JAKARTA, DISWAY.ID-- Kabar meninggalnya seorang pasien yang terpapar varian "Super Flu" di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung memicu keresahan publik.
Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin angkat bicara untuk meredam spekulasi.
BACA JUGA:Kelakar Beckham Usai Bawa Persib Menang atas Persija: Mereka Terpancing Ketengilan Saya
BACA JUGA:AHM Dukung Pemulihan Bencana Sumatera, Ada Layanan Service Motor Gratis Hingga Sarana Air Bersih
Menkes menegaskan bahwa penyebab utama kematian pasien tersebut bukanlah akibat serangan virus flu semata, melainkan adanya komplikasi dari penyakit penyerta atau komorbid.
Pernyataan ini muncul menyusul laporan adanya satu korban jiwa dari kelompok 62 pasien yang sebelumnya telah terdeteksi terpapar varian H3N2 atau yang populer dijuluki sebagai Super Flu.
Bukan Virus Baru: Analogi Kecelakaan Mobil
Dalam penjelasannya, Menkes meminta masyarakat untuk tidak menyamakan fenomena Super Flu ini dengan krisis COVID-19 beberapa tahun silam.
BACA JUGA:Rayakan 5 Abad Jakarta, Real Madrid Vs Barcelona Legends Siap Getarkan GBK!
BACA JUGA:Bahlil soal Pembangunan RDMP Balikpapan yang Tertunda: Harusnya Mei 2024 Selesai, Tapi Terbakar
Menurutnya, H3N2 adalah varian flu lama yang secara periodik memang beredar di tengah masyarakat, sehingga sistem imun manusia pada dasarnya sudah memiliki memori untuk menghadapinya.
Budi Gunadi menggunakan analogi yang cukup tajam untuk menjelaskan posisi kasus di Bandung. Ia mengibaratkan kondisi pasien tersebut seperti seseorang yang sedang flu namun kemudian mengalami kecelakaan fatal.
"Contohnya begini, ada orang flu, kemudian ketabrak mobil. Dia meninggal karena ketabrak mobil sebenarnya, bukan karena flu-nya," ujar Menkes saat memberikan keterangan pers via Zoom, Senin 12 Januari 2026.
"Ini sama dengan yang di Bandung, yang bersangkutan memang punya penyakit lain yang menyebabkan meninggal dunia," tambahnya.
BACA JUGA:Petugas Haji 2026 Jalani Simulasi Penanganan Darurat Kesehatan Jemaah
- 1
- 2
- »





