EtIndonesia. Situasi di Iran kini memasuki titik paling berbahaya dalam lebih dari empat dekade terakhir—sebuah fase kritis yang tidak hanya menentukan nasib rezim berkuasa, tetapi juga berpotensi mengubah peta geopolitik Timur Tengah secara menyeluruh.
Dalam beberapa hari terakhir, gelombang protes nasional di Iran resmi memasuki fase kedua, yang oleh banyak analis disebut sebagai fase “penentuan hidup dan mati”. Ini bukan lagi rangkaian demonstrasi sporadis, melainkan konfrontasi terbuka antara rezim teokratis yang dipimpin ulama dengan rakyat penentang kekuasaan Republik Islam.
Protes Terbesar Sejak 1979, Menyapu 115 Kota
Berbagai media internasional dan regional melaporkan bahwa gelombang perlawanan ini merupakan yang terbesar dan paling intens sejak Revolusi Iran 1979, sekaligus yang paling luas selama 46 tahun kekuasaan kelompok ulama.
Aksi protes tercatat telah terjadi di sedikitnya 115 kota, belum termasuk puluhan kota kecil dan wilayah pedesaan yang tidak terdata secara resmi. Untuk pertama kalinya, terbentuk koordinasi nasional lintas wilayah dan lintas kelas sosial, sebuah fenomena yang belum pernah terlihat dalam sejarah modern Iran.
Teheran dan Mashhad: Kota Besar Masuk Kondisi Setengah Perang
Pada malam 7–8 Januari 2026, jumlah demonstran di Teheran dan Mashhad—kota terbesar kedua Iran—diperkirakan melampaui satu juta orang.
Massa meneriakkan slogan seperti “Ini adalah pertempuran terakhir!” sambil mendorong garis pertahanan aparat keamanan. Bentrokan frontal berlangsung selama berjam-jam antara demonstran dan Garda Revolusi Islam (IRGC), milisi Basij, serta kepolisian nasional. Banyak wilayah kota berubah menjadi zona bentrokan intens, menciptakan kondisi yang oleh warga setempat digambarkan sebagai “setengah perang”.
Di kawasan Haft-e-Hoz, Teheran, sebuah gedung resmi pemerintah dibakar oleh massa. Di berbagai distrik, demonstran mengibarkan bendera Pahlavi, simbol dinasti Iran sebelum Revolusi Islam—sebuah tindakan yang secara terbuka menantang legitimasi Republik Islam Iran.
Tekanan Massa Memukul Mundur Aparat di Sejumlah Kota
Di wilayah Ashrafi, Isfahan, pasukan keamanan dilaporkan mundur tergesa-gesa akibat tekanan besar dari demonstran, mencerminkan melemahnya kontrol keamanan di tingkat lapangan.
Situasi semakin genting ketika massa sempat bergerak hingga Jalan Pirouz, hanya beberapa ratus meter dari markas pusat IRGC. Meski akhirnya dipukul mundur melalui serangan balasan besar-besaran, insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya garis pertahanan rezim.
Di Mashhad, massa berhasil memaksa IRGC dan milisi Basij menarik diri dari sejumlah wilayah strategis. Kota ini memiliki nilai simbolik tinggi, karena merupakan kampung halaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Hamedan, Ardabil, Isfahan: Kota-kota Jatuh ke Tangan Massa
Di Hamedan, demonstran menggunakan batu bata, bom molotov, bahkan senjata api untuk memukul mundur aparat dan mengambil alih operasional kota. Hamedan menjadi kota keempat yang dilaporkan “jatuh ke tangan massa” setelah Karaj, Malayer, dan Abdanan.
Bentrok keras juga terjadi di Isfahan, di mana fasilitas luar IRGC dibakar. Mahasiswa, buruh, guru, dan pedagang terlihat berada di garis depan, menandai partisipasi lintas kelas sosial yang membuat gerakan ini semakin sulit dibendung.
Di Ardabil, kantor polisi dibakar. Rekaman video memperlihatkan tarik-ulur sengit antara massa dan aparat, dengan pemandangan yang menyerupai pertempuran kota.
Perlawanan Simbolik Kaum Perempuan Iran Mengguncang Dunia
Salah satu pemandangan paling mengguncang datang dari perempuan muda Iran. Beberapa di antaranya merobek jilbab mereka di depan aparat bersenjata, berteriak: “Lindas aku dengan kendaraanmu!”
