FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Mantan Komisaris PT Pelni, Dede Budiyarto, menyinggung perbedaan respons publik terhadap banjir yang kembali melanda Jakarta.
Dikatakan Dede, banjir yang terjadi saat ini justru dianggap berlebihan oleh sebagian pihak, berbeda dengan respons keras yang muncul pada masa lalu.
Dede menegaskan, standar penilaian terhadap banjir di Jakarta kerap berubah.
Bukan karena kondisi alamnya, melainkan karena faktor politik dan siapa sosok yang sedang menjabat sebagai gubernur.
“Yang ngomentarin banjir Jakarta hari ini, dibilang lebay,” kata Dede di X @kangdede78 (13/1/2026).
Ia membandingkan dengan situasi sebelumnya, ketika banjir di ibu kota kerap dijadikan bahan kritik, bahkan panggung caci maki terhadap pemerintah daerah.
“Banjir Jakarta dulu, dijadikan panggung caci maki,” sesalnya.
Lanjut Dede, secara substansi tidak banyak yang berubah. Air yang menggenangi wilayah Jakarta tetap sama, namun reaksi publik dan elite politik menunjukkan sikap yang berbeda.
“Airnya sama. Reaksinya beda,” tegasnya.
Dede bilang, perbedaan respons tersebut lebih dipengaruhi oleh penilaian subjektif terhadap figur pemimpin daerah, bukan semata-mata pada persoalan banjir itu sendiri.
“Karena yang dinilai bukan banjirnya, tapi siapa gubernurnya,” kuncinya.
Untuk diketahui, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta kembali menyampaikan laporan terbaru terkait banjir yang melanda sejumlah wilayah ibu kota, Selasa (13/1/2026).
Hingga pukul 07.00 WIB, genangan air masih tercatat di 22 rukun tetangga (RT) dengan ketinggian air bervariasi, mencapai sekitar 35 sentimeter.
Tidak hanya permukiman warga, banjir juga dikabarkan menggenangi lima ruas jalan yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.
“Data sementara menunjukkan masih ada 22 RT dan 5 ruas jalan yang tergenang,” tulis BPBD DKI Jakarta dalam keterangan resminya.
Berdasarkan pemetaan BPBD, kawasan yang terdampak paling parah berada di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat.
Sementara itu, jumlah warga yang terpaksa mengungsi akibat banjir mencapai sekitar 1.137 jiwa, dengan konsentrasi pengungsi terbanyak tercatat berada di Jakarta Utara.
(Muhsin/fajar)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471176/original/015231200_1768279469-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_8.jpg)



