Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan pemerintahannya tengah mempertimbangkan sejumlah opsi yang sangat keras terhadap Iran menyusul tindakan keras Teheran dalam menghadapi demonstrasi anti-pemerintah. Opsi tersebut mencakup kemungkinan langkah militer. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One pada Minggu malam, 11 Januari 2026, waktu setempat.
Trump mengatakan militer Amerika Serikat sedang mengkaji situasi Iran secara serius.
Baca Juga :
Protes Iran Masuki Pekan Ketiga, Trump Belum Pertimbangkan Opsi Militer“Kami melihatnya dengan sangat serius. Militer sedang mempelajarinya, dan kami mempertimbangkan beberapa opsi yang sangat kuat. Kami akan mengambil keputusan,” ujar Trump, dikutip dari media Al Jazeera, Senin, 12 Januari 2026.
Ia juga mengklaim bahwa pimpinan Iran telah menghubungi Washington untuk bernegosiasi dan pertemuan sedang disiapkan, meski ia menegaskan tindakan dapat diambil sebelum pertemuan berlangsung. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Teheran. Namun, para pemimpin Iran sebelumnya telah memperingatkan keras kemungkinan intervensi militer.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa jika Iran diserang, maka Israel serta seluruh pangkalan dan kapal Amerika Serikat akan menjadi target yang sah.
Gelombang protes di Iran bermula pada 28 Desember, dipicu anjloknya nilai mata uang rial yang mendorong pedagang di Teheran menutup toko mereka. Aksi tersebut dengan cepat meluas ke berbagai wilayah dan berkembang menjadi penentangan terhadap pemerintahan ulama yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Media pemerintah Iran melaporkan sedikitnya 109 personel keamanan tewas, sementara kelompok oposisi di luar negeri menyebut jumlah korban, termasuk warga sipil, jauh lebih besar. Pemadaman internet nasional juga dilaporkan telah berlangsung lebih dari 72 jam.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pemerintahnya siap mendengarkan tuntutan masyarakat, tetapi meminta warga mencegah perusuh dan unsur teroris. Ia menuding Israel dan Amerika Serikat berada di balik kerusuhan tersebut.
Di sisi lain, Trump dijadwalkan bertemu para penasihat senior pada Selasa untuk membahas langkah terhadap Iran, termasuk opsi militer, sanksi tambahan, dan dukungan teknologi bagi kelompok oposisi, di tengah kebijakan luar negeri agresif yang juga menyentuh isu Venezuela dan Greenland.
(Keysa Qanita)