Aksi ini dipandang luas sebagai penolakan total terhadap rasa takut, sekaligus simbol runtuhnya kontrol psikologis rezim terhadap generasi muda Iran.
Korban Jiwa dan Penangkapan Massal
Hingga 8 Januari 2026, sedikitnya 41 orang tewas, sementara lebih dari 2.200 orang ditangkap, termasuk pelajar, buruh, hingga pengusaha. Dalam satu malam saja, seorang remaja 17 tahun tewas di lokasi, dan seorang pemuda 18 tahun meninggal dunia di rumah sakit. Ratusan orang dari kedua pihak mengalami luka-luka.
Internet Diputus Total, Starlink Jadi Jalur Kehidupan
Menghadapi eskalasi yang makin liar, Putra Mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, sempat berencana menyerukan mobilisasi nasional daring dan transisi ke fase perlawanan bersenjata.
Namun, pemerintah Iran segera memutus total akses internet nasional, sebuah langkah yang oleh banyak analis dipandang sebagai sinyal akan dimulainya pembersihan berdarah skala besar.
Sebelum pemadaman total, Elon Musk mengumumkan pembukaan layanan Starlink gratis bagi demonstran Iran. Banyak perangkat Starlink yang masih tersisa sejak protes 2022, dan hingga kini dinilai sulit dinetralisasi oleh pemerintah.
Seruan Terbuka ke Trump dan Netanyahu
Di Mashhad, demonstran secara terbuka menyerukan bantuan kepada Donald Trump dan Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa rakyat Iran sedang dibantai dan meminta dukungan internasional agar Pahlavi dapat kembali ke Iran—sebuah langkah yang sangat jarang terjadi dalam sejarah Iran modern.
8 Januari: Ancaman Trump dan Isu Pelarian Khamenei
Pada 8 Januari 2026, Trump mengeluarkan peringatan ketiga kepada kelompok ulama Iran, menegaskan bahwa jika penindasan berlanjut, Amerika Serikat akan memberikan pukulan keras. Dia juga secara terbuka mengklaim bahwa Khamenei tengah bersiap melarikan diri dari Teheran, disertai ancaman militer yang sangat gamblang.
Pernyataan ini langsung mengguncang opini publik internasional dan memperparah ketegangan AS–Iran.
Emas, Moskow, dan Bayang-bayang Skenario Suriah
Hampir bersamaan, kalangan diplomatik dan intelijen melaporkan bahwa Teheran diam-diam memindahkan cadangan emas dan dokumen negara penting ke luar negeri, dengan Moskow disebut sebagai tujuan utama. Meski dibantah pemerintah Iran, laporan eksklusif media Inggris memperkuat kecurigaan tersebut.
Banyak pihak membandingkan situasi ini dengan nasib mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang akhirnya berlindung di Rusia setelah kekuasaannya runtuh.
Militer AS Bergerak, Dunia Evakuasi Warga
Menurut Reuters, Komando Eropa militer AS mempercepat penempatan pasukan di sekitar Iran. Berbagai pesawat militer dikerahkan, dan Delta Force dilaporkan telah menyelesaikan penempatan garis depan di perbatasan Irak–Iran.
Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, India, dan Ukraina mengeluarkan peringatan perjalanan tingkat tertinggi dan memerintahkan warganya segera meninggalkan Iran.
Pidato Penentu Reza Pahlavi, 12 Januari
Media Jerusalem Post melaporkan bahwa Reza Pahlavi akan menyampaikan pidato penting pada 12 Januari 2026 di Mar-a-Lago, yang dipandang sebagai pernyataan arah transformasi politik Iran ke depan.
Iran di Persimpangan Sejarah
Saat ini, Iran telah menutup seluruh wilayah udaranya, sementara sistem pertahanan udara berada pada status siaga tingkat satu. BBC sebelumnya mengutip sumber yang menyebut Khamenei telah melarikan diri ke Moskow dengan membawa sekitar 95 miliar dolar AS aset, meski klaim ini belum terverifikasi.
Namun, rumor itu saja sudah cukup mengguncang fondasi rezim.
Jika rezim teokratis runtuh, sanksi Barat hampir pasti akan dicabut. Dengan cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia, Iran berpotensi mengalami transformasi ekonomi besar dalam waktu singkat—dan untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, harapan akan masa depan yang lebih sejahtera kembali terbuka bagi rakyatnya.




