Gen Z, Lumpur Tambak, dan Masa Depan yang Dipertanyakan

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Masihkah Kerja Lapangan seperti Tambak Udang Menarik bagi Generasi Digital?

Di satu sisi, Gen Z dikenal sebagai generasi layar: tumbuh bersama internet, media sosial, dan janji kerja fleksibel berbasis digital. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada sektor-sektor berbasis kerja lapangan, salah satunya tambak udang, yang menopang ekspor, ketahanan pangan, dan ekonomi pesisir. Pertanyaannya kemudian mengemuka: apakah Gen Z masih minat dan tertarik bekerja di lapangan seperti di tambak udang, atau sektor ini sedang menuju krisis regenerasi tenaga kerja?

Pertanyaan ini tidak sesederhana 'Gen Z malas kerja kasar'. Justru, dibalik rendahnya minat kerja lapangan, tersembunyi persoalan struktural yang lebih dalam: cara kerja lapangan dimaknai, dikelola, dan ditawarkan sebagai masa depan.

Persepsi Kerja Lapangan di Mata Gen Z

Bagi banyak Gen Z, kerja lapangan - termasuk di tambak udang - kerap diasosiasikan dengan panas, bau, jam kerja panjang, risiko tinggi, dan minim pengakuan sosial. Persepsi ini sejalan dengan temuan White (2022) yang menyebut bahwa generasi muda cenderung menghindari sektor primer bukan karena tidak mau bekerja keras, tetapi karena pekerjaan tersebut dipersepsikan tidak menawarkan mobilitas sosial dan pengembangan diri.

Di tengah narasi sukses startup, remote work, dan gig economy, kerja lapangan sering tertinggal sebagai simbol pekerjaan 'tradisional'. Padahal, sektor tambak udang modern sesungguhnya telah jauh bergeser, menggunakan teknologi biosekuriti, sensor kualitas air, dan manajemen produksi berbasis data. Ironisnya, perubahan teknologi tidak selalu diikuti perubahan cara memperlakukan manusia.

Bukan Gen Z yang Berubah, tapi Harapan terhadap Kerja

Berbagai studi menunjukkan bahwa Gen Z memiliki etos kerja yang berbeda, bukan lebih rendah. Mereka menuntut makna, keadilan, dan peluang berkembang. Twenge et al. (2019) menegaskan bahwa generasi muda lebih menghargai pekerjaan yang selaras dengan nilai pribadi, keberlanjutan, dan dampak sosial, dibanding sekadar stabilitas pendapatan.

Dalam konteks tambak udang, masalah muncul ketika kerja lapangan hanya diposisikan sebagai aktivitas fisik berulang, tanpa jalur karier yang jelas. Banyak posisi lapangan tidak memiliki career path yang terstruktur: dari teknisi ke supervisor, dari supervisor ke manajer, atau dari pekerja ke wirausaha. Akibatnya, Gen Z melihat tambak sebagai 'jalan buntu', bukan 'jalan tumbuh'.

Realitas Kerja Lapangan: Berat, tapi Tak Selalu Salah

Perlu diakui, kerja di tambak udang memang tidak ringan. Risiko penyakit, kegagalan panen, tekanan target produksi, dan ketergantungan pada faktor alam menjadikannya pekerjaan dengan beban fisik dan mental tinggi. ILO (2021) mencatat bahwa sektor perikanan budidaya termasuk dalam kategori pekerjaan dengan tingkat risiko kerja dan stres yang signifikan.

Namun, beratnya kerja bukanlah alasan utama penolakan Gen Z. Banyak Gen Z bersedia bekerja intensif di dunia kreatif, logistik, atau startup dengan jam kerja panjang, asal ada kompensasi, pembelajaran, dan pengakuan. Artinya, yang dipersoalkan bukan kerja kerasnya, tetapi ketimpangan antara beban kerja dan imbalan non-materi seperti penghargaan, pembelajaran, dan masa depan.

