Revolusi Iran Kian Panas, AS Ungkit Operasi Venezuela—Pesan Tersirat untuk Teheran?

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi Revolusi Nasional Iran memasuki hari ke-15 pada 11 Januari 2026, ditandai dengan berlanjutnya aksi protes di berbagai wilayah Iran setelah Putra Mahkota, Reza Pahlavi untuk keempat kalinya menyampaikan seruan nasional kepada rakyat Iran. 

Gelombang perlawanan di dalam negeri berlangsung seiring dengan meningkatnya aksi solidaritas diaspora Iran di Eropa, Amerika Serikat, Kanada, serta ratusan kota lain di seluruh dunia, yang secara terbuka menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran dan kepemimpinan simbolik Reza Pahlavi.

Diaspora Iran Bergerak Serentak

Pada 11 Januari, komunitas Iran di luar negeri kembali turun ke jalan. Aksi-aksi tersebut menampilkan tuntutan yang konsisten: diakhirinya rezim ulama dan dimulainya transisi politik yang damai. Para pengamat menilai konsistensi mobilisasi diaspora memperkuat tekanan internasional, sekaligus menjaga atensi media global pada perkembangan di dalam Iran.

Rekaman Air Force One dan Sinyal dari Washington

Di tengah eskalasi tersebut, spekulasi mengenai langkah Amerika Serikat kian menguat. Sejumlah akun berpengaruh di platform X membagikan rekaman audio yang diklaim merekam percakapan Presiden AS, Donald Trump dengan wartawan di Air Force One. 

Saat ditanya apakah Iran telah melampaui “garis merah”, Trump menjawab: “Mereka mulai melampaui batas. Tampaknya sudah ada korban jiwa. Militer sedang menyelidiki hal ini. Kami memiliki langkah balasan yang sangat kuat.”

Pernyataan tersebut memicu harapan di kalangan demonstran bahwa Washington akan mengambil tindakan tegas terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagaimana AS pernah bertindak keras terhadap Nicolás Maduro di Venezuela.

Gedung Putih Angkat Kesaksian Operasi Venezuela

Masih pada 11 Januari, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt membagikan ulang sebuah kesaksian wawancara mantan personel keamanan Venezuela—yang sebelumnya loyal pada rezim Maduro—melalui platform X. 

Leavitt menyertakan pesan singkat yang mencolok: “Hentikan sejenak pekerjaanmu dan tonton ini.”

Kesaksian tersebut diproduksi oleh sebuah stasiun televisi di California bersama seorang pembawa acara podcast, dan menggambarkan secara rinci operasi militer AS di Venezuela.

“Radar Lumpuh, Drone Membanjiri Langit”

Menurut pengakuan mantan pengawal itu, begitu operasi dimulai, sistem radar Venezuela langsung lumpuh total tanpa peringatan, membuat pertahanan kehilangan kesadaran situasional. Tak lama berselang, gerombolan drone muncul dalam jumlah besar, menyulitkan pasukan untuk mendeteksi maupun bereaksi tepat waktu.

Dia menyebut fase pertempuran darat sebagai bagian paling menakutkan. Militer AS, katanya, hanya mengerahkan sekitar 8 helikopter dan ±20 personel, namun dengan perlengkapan yang melampaui doktrin militer konvensional. Dalam baku tembak singkat, kepadatan dan akurasi tembakan digambarkan sangat tinggi—seolah ratusan peluru dilepaskan setiap menit—mengakibatkan kerugian besar di pihak penjaga. Situasi itu dia ibaratkan “pemanenan sepihak”, bukan pertempuran setara.

Klaim Senjata Gelombang Suara

Bagian paling kontroversial dari kesaksian tersebut adalah klaim penggunaan senjata berbasis gelombang suara. Senjata ini, menurutnya, memancarkan gelombang kuat yang memicu sakit kepala hebat, mimisan, muntah darah, hingga hilangnya kemampuan bergerak, tanpa menggunakan amunisi konvensional.

Saat operasi berlangsung, Venezuela disebut telah mengoperasikan kendaraan amfibi VN-16, kendaraan tempur infanteri VN-18, serta sistem roket multi-laras SR-5 buatan Tiongkok—yang sebelumnya dipromosikan sebagai tulang punggung pertahanan modern Amerika Selatan. Namun, jaringan pertahanan udara yang mendapat dukungan Tiongkok dan Rusia diklaim gagal memberikan peringatan dini, dan sejumlah fasilitas militer berhasil ditekan dalam waktu singkat.

Reaksi Publik dan Pesan Geopolitik

Di media sosial, sejumlah warganet menilai publikasi kesaksian ini bukan kebetulan, melainkan sinyal strategis yang ditujukan kepada Partai Komunis Tiongkok—sebagai pengingat bahwa keunggulan militer AS tidak dapat dikejar hanya dengan investasi besar dalam waktu singkat.

Venezuela, Logam Tanah Jarang, dan Rantai Pasok Global

Di luar isu senjata, fokus internasional kini mengarah pada kepentingan sumber daya di Venezuela. Para analis menilai cadangan logam tanah jarang Venezuela berpotensi mencapai sekitar setengah cadangan Tiongkok. Mengingat Tiongkok dan Iran telah menembus rantai pasok Venezuela secara mendalam, langkah AS dipandang sebagai bagian dari strategi besar restrukturisasi sumber daya global—menghubungkan Belahan Barat dan Asia, dengan Venezuela sebagai salah satu simpul kunci.

Titik Balik Strategis

Dengan latar itu, berbagai kalangan menilai operasi di Venezuela bukan sekadar aksi militer atau pergantian rezim, melainkan titik balik strategis yang dapat membentuk ulang rantai pasok global untuk 10–20 tahun ke depan. Di saat yang sama, sinyal-sinyal dari Washington—di tengah Revolusi Iran hari ke-15—menunjukkan bahwa dinamika geopolitik kawasan dan dunia tengah memasuki fase yang jauh lebih menentukan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dinginnya Respons Trump Soal Kriminalisasi Bos The Fed
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Jalur Rel Tergenang, Penumpang KRL Cikarang Diimbau Naik dari Stasiun Angke
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Penjelasan Lengkap Pemprov Jakarta soal Pembongkaran Tiang Monorel
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Rakernas PDIP di Ancol: Menolak Keras Pilkada Melalui DPRD
• 19 jam laluidntimes.com
thumb
Hujan Deras, Sejumlah Pintu Air di Jakarta Naik ke Status Waspada 
• 23 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.