Jakarta, VIVA – Pandemi Covid-19 telah mengubah hampir setiap aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan peluang kerja bagi generasi muda. Bagi Generasi Z alias Gen Z, dampaknya terasa sangat nyata. Banyak dari mereka mengalami kehilangan pengalaman belajar langsung, interaksi sosial, dan kesempatan untuk membangun keterampilan yang relevan di dunia kerja.
Kondisi ini, akhirnya memunculkan fenomena NEET (Not in Education, Employment, dan Training), menunjukkan bahwa hampir satu juta orang berusia 16–24 tahun tidak berada dalam institusi pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan pada akhir 2025.
Dari jumlah tersebut, hampir 600.000 bahkan tidak aktif mencari pekerjaan. Laporan dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan bahwa generasi muda menghadapi kesulitan besar untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka.
Salah satu alasannya adalah mereka belum sepenuhnya siap memasuki dunia kerja, terutama karena pandemi, yang membuat mereka kehilangan peluang untuk mengembangkan keterampilan sosial dan pengalaman praktis.
Julie Leonard, Chief Impact Officer di badan amal Shaw Trust yang bekerja untuk mengakhiri krisis NEET, mengungkapkan, pembelajaran daring dan keterbatasan interaksi selama lockdown 2020 menciptakan kesenjangan sosial bagi Generasi Z, terutama yang berusia 20 hingga 24 tahun.
- freepik.com/yanalya
“Banyak orang muda yang kehilangan tahun-tahun penting di bangku pendidikan tatap muka. Alhasil, mereka juga kehilangan pengalaman kerja, kesiapan bekerja, dan soft skill. Kini mereka menjadi dewasa dalam pasar kerja yang sangat sulit dan lanskap rekrutmen yang telah berubah total selama bertahun-tahun,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari CNBC, Selasa, 13 Januari 2026.
Padahal, soft skill, seperti kemampuan memimpin tim, bekerja sama, dan mengikuti instruksi, menjadi kunci untuk siap kerja. Selain itu, Leonard juga menekankan bahwa banyak generasi muda tidak mendapat kesempatan untuk keluar dari zona nyaman mereka di rumah, termasuk berbicara dengan orang asing atau datang tepat waktu ke sekolah atau pekerjaan.
Leonard menyebut, banyak perusahaan besar, termasuk KPMG dan PwC, yang menemukan bahwa pekerja muda mereka kekurangan keterampilan etiket di tempat kerja, seperti komunikasi dan kolaborasi. PwC bahkan mulai menawarkan pelatihan resiliensi bagi lulusan baru pada 2025, sementara KPMG sudah menyelenggarakan sesi soft skill sejak 2023, termasuk kemampuan bekerja sama dan presentasi, karena pandemi berdampak pada kurangnya “human skills” generasi muda.