Sisi Lain: Tambak Udang sebagai Ruang Masa Depan

Menariknya, di tengah rendahnya minat umum, mulai muncul ceruk Gen Z yang justru tertarik pada sektor tambak udang. Biasanya, mereka adalah Gen Z yang bersentuhan dengan isu keberlanjutan, blue economy, dan kewirausahaan berbasis sumber daya lokal. FAO (2020) menekankan bahwa akuakultur - termasuk budidaya udang - akan menjadi tulang punggung pangan global, membuka peluang besar bagi generasi muda.

Tambak udang modern bukan lagi sekadar 'kolam dan pakan', melainkan ekosistem produksi pangan yang kompleks: kualitas air, manajemen limbah, biosekuriti, dan efisiensi energi. Bagi Gen Z yang tertarik pada teknologi terapan dan isu lingkungan, ini sebenarnya ladang belajar yang kaya, jika dikemas dengan benar.

Masalah Utama: Budaya Kerja yang Tertinggal

Salah satu penghambat terbesar minat Gen Z adalah budaya kerja lapangan yang belum berevolusi. Banyak tambak masih menerapkan gaya kepemimpinan otoriter, komunikasi satu arah, dan minim ruang dialog. Padahal, penelitian Hochman & Gavish (2021) menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan partisipatif dan suportif sangat berpengaruh terhadap keterikatan kerja generasi muda.

Gen Z terbiasa dengan umpan balik cepat, keterbukaan, dan rasa dihargai. Ketika mereka masuk ke lingkungan kerja lapangan yang menormalisasi bentakan, lembur tanpa kejelasan, dan minim apresiasi, ketertarikan itu cepat memudar. Dalam konteks ini, tambak kehilangan bukan karena Gen Z tidak mau turun ke lumpur, tetapi karena lumpur itu tidak menawarkan masa depan.

Apa yang Sebenarnya Dicari Gen Z dari Kerja Lapangan?

Berbagai riset SDM menyimpulkan bahwa Gen Z mencari empat hal utama dalam pekerjaan: makna, pembelajaran, keadilan, dan arah karier (Deloitte, 2023). Dalam kerja lapangan seperti tambak udang, ini dapat diterjemahkan menjadi:

1. Kejelasan peran dan jenjang karier, bukan status 'team kolam' permanen.

2. Kesempatan belajar dan sertifikasi, baik teknis maupun manajerial.

3. Lingkungan kerja manusiawi, termasuk keselamatan, jam kerja rasional, dan komunikasi sehat.

4. Narasi profesi yang bermartabat, sebagai produsen pangan strategis, bukan tenaga kasar.

Jika empat hal ini hadir, kerja lapangan justru dapat menjadi alternatif karier yang kuat, bahkan kompetitif dengan sektor lain.

Gen Z Masih Mau Turun ke Tambak, Jika Ada Perubahan

Apakah Gen Z masih minat kerja lapangan seperti di tambak udang? Jawabannya: ya, tapi dengan syarat. Bukan sekadar gaji, melainkan perubahan cara pandang terhadap kerja lapangan itu sendiri. Tambak udang tidak kekurangan teknologi, tetapi sering kekurangan visi pengelolaan manusia.

Jika kerja lapangan terus dipertahankan dalam format lama - keras, tertutup, dan tanpa masa depan - maka krisis regenerasi akan nyata. Namun, jika tambak udang berani naik kelas sebagai ruang belajar, karier, dan kontribusi bagi keberlanjutan, Gen Z tidak akan ragu untuk turun ke lapangan.

Pada akhirnya, Gen Z tidak meninggalkan lumpur.

Mereka meninggalkan sistem kerja yang tidak menawarkan harapan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tak Ingin Ada Korban Ancaman Lagi, Aurelie Moeremans Enggan Repost Dukungan
• 12 jam laluinsertlive.com
thumb
Revitalisasi Kilang Balikpapan, RI Pangkas Impor 5,8 Juta KL Bensin
• 40 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Respons Cepat Pemkab Takalar, Kadis Sosial Serahkan Bantuan ke Korban Terdampak Bencana
• 18 jam laluharianfajar
thumb
KPK Dalami Bupati Ponorogo Sugiri Gunakan Rekening Ajudan Jadi Penampung Suap
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Muchdi PR Percayakan Jabatan Sekjen Partai Berkarya ke Anak Muda 28 Tahun, Strategi Gaet Pemilih Muda di 2029
• 14 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.