"Mas Fit, sakjane Pandji kuwi iso dipidana ora to? Cangkeme lho, pedes tenan..."
Pertanyaan itu meluncur dari mulut Oktrika. Rika. Redaktur junior desk Infotainment. Logat Jogja-nya masih kental, medok, seolah dia baru saja turun dari Prameks. Dia berdiri di samping meja saya, wajahnya separuh cemas, separuh penasaran.
Saya, yang sedang menatap layar monitor sebagai penguasa desk Hukrim (Hukum dan Kriminal) hanya tersenyum tipis.
"Kenapa, Rik? Kamu takut idolamu kenapa-napa?" goda saya.
"Bukan gitu, Mas. Itu lho, dia ngatain Presiden Prabowo, Wapres Gibran, ngatain dinasti. Berani banget. Apa nggak takut diciduk?"
Saya menyeruput kopi saset yang sudah dingin, lalu menatap Rika lekat-lekat.
"Dengar, Rik," kata saya, menegakkan punggung. "Pandji Pragiwaksono itu licin. Licin sekali. Kayak belut yang baru mandi oli mesin".
Rika mengerutkan kening.
"Dia berdiri di panggung. Memegang mikrofon seperti memegang palu hakim. Dia berteriak soal demokrasi. Soal dinasti. Soal kebobrokan sistem. Penonton tertawa. Netizen marah. Twitter (X) terbakar," lanjut saya.
"Lantas, apa yang dilakukan Pandji saat api amarah itu membesar? Apakah dia ambil air? Tidak. Dia ambil sate. Dia mengipasinya. Dia bakar sate di atas api amarah netizen itu, lalu menjual satenya seharga langganan Netflix. Jenius".
Tiba-tiba, suara berat menyela dari kubikel sebelah.
"Ah, terlalu sinis kau, Fit. Itu pendidikan politik!"
Rangga. Redaktur senior desk Politik dan Internasional. Secara usia dia senior, tapi secara struktur, nasib berkata lain. Saya Redaktur Pelaksana, dia masih di bawah saya dua tahun. Rangga mendekat, membawa rokok yang belum disulut. Wajahnya serius.
"Dia itu menyuarakan keresahan kita, Fit. The Last Stand. Dia itu aktivis yang menyamar jadi komika," bela Rangga.
Saya tertawa. Keras.
"Ngga, Mas Rangga. Sampean kejauhan mainnya. Dalam hukum pidana, kita mengenal istilah Mens Rea. Niat jahat. Sikap batin yang tercela. Tanpa Mens Rea, tidak ada pidana. Actus non facit reum nisi mens sit rea".
Saya memberi jeda sebentar, membiarkan istilah Latin itu meresap ke otak mereka.
"Pandji mengambil istilah itu. Menjadikannya judul pertunjukan. Tapi apakah Mens Rea Pandji adalah menghina pejabat? Salah. Itu dakwaan yang terlalu dangkal. Jaksa Penuntut Umum (baca: Netizen) gagal melihat motif utamanya. Mens Rea Pandji yang sesungguhnya adalah. Marketing".
Rangga tampak tidak terima. "Tapi risikonya besar, Fit. Dia bisa jadi Public Enemy".
Saya tidak membiarkan Rangga menyela. Sebelum mulutnya sempat terbuka untuk membantah lebih jauh, saya angkat tangan kanan. Tanda setop.
"Mas Rangga, coba lihat paspornya. Pekerjaannya apa? Politisi? Dosen? Bukan. Dia itu pelawak. Pedagang tawa. Dia punya perusahaan di belakang namanya," bantah saya.
"Dalam hukum pasar, ada asas Lex Specialis Derogat Legi Generali. Bagi Pandji, Kontroversi Khusus mengesampingkan Promosi Umum".
Saya memutar kursi menghadap mereka berdua. Pasang tampang sok serius.
