Demonstrasi di Iran berujung kerusuhan terus meluas hingga menyebabkan lebih dari 500 orang meninggal dunia. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyebabkan bara kekacauan di negaranya.
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung tiga hari untuk menghormati warganya yang tewas. Pengumuman itu dibuat oleh pemerintah Iran pada Minggu (11/1) waktu setempat. Warga yang meninggal disebut sebagai 'martir gerakan perlawanan nasional Iran melawan Amerika dan rezim zionis'.
"Rakyat Iran telah mengalami langsung teroris kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan seperti ISIS terhadap warga sipil, anggota Basij, dan pasukan keamanan, yang mengakibatkan banyak kematian, tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga saat ini," kata Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) dilansir CNN International, Senin (12/1).
Lebih dari 100 anggota pasukan keamanan Iran telah tewas sejak dimulainya protes. Sementara 500 demonstran dilaporkan telah tewas dan lebih dari 10.000 orang ditangkap selama 15 hari terakhir, berdasarkan laporan kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA.
AS-Israel Dituduh Kirim Teroris Bikin Rusuh
Presiden Iran Pezeshkian menuduh AS dan Israel, selaku musuh-musuh Iran, berupaya menebar kekacauan dan ketidakstabilan di negaranya, setelah gagal membuat Iran bertekuk lutut dalam perang pada Juni tahun lalu.
"Musuh-musuh Iran berupaya menebar kekacauan dan ketidakstabilan," kata Pezeskhian dalam pernyataannya kepada televisi pemerintah Iran, seperti dilansir Anadolu Agency, Senin (12/1).
Ini menjadi pernyataan pertama yang disampaikan Pezeshkian sejak unjuk rasa yang dimulai bulan lalu, untuk memprotes kondisi ekonomi yang memburuk, berubah menjadi aksi protes yang diwarnai tindak kekerasan sejak pekan lalu.
Pezeshkian mengecam serangan baru-baru ini terhadap tempat-tempat umum, termasuk masjid, di Teheran dan kota-kota Iran lainnya. Dia menyalahkan AS dan Israel atas rentetan tindak kekerasan selama unjuk rasa berlangsung di Iran.
(rfs/fca)





