BALIKPAPAN, KOMPAS - Presiden Prabowo Subianto meresmikan infrastruktur energi terintegrasi Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2025). Dengan pengembangan kilang minyak ini, Indonesia diklaim bakal stop impor solar mulai tahun ini.
“Di bidang energi kita menuju kemampuan mandiri. Kita tidak boleh tergantung energi dari luar,” ujar Prabowo saat meresmikan RDMP Balikpapan.
Ia mengatakan, Indonesia mampu mandiri energi dan merdeka energi. Untuk itu, Prabowo berharap Pertamina yang konsisten masuk dalam daftar Fortune Global 500 (perusahaan-perusahaan terbesar dunia) bisa berkembang dan berkontribusi dalam mencapai kemandirian energi Indonesia.
RDMP Balikpapan adalah proyek revitalisasi kilang guna meningkatkan kapasitas kilang minyak. Dalam catatan Pertamina, proyek yang dibangun sejak 2019 ini meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.
Selain itu, dengan teknologi yang ada, kilang RDMP mampu menghasilkan produk setara Euro 5 dari yang sebelumnya hanya Euro 2. Euro 5 adalah standar emisi gas buang kendaraan yang ditetapkan Uni Eropa untuk mengurangi polusi udara.
Pertamina mencatat, beroperasinya RDMP Balikpapan bisa menekan impor produk migas, diesel, avtur, dan LPG hingga Rp 68 triliun per tahun.
Proyek dengan nilai investasi 7,4 miliar dolar AS atau setara Rp 123 triliun ini semula ditarget rampung pada Mei 2024. Namun, kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, proyek ini molor karena ada bagian proyek yang dibakar.
Setelah diinvestigasi, Bahlil menyebut ada pihak yang tak ingin Indonesia mandiri energi. “Ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita punya cadangan dan swasembada energi supaya kita impor terus,” katanya.
Total area RDMP adalah 80,64 hektar. Selama masa konstruksi, kontribusi produk domestik bruto (PDB) nasional proyek ini Rp 514 triliun dengan penyerapan 24.000 tenaga kerja. Adapun penyerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dari RDMP Balikpapan ditarget sebesar 35 persen.
RDMP di Balikpapan ini adalah yang terbesar di Indonesia. Proyek ini juga tercatat sebagai RDMP yang diresmikan setelah 32 tahun Indonesia tak membangun proyek serupa. Terakhir, RDMP Balongan di Jawa Barat diresmikan pada 1994.
Bahlil mengatakan, pada 2025, impor solar Indonesia 5 juta ton. Dengan kemampuan produksi RDMP Balikpapan, ia menyebut Indonesia tak lagi mengimpor solar C48.
“Insya Allah kita tahun ini tidak lagi melakukan impor solar,” katanya.
Hal serupa juga ditarget untuk bensin. Bahlil menyebut, konsumsi bensin Indonesia saat ini 38 juta kiloliter per tahun. Itu dipenuhi dengan produksi dalam negeri 14,25 juta kiloliter per tahun. Sisanya sekitar 24 juta kiloliter harus diimpor.
Dengan adanya RDMP, produksi bensin dalam negeri bertambah 5,8 juta kiloliter. “Maka impor kita terhadap bensin tinggal 18-19 juta kiloliter per tahun. Ini akan kita dorong agar seperti solar, tidak impor lagi,” ujar Bahlil.
Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, RDMP Balikpapan menerapkan teknologi RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking). Ini memungkinkan residu yang sebelumnya tidak terolah menjadi produk yang jauh lebih bermanfaat dan bernilai tinggi.
Simon mengatakan, proyek ini juga menguatkan cadangan dan distribusi nasional. Infrastruktur ini mengintegrasikan proses pengolahan dari hulu dan hilir melalui pembangunan pipa gas Senipah-Balikpapan sepanjang 78 kilometer
"Dan, yang berikutnya RDMP terintegrasi juga dengan terminal BBM Tanjung Batu dengan volume 125.000 kiloliter yang bisa melayani distribusi ke Indonesia bagian timur," ujar Simon.
PT Pertamina juga membangun terminal tangki yang terintegrasi dengan RDMP di Lawe-Lawe. Hal ini menambah produksi dan cadangan minyak untuk diolah.
“Terminal tangki di Lawe-Lawe sebesar dua kali satu juta barel. Jadi dengan demikian, total 2 juta barel tambahan untuk crude (minyak mentah) yang bisa ditampung di sana dari total keseluruhan di Lawe-Lawe sebesar 7,6 juta barel crude," tutup Simon.




