Media sosial masih menjadi andalan masyarakat dalam mencari informasi, termasuk soal kesehatan. Sumber informasi di media sosial beragam, dari orang yang menderita penyakit, keluarga dekat pasien, masyarakat umum, hingga profesional kesehatan. Informasi dari merekalah yang membentuk keyakinan dan membantu warganet mengambil keputusan.
Sayangnya, informasi kesehatan di media sosial belum tentu sejalan dengan pedoman klinis standar. Karena itu, di dunia yang semakin digital, butuh lebih banyak profesional dan organisasi kesehatan yang memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan konten kesehatan yang benar.
Studi terbaru dari University of Auckland, Selandia Baru, yang diterbitkan di jurnal Rheumatology Advances in Practice oleh Oxford University Press menunjukkan, banyak video Tiktok tentang asam urat (gout) yang mengandung informasi menyesatkan, tidak konsisten, atau tidak akurat.
Tim peneliti studi tersebut menemukan, sebagian besar klip fokus pada perubahan pola makan dan suplemen. Namun, di saat yang sama konten tersebut hampir tidak menyebutkan perawatan jangka panjang yang menurut dokter justru sangat penting dalam mengendalikan penyakit ini.
Selain itu, banyak video menggambarkan asam urat sebagai masalah gaya hidup, bukan kondisi yang sebagian besar disebabkan faktor genetika dan kesehatan lain. Meskipun diet dan alkohol memengaruhi risiko asam urat, faktor lain memainkan peran yang jauh lebih besar.
Banyak video Tiktok tentang asam urat (gout) yang mengandung informasi menyesatkan, tidak konsisten, atau tidak akurat.
Samuela Ofanoa, penulis utama hasil studi tersebut sekaligus pengajar di Pacific Health Departement University of Auckland, seperti dikutip dari laman Sciencedaily, Senin (12/1/2026), mengemukakan, faktor genetika, fungsi ginjal, dan berat badan justru berdampak lebih besar terhadap risiko asam urat.
”Ketika konten hanya berfokus pada faktor gaya hidup, hal itu dapat membingkai asam urat sebagai kegagalan pribadi daripada kondisi medis yang berakar pada biologi yang mendasarinya,” ujar Ofanoa.
Pemahaman tentang asam urat di kalangan pasien ataupun masyarakat umum masih terbatas. Pedoman medis dari organisasi reumatologi merekomendasikan terapi penurun asam urat jangka panjang sebagai cara paling efektif mengelola penyakit ini. Meski demikian, banyak pasien yang kondisi asam uratnya tidak terkontrol dengan baik.
Ofanoa mengatakan, timnya memilih Tiktok karena platform media sosial ini menjangkau sekitar 1,2 miliar pengguna di seluruh dunia. Pengaruhnya kuat dalam membentuk keyakinan orang dalam membuat keputusan kesehatan.
Saat ini, terdapat sekitar 98 persen orang berusia 12 tahun ke atas yang menggunakan setidaknya satu platform media sosial. Orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu juga sangat aktif, dengan 52 persen di antaranya berbagi informasi kesehatan secara daring.
Dalam studi ini, 70 persen dari 1.172 perempuan berusia 18-29 tahun mengatakan bahwa mereka sengaja mencari informasi kesehatan di Tiktok. Bahkan, 92 persen melaporkan menemukan konten kesehatan di sana tanpa secara aktif mencarinya.
Siobhan Tu’akoi, peneliti lainnya dari University of Auckland, memaparkan, untuk lebih memahami apa yang dilihat pengguna, para peneliti mencari istilah ”asam urat” di halaman penemuan Tiktok dan meninjau 200 video pertama yang muncul pada 5 Desember 2024.
Pengunggah konten paling umum adalah orang-orang dengan asam urat atau anggota keluarga dekat mereka (27 persen). Para profesional kesehatan menyumbang 24 persen dari video tersebut, sementara masyarakat umum menyumbang 23 persen.
Video-video tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Sekitar 38 persen bertujuan memberikan saran kesehatan, 20 persen berfokus pada berbagi pengalaman pribadi dengan penyakit asam urat, dan 19 persen dirancang untuk mempromosikan atau menjual produk.
Menurut Tu’akoi, sekitar 45 persen dari video tersebut menyebut pilihan diet dan gaya hidup sebagai faktor risiko asam urat. Sekitar 79 persen video membahas cara mengelola asam urat dengan panduan diet sebagai fokus utama.
Selain itu, beberapa video mencantumkan makanan yang harus dihindari. Salah satu video, misalnya, menampilkan pasien asam urat di rumah sakit yang memberi tahu bahwa risiko asam urat bisa dikurangi dengan mengurangi konsumsi garam, alkohol, dan daging merah. Banyak video juga mempromosikan suplemen, produk herbal, atau pengobatan rumahan, termasuk barang-barang yang dipasarkan sebagai pil herbal tanpa efek samping.
Ofanoa mengatakan, sangat sedikit video yang membahas obat resep. Hanya tujuh video asam urat yang membahas pengobatan berbasis obat. Ini pun biasanya lebih fokus pada pereda nyeri jangka pendek, seperti steroid atau obat antiinflamasi nonsteroid, misalnya kolkisin, ibuprofen, dan naproxen.
Yang lebih mengejutkan lagi, hanya dua video yang menyebutkan terapi penurunan kadar asam urat jangka panjang. Padahal, pendekatan ini dianggap sebagai pengobatan standar berbasis bukti untuk penyakit asam urat dan sangat direkomendasikan oleh para ahli reumatologi.
Secara keseluruhan, para peneliti menemukan bahwa banyak video Tiktok kurang memberikan penjelasan akurat tentang bagaimana asam urat diproduksi dalam tubuh dan apa yang sebenarnya mendorong risiko asam urat. Asam urat sering digambarkan sebagai kondisi yang disebabkan oleh pilihan makanan yang meningkatkan kadar asam urat.
Ofanoa menuturkan, media sosial seperti Tiktok memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan dan mempromosikan informasi yang sesuai dengan pedoman klinis. Untuk itu, butuh lebih banyak profesional dan organisasi kesehatan membuat konten kesehatan di platform media sosial.
Secara terpisah, Ciera E Kirkpatrick dari College of Jorunalism & Mass Communication di University of Nebraska–Lincoln, Amerika Serikat, di jurnal JMIR Infodemiology mendukung para profesional kesehatan dan akademisi komunikasi kesehatan untuk proaktif menggunakan Tiktok sebagai platform untuk menyebarkan informasi kesehatan.
Sebuah riset di Amerika Serikat yang melibatkan 1.172 perempuan berusia 18-29 tahun sepanjang April-Mei 2023 mengungkap, mayoritas responden memperoleh informasi kesehatan dari Tiktok dan lebih menyukai informasi dari profesional kesehatan. Sebagian besar responden memperoleh informasi kesehatan dari Tiktok secara tidak sengaja.
Sumber informasi kesehatan yang umum mereka jumpai ialah tenaga profesional kesehatan ataupun pengguna umum. ”Namun, para responden menunjukkan preferensi yang lebih besar terhadap informasi kesehatan dari tenaga profesional kesehatan dibandingkan pengguna umum,” kata Kirkpatrick.


