kepala BNPT Eddy Hartono mengungkapkan dalam kurun waktu 2025, Densus 88 telah melakukan pemeriksaan terhadap 112 orang anak terpapar radikalisasi melalui ruang digital. Mereka masih dalam usia anak dan remaja, tersebar di 26 provinsi.
Fenomena ini memperhadapkan isu terorisme pada satu tren: terjadi pergeseran target radikalisasi, dari laki-laki dan perempuan dewasa kini menyasar anak dan remaja dalam rentang usia 10-18 tahun.
Kedua, juru bicara Densus 88 juga mengungkapkan tindakan kekerasan oleh remaja di Moskow pada 16 Desember 2025, ditengarai terinspirasi oleh insiden bom di SMAN 72 Jakarta, 7 November 2025 lalu.
Ternyata peristiwa bom sekolah di Jakarta itu diunggah di laman True Crime Community, komunitas daring internasional yang memuat tindakan kejahatan dengan kekerasan dan menyebarkan ideologi ekstrem dengan target khusus pada anak dan remaja.
Ini berarti perilaku ekstrem dan radikal remaja Indonesia itu sudah terkoneksi dengan komunitas radikalisme internasional khusus anak dan remaja.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=terorisme, radikalisme&post-url=aHR0cHM6Ly9uYXNpb25hbC5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMi8wNzE1MDAxMS9tZW1haGFtaS10ZXJvcmlzLXVzaWEtZGluaQ==&q=Memahami Teroris Usia Dini§ion=Nasional' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `BNPT juga menemukan fakta, proses radikalisasi di ruang digital berlangsung sangat cepat. Hanya membutuhkan waktu 3-6 bulan. Jauh lebih cepat dari rayuan radikalisasi tatap muka yang butuh waktu 2-5 tahun.
Baca juga: Negeri yang Ribut pada Rok, Lupa pada Penipu
Lebih memprihatinkan, anak dan remaja bisa berubah cepat menjadi radikal, meski tidak pernah jumpa dengan rekruternya.
Bahkan, mereka melakukan baiat mandiri setelah mengikuti konten-konten kekerasan di ruang digital. Ada apa dengan anak dan remaja Indonesia?
Peristiwa ledakan bom di SMA 72, Jakarta, hanya menegaskan bahwa radikalisme sudah meracuni pikiran anak dan remaja Indonesia.
Ini bukti bahwa ruang digital sudah tidak ramah lagi bagi anak dan remaja yang sedang mengalami proses pencarian jati diri. Konten kekerasan, bahkan cara membuat peledak pun, dengan mudah dapat diakses.
Temuan BNPT mengenai meningkatnya radikalisasi pada usia dini sejalan dengan kecenderungan global yang telah lama diperingatkan oleh para peneliti terorisme internasional.
Fenomena ini menuntut pemahaman baru bahwa terorisme tidak lagi semata persoalan ideologi ekstrem, melainkan juga krisis sosial, psikologis, dan kultural yang menyentuh fase paling awal pembentukan identitas manusia: anak dan remaja.
Kerentanan anak dan remaja terhadap ideologi kekerasan berkolerasi erat dengan perkembangan kejiwaan di usia tersebut.
Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa masa remaja adalah fase pencarian jati diri dan kebutuhan akan pengakuan. Mereka melihat dunia secara hitam-putih.




