Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah usai sempat turun tajam lebih dari 2 persen pada Senin (12/1/2026).
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah usai sempat turun tajam lebih dari 2 persen pada Senin (12/1/2026) di tengah sejumlah sentimen baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup melemah 0,58 persen ke level 8.884,72.
Sebelumnya, IHSG sempat merosot tajam hingga 2,48 persen ke posisi 8.715,41 pada rentang waktu 14.25-14.30 WIB, sebelum berbalik pulih cepat dan memangkas pelemahan hanya dalam 3-5 menit berikutnya.
Tekanan kuat terutama datang dari saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar, termasuk emiten Grup Barito milik Prajogo Pangestu. Saham BRPT anjlok 7,10 persen, BREN melemah 5,02 persen, CDIA turun 5,83 persen, dan PTRO terkoreksi 6,43 persen.
Aksi jual juga menyeret saham-saham Grup Bakrie yang berada di bawah kendali Grup Salim. Saham BUMI melemah 5,63 persen setelah sebelumnya sempat terjun hingga 12 persen. Adapun saham DEWA sempat anjlok 13 persen, sebelum memangkas pelemahan dan ditutup turun 2,47 persen.
Kejatuhan mendadak IHSG ini terjadi setelah indeks acuan tersebut sempat mencetak rekor dengan menembus level 9.000 untuk pertama kalinya secara intraday pada perdagangan 8 Januari 2026.
Menurut catatan Ashmore Indonesia, penurunan tajam IHSG di awal pekan ini salah satunya dipicu laporan broker yang menyinggung potensi pelebaran defisit fiskal Indonesia melampaui 3 persen. Namun, Ashmore Indonesia menilai skenario tersebut relatif tidak realistis.
Ashmore Indonesia menjelaskan, peningkatan defisit fiskal di atas 3 persen memerlukan revisi undang-undang (UU) serta persetujuan DPR dan MPR yang melibatkan banyak partai politik.
Proses tersebut dinilai sulit dilakukan dalam waktu singkat tanpa pembahasan yang matang dan menyeluruh.
Selain itu, tekanan pasar juga diduga berasal dari aksi ambil untung sebagian investor menjelang pengumuman free float MSCI bulan ini.
Secara keseluruhan, Ashmore Indonesia memandang pelemahan pasar saat ini sebagai peluang untuk menerapkan strategi buy on dips.
Dengan bauran kebijakan fiskal dan moneter yang suportif sepanjang tahun ini, serta prospek pertumbuhan laba yang positif, valuasi IHSG dinilai tetap menarik dengan potensi kenaikan yang solid.
Sementara, menurut BRI Danareksa Sekuritas, penurunan signifikan IHSG pada perdagangan hari ini akibat kombinasi sejumlah sentimen negatif, baik dari global maupun domestik.
Tekanan tersebut membuat pasar saham bergerak dalam mode risk-off dan memicu aksi jual yang bersifat panik.
BRI Danareksa menjelaskan, faktor pertama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) kembali melontarkan ancaman terhadap Iran.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar global menghindari aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Tekanan berikutnya datang dari pelemahan nilai tukar rupiah. Prospek rupiah pada 2026 yang berpotensi berada di atas Rp16.800 per dolar AS memicu kekhawatiran akan arus keluar modal asing, sehingga menekan sentimen di pasar saham domestik.
Selain itu, aksi jual terjadi secara merata di hampir seluruh sektor, ditandai mayoritas saham berada di zona merah.
BRI Danareksa menilai kondisi ini bukan sekadar koreksi sehat, melainkan cenderung dipicu kepanikan pasar.
Dari sisi teknikal, meski IHSG telah terkoreksi sekitar 2 persen, tren jangka menengah masih tergolong bullish. Pelemahan saat ini dinilai lebih sebagai aksi ambil untung, dengan area support krusial berada di kisaran 8.700-8.775.
Indikator teknikal juga dinilai mulai turun dari area jenuh beli, menandakan pasar masih membutuhkan fase konsolidasi.
Laporan Citi
Melansir dari Bloomberg, Senin (12/1/2026), Citigroup Inc memperkirakan defisit fiskal Indonesia berpotensi melebar jauh melampaui batas legal 3 persen pada 2026, seiring peningkatan belanja pemerintah untuk program makan bergizi gratis (MBG) nasional serta pembangunan kembali wilayah Sumatra yang terdampak banjir.
Ekonom Citi Helmi Arman dalam catatan terbarunya menyebutkan, Citi menaikkan proyeksi defisit anggaran menjadi 3,5 persen dari produk domestik bruto (PDB), dari perkiraan awal 2,7 persen.
Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi pemerintah akan merevisi Undang-Undang Keuangan Negara guna melonggarkan batas defisit 3 persen sebelum paruh kedua tahun ini.
Namun, risiko pelanggaran batas defisit itu masih bisa dihindari jika pemerintah memilih melakukan pemangkasan belanja secara signifikan demi menjaga disiplin fiskal.
Citi juga memperkirakan rasio utang terhadap PDB Indonesia akan naik menjadi sekitar 42 persen pada 2029, dari estimasi 39 persen pada 2025.
Proyeksi tersebut muncul setelah defisit anggaran Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 2,9 persen dari PDB, yang menjadi yang terlebar dalam lebih dari dua dekade di luar masa pandemi.
Kondisi ini mencerminkan tekanan pada penerimaan negara akibat pertumbuhan ekonomi yang melambat dan harga komoditas yang lemah, di tengah komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan belanja program sosial dan politik.
Citi memperkirakan program MBG akan mencapai skala penuh dengan 83 juta penerima manfaat pada awal kuartal II, dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp300 triliun.
Sementara itu, pembangunan kembali wilayah Sumatra yang terdampak banjir diperkirakan menelan biaya sekitar Rp60 triliun, yang berpotensi menggerus cadangan belanja kontinjensi pemerintah.
Selain itu, transfer ke pemerintah daerah juga berpeluang meningkat seiring dorongan reformasi tahun ini.
Di sisi lain, Bank of America Corp. menyoroti lemahnya kinerja penerimaan negara, meski tetap berpandangan defisit anggaran Indonesia masih dapat dijaga di bawah 3 persen dari PDB tahun ini. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


