Superflu, bukan Penyakit Baru, Melainkan Mutasi Influenza A/H3N2

mediaindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

BELAKANGAN ini, istilah superflu ramai diperbincangkan publik seiring dengan melonjaknya kasus influenza di berbagai wilayah. Namun, akademisi dari Fakultas Kedokteran IPB University Dr. dr. Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt) menegaskan bahwa superflu bukanlah sebuah nama penyakit baru dalam dunia medis.

Menurut Desdiani, istilah tersebut merupakan sebutan populer untuk menggambarkan peningkatan signifikan kasus flu yang dipicu oleh strain tertentu. 

Secara spesifik, superflu merujuk pada virus Influenza A subtipe H3N2, khususnya subklade K, yang memiliki kemampuan menyebar lebih cepat.

"Virus influenza terus mengalami mutasi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Karena itu, vaksin flu perlu diperbarui secara berkala. Subtipe influenza A/H3N2 sendiri telah ada sejak 1968 dan sudah mengalami lebih dari selusin perubahan," ujar Desdiani.

Tren Kasus di Indonesia

Berdasarkan pemantauan Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS), aktivitas influenza di negara tropis seperti Indonesia menunjukkan pola yang fluktuatif sepanjang 2025. Puncak kasus di Asia Tenggara dilaporkan terjadi pada Agustus 2025, dengan dominasi subklade K yang mencapai hampir 90% dari total kasus terbaru.

Data sekuens genetik menunjukkan bahwa subklade K mengalami genetic drift, sebuah perubahan genetik yang memengaruhi karakteristik virus namun tetap dalam koridor evolusi alami. 

Meski musim flu tahun 2025 tercatat datang satu bulan lebih awal dengan jumlah kasus tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya,  Desdiani menyebut situasi kini mulai mereda.

"Tingkat positivitas tes flu mingguan juga turun menjadi sekitar 4%, meski musim flu tahun ini tercatat datang satu bulan lebih awal dengan jumlah kasus tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama di 2024," paparnya. 

Sejak pertengahan Desember 2025, tren kasus dilaporkan telah mencapai titik datar dan menurun secara stabil.

Pentingnya Mitigasi dan Vaksinasi

Meski tingkat keparahan penyakit masih berada dalam batas normal,  Desdiani mengingatkan agar masyarakat tidak lengah, terutama terkait beban pada sistem layanan kesehatan. 

Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan pemilik penyakit kronis tetap berisiko mengalami komplikasi serius.

Langkah pencegahan utama yang disarankan adalah vaksinasi tahunan. Vaksin flu terbukti efektif menurunkan risiko rawat inap hingga 70%–75% pada anak-anak dan 30%–40% pada kelompok dewasa.

"Sebagian besar kasus flu memang sembuh sendiri, tetapi komplikasi serius dapat terjadi, terutama pada anak kecil, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan tenaga kesehatan," pungkasnya.

Selain vaksinasi, masyarakat diimbau untuk konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menggunakan masker saat merasa tidak sehat, serta menjaga etika batuk dan kebersihan tangan sebagai benteng pertahanan utama. (Ant/Z-1)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Puan Maharani Ajak Kader PDIP Bersikap Kritis dan Solutif Sebagai Partai Penyeimbang
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Banjir Arteri Lumpuhkan Akses Keluar Tol, Polisi Rekayasa Lalin di Rawa Bokor
• 19 jam lalusuara.com
thumb
Resmi! Bulog Kantongi Margin Fee 7 Persen untuk Dukung Beras Satu Harga
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
BPJPH Perluas Kolaborasi untuk Perkuat Ekosistem Halal melalui MoU dengan Pedagang Pasar
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Marc Marquez Diminati Banyak Tim, Ducati Gerak Cepat
• 2 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.