"Mengapa harus pasang baliho mahal-mahal kalau bisa dapat exposure gratis dengan menyenggol nama Presiden? Wapres? Atau Dinasti? Itu efisiensi biaya marketing yang luar biasa. ROI (Return on Investment)-nya tak terhingga. Dia tahu, di Indonesia, marah itu hobi nasional. Tersinggung itu olahraga rakyat. Maka, dia suplai bahannya".
"Tapi Fit, dia kan ngaku berjuang..." sahut Rangga.
"Dia ngaku bayarannya sembilan nol, Mas Rangga," potong saya cepat. "Sembilan nol itu digitnya miliaran. Bisa satu miliar, dua, tiga, atau sembilan miliar sekalian. Dia itu CEO. Dia jualan produk ke Netflix".
"Banyak yang membandingkan dia dengan Ricky Gervais," tambah saya. "Tapi beda. Gervais menghina karena dia tidak butuh disukai. Pandji menghina karena dia butuh didengar. Pandji adalah Gervais Syariah. Dia mengemas kritiknya dengan bungkus Edukasi Politik. Ini strategi. Pertahanan hukum yang brilian. Semacam hak imunitas".
Rika, yang sedari tadi menyimak perdebatan dua seniornya, nyeletuk lagi. "Tapi Mas Fit, itu lho, Dokter Tompi kan protes keras. Katanya nggak etis hina fisik. Itu gimana?"
Saya menghela napas. Tompi lagi.
"Rik, Tompi itu dokter bedah plastik. Dewanya bernama estetika. Jelas dia sensitif kalau ada fisik orang dihina. Tapi dalam hukum, penghinaan itu delik aduan, Nduk. Kalau Gibran-nya santai, atau malah sibuk blusukan, ya pasal itu gugur. Tompi mau teriak sampai pita suaranya putus pun, kalau korbannya diam, polisi nggak bisa proses".
"Di sinilah cerdasnya Pandji," kata saya sambil menunjuk kening. "Dia tahu cara memutarbalikkan beban pembuktian (Onus Probandi). Ketika Tompi menyerangnya, dia tidak bertahan. Dia malah menjadikan serangan itu konten baru. Dia tidak melakukan Counter Plea. Dia melakukan Upselling. 'Anda marah? Tonton versi lengkapnya biar paham konteksnya!'. Luar biasa. Marah pun harus bayar dulu".
Tampak jelas di raut wajah Rangga. Dia tersenyum kecut. Menyadari pola yang saya jelaskan.
"Dia memosisikan diri sebagai Blue Ocean Strategy yang sempurna," gumam Rangga. "Saat komika lain sibuk bahas pacaran beda agama, topik yang digunakan para komika sejak zaman Majapahit, basi. Dia ambil pasar Satir Politik. Sendirian. Monopoli".
"Tepat!" seru saya.
Saya menunjuk layar komputer yang menampilkan trending topic. Nama Pandji ada di sana.
"Lihat ini. Kita bertiga, di ruang redaksi ini, lagi ngomongin dia. Mas Rangga yang urus politik ngomongin dia. Kamu yang urus gosip ngomongin dia. Saya yang urus kriminal ngomongin dia. Kita ini korban iklannya Pandji secara sukarela. Kita masuk marketing funnel-nya. Dari Awareness, Interest, sampai Action nonton Netflix".
Rangga menggeleng-gelengkan kepala. "Sialan. Kita dikerjain".
Saya bersandar di kursi kerja dan menyambar kopi yang nyaris tandas.
"Kita, para penonton, hanyalah juri di pengadilan jalanan yang Pandji ciptakan. Kita berdebat. Kita bikin utas di Twitter. Kita merasa pintar dengan memberikan Dissenting Opinion," lanjut saya menegaskan.
Sementara Pandji?
Dia sudah mengetuk palu. Vonis sudah dijatuhkan. Dia menang telak. Rekeningnya penuh, namanya trending, dan kita semua baru saja selesai menonton iklannya yang berdurasi satu jam lebih.